Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Kamis, 22 Januari 2009

MASALAH KESULITAN BELAJAR

MASALAH KESULITAN BELAJAR

v Kesulitan Belajar dan Alternatif Pemecahannya

Setiap siswa pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang untuk mencapai kinerja akademik (Academic Performance) yang memuaskan. Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa siswa itu memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik, latar belakang keluarga, kebiasan dan pendekatan belajar yang terkadang sangat mencolok antara seorang siswa dengan siswa lainnya.

Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan disekolah-sekolah kita pada umumnya hanya ditunjukkan kepada para siswa yang berkemampuan rata-rata sehingga siswa yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan kurang terabaikan. Dengan demikian, siswa-siswa yang berkategori “diluar rata-rata” itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan yang memadahi untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini kemudian timbullah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty) yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetap juga dialami oleh siswa yang berkemampuan tinggi.

1. Faktor-faktor kesulitan belajar

Secara garis besar, factor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar terdiri atas dua macam :

1). Faktor Intern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang muncul dari dalam diri siswa sendiri.

2). Faktor ekstern siswa, yakni hal-hal atau keadaan-keadaan yang dating dari luar diri siswa.

  1. Faktor Intern Siswa

Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekuran mampuan psiko-fisik siswa, yakni :

1) Yang bersifat kognitif (ramah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual / intelegensi siswa.

2) Yang bersifat efektif (ramah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap.

3) Yang bersifat psikomotor (ramah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihatan dan pendengar (mata dan telinga)

  1. Faktor Ekstern Siswa

Faktor eksern siswa meliputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar, yang tidak mendukung aktifitas belajar siswa. Factor ini dibagi tiga macam :

1) Lingkungan keluarga

2) Lingkungan perkampungan / masyarakat

3) Lingkungan sekolah

Selain faktor-faktor umum diatas, ada pula faktor-faktor lain yang juga menimbulkan kesulitan belajar siswa. Diantara faktor-faktor yang dapat dipandang sebagai factor khusus ini adalah sindrom psikologis berupa Learning disability (ketidakmampuan belajar) sindrom (Syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai indicator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan kesulitan belajar itu.

1. Disleksia (dyslexia) : ketidakmampuan belajar membaca

2. Disgrapia (dysgraphia) : ketidakmampuan belajar menulis

3. Diskalkulia (dyscalculia) : ketidakmampuan belajar matematika

2. Diagnosis Kesulitan Belajar

Banyak langkah-langkah diagnostic yang dapat ditempuh guru, antara lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Sent ( 1982) sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut :

1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.

2. Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.

3. Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal-hal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar.

4. Memberikan tes diagnostic bidang kecakapan tertentu untuk mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.

5. Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

3. Alternatif Pemecahan Kesulitan Belajar

Sebelum memilih alternatif tertentu guru sangat diharapkan untuk terlebih dahulu melakukan beberapa langkah penting sebagai berikut :

1. Menganalisa hasil diagnosis, yakni menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antar bagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa.

2. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.

3. Menyusun program perbaikan, khususnya program remedial teaching (pengajaran perbaikan).

Setelah langkah-langkah di atas selesai, barulah guru melaksanakan langkah keempat, yaitu melaksanakan program perbaikan

  1. Analisis Hasil Diagnosis
  2. Menentukan Kecakapan Bidang Bermasalah

Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam :

1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri.

2. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani guru dengan bantuan orang lain.

  1. Menyusun Program Perbaikan

Dalam hal menyusun program pengajaran perbaikan (remedial teaching), sebelumnya guru perlu menetapkan hal-hal sebagai berikut :

1. Tujuan pengajaran remedial

2. Materi pengajaran remedial

3. Metode pengajaran remedial

4. Alokasi waktu pengajaran remedial

5. Evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.

  1. Melaksanakan Program Perbaikan

Program pengajaran remedial ini lebih cepat dilaksanakan tentu saja akan lebih baik. Tempat penyelenggaraannya bisa di mana saja, asal tempat itu memungkinkan siswa klien (siswa yang memerlukan bantuan) memusatkan perhatiannya terhadap proses pengejaran perbaikan tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU