Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Rabu, 21 Januari 2009

TAWURAN PELAJAR

TAWURAN PELAJAR

Tawuran banyak terjadi pada kalangan pelajar. Pemicunya sering kali bukan hal yang penting. Kebanyakan hal sepele dapat memprovokasi teman-temannya untuk melakukan perlawanan. Akibatnya perkelaian tidak dapat dihindarkan. Anehnya lagi, saat ini muncul fenomena bahwa perkelaian tidak hanya didominasi anak laki-laki. Geng Nerro di Pati Jawa Tengah dan perkelaian remaja putri yang terjadi di Mandala Krisda Yogyakarta, merupakan contoh konkritnya. Bentuk perkelaian remaja putri ini membelalakkan mata setiap pembaca berita dan pemirsa televisi. Rambut yang seharusnya merupakan mahkota bagi kaum hawa, berubah menjadi alat yang membahayakan. Rambut digunakan sebagai alat untuk dianiaya dengan dikoyak-koyak. Kalau banyak geng remaja putri terbentuk, bisa muncul kecenderungan banyak anak putri memotong rambutnya sependek mungkin. Benarkah telah terjadi persamaan gender? Haruskah demikian menterjemahkan persamaan gender?

Pelajar laki-laki lebih memprihatinkan lagi dalam perkelaian. Salah satu pelajar di Jakarta Barat, ketahuan membawa golok saat berkelai. Dalam benak terlintas bahwa pelajar ini sudah punya niat dan strategi yang akan dilakukan saat di medan perkelaian. Miris sekali kalau dibayangkan. Sifat anarkis muncul saat mereka masih pelajar.

Usia remaja memang merupakan usia yang penuh gejolak. Setiap remaja melakukan aktualisasi diri untuk menemukan jati dirinya. Kesepakatan geng mempengaruhi pelajar menemukan jati dirinya. Remaja putri yang seharusnya mempunyai kepribadian lembut dan santun berubah menjadi brutal dan membabi buta untuk mempertahankan eksistensi gengnya. Norma-norma kesopanan yang diberikan dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat tidak mampu membendung ekspresi berkelahi. Bagaimana jati diri yang mereka temukan?

Bimbingan yang intensif dari semua pihak sangat diperlukan. Bimbingan yang diberikan juga menyesuaikan dengan keadaan mereka. Cara membimbing yang kurang tepat dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan siswa kepada orang yang membimbing. Hal ini bisa memperkuat mereka merasa nyaman digengnya. Hak-hak anak harus tetap dijamin dan dilindungi sesuai Undang-undang RI No. 23 tahun 2002. Tetapi dalam memperoleh hak-haknya, sepatutnya anak diarahkan pada hal-hal yang sesuai dengan akhlak mulia. Pihak yang patut memikirkan masa depan mereka bukan hanya orang tua, tetapi saudara, masyarakat sekitar bahkan pemerintah dan negara.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal merupakan bagian dari masyarakat. Tanggung jawab sekolah juga besar untuk membentuk pribadi peserta didik. Pendidikan mencakup spiritual keagamaan, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Pendidikan yang dilakukan tidak hanya dari segi kecerdasan, tetapi juga menyangkut ketrampilan, keagamaan dan akhlak mulia. Taksonomi tujuan pendidikan menurut Bloom et al., ada tiga ranah yaitu kognitif, psikomotor dan afektif. Ranah kognitif meliputi kecerdasan terutama prestasi peserta didik secara akademik. Contoh ranah psikomotor adalah ketrampilan. Ranah afektif misalnya akhlak mulia. Pendidikan sepatutnya mengembangkan tiga ranah tersebut, sehingga dapat membentuk pribadi yang tanggu.

Kurikulum sekolah juga berperan aktif melakukan perbaikan. Banyak kurikulum sudah berlangsung silih berganti. Sejak tahun 2004 berlaku Kurikulum berbasis kompetensi (KBK). Kemudian tahun 2006 ada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Dalam KBK dan KTSP ada perubahan yang mendasar. Kedua kurikulum tersebut menonjolkan tiga ranah tujuan pendidikan secara berimbang. Sekolah harus melaporkan tiga ranah hasil belajar siswa. Berbeda dengan Kurikulum sebelumnya, lebih menekankan ranah kognitif. Hasil kurikulum ini dapat dilihat perkembangan generasi berikutnya.

Siswa berada dilingkungan sekolah hanya sekitar 6-8 jam. Sisa waktu lebih banyak dihabiskan dilingkungan luar sekolah. Waktu luang ini bisa memberikan kesempatan siswa untuk melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan. Orang tua, teman bermain dan masyarakat ikut andil dalam membantu pelajar menemukan jati dirinya. Keberhasilan memerlukan keterpaduan semua pihak.

1 komentar:

  1. kata.ya cerPEn tapi KOq pANJJANg Mat Cerita.ya.......

    BalasHapus

POSTING TERBARU