Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Juli 2009

SEJARAH MUSEUM MPU TANTULAR


SEJARAH MUSEUM MPU TANTULAR


Salah satu museum yang cukup legendaries di Surabaya sebenarnya adalah Museum Mpu Tantular milik propinsi Jawa Timur. Namun karena lokasinya yang semula berada di sudut Jl. Mayangkara-Darmo (depan kebun binatang Surabaya) direlokasi ke Sidoarjo, citra Museum Mpu Tantular seakan juga pindah kekota Delta dengan keunggulan dan keterbatasannya. Sejak 14 Mei 2004 Museum Mpu Tantular resmi pindah ke Sidoarjo.
Museum Mpu Tantular ternyata memiliki sejara tersendiri yang cukup panjang. Museum Mpu Tantular merupakan kelanjutan dari stedelijk Historich Museum Surabaya yang didirikan oleh Von Faber, seorang kolektor berkebangsaan Jerman yang sudah menjadi warga Surabaya. Usaha Von Faber untuk mendirikan museum ini sebenarnya sudah dirintis sejak tahun 1922, tetapi baru tahun 1933 bisa terwujud. Sedangkan pembukaan secara resmi dilaksanakan pada tanggal 25 Juni 1933.
Museum ini pada mulanya terletak di Raadhius Ketabang, kemudian pindah ke Jl. Tegal Sari. Lalu pindah ke Jl. Pemuda 3 Surabaya (sekarang SMU Trimurti) dan berikutnya pindah lagi ke Jl. Taman Mayangkara 6 Surabaya. Selanjutnya pada tanggal 14 Mei 2004 baru menempati lokasi tetap di Jl. Rata Buduran (sebelah barat jembatan Buduran) Sidoarjo.
Seiring perjalanan waktu, nama museum ini juga mengalami perubahan beberapa kali. Kali pertama nama Stedelijk Historich museum Surabaya pada tahun 1972 diubah menjadi Museum Jawa Timur dan baru pada 1 November 1974 diresmikan dengan nama Museum Negeri Propinsi Jawa Timur “Mpu Tantular” nama Mpu Tantular diberikan sebagai wujud penghormatan Negara atas mengabadikan pujangga besar Majapahit, pengarang kitab Arjunawiwaha dan Sutasoma yang didalamnya terkandung falsafah Bhinneka Tunggal Ika yang dijadikan sebagai semboyan bangsa kita Indonesia.
Museum Mpu Tantular sebagai tempat belajar memiliki orientasi mengomunikasikan koleksi dan kegiatannya kepada masyarakat lewat koleksi dan kegiatannya kepada masyarakat lewat koleksi-koleksinya. Pada tahun anggaran 2005 koleksi museum Mpu Tantular berjumlah sekitar 15.000 buah yang digolongkan menjadi 10 jenis yaitu koleksi Geologio, Biologi, Etnografi, Arkeologi, Histori, Numismatik, heraldic, filologi, keramik, seni rupa dan teknologi.
Karena keterbatasan ruang pameran maka baru sebagian kecil saja koleksi musem yang bisa dipamerkan, yang lainnya masih disimpan di storage.

Sabtu, 21 Februari 2009

Penurunan Bendera Belanda dari Puncak Hotel Yamato

Penurunan Bendera Belanda dari Puncak Hotel Yamato (19 September 1945)

Pada tanggal 3 september 1945 pemerintah RI di Surabaya terbentuk. Pemerintah segera mengumumkan larangan untuk mengibarkan bendera di seluruh kota, kecuali bendera merah putih.

Ada sejumlah orang Belanda indo yang berhasil melarikan diri dari penjara menentang larangan ini. Kesombongan mereka muncul, ketika tersebar pamflet udara yang mengabarkan akan datangnya pasukan sekutu, yang ternyata kemudian bermaskas di Hotel “Yamato” (sekarang : hotel LMS). Waktu itulah Belanda-belanda itu mengibarkan bendera “Merah Putih Biru” yang merupakan bendera Belanda.

Tindakan provokatif (bersifat memancing) itu menimbulkan amarah pada pemuda surabaya. Mereka ramai-ramai memprotesnya. Akan tetapi, karena tidak digubris, terjadilah insiden perkelahian. Beberapa orang pemuda naik ke puncak hotel. Diturunkan bendera belanda itu, dirobeknya bagian yang birunya, lalu dinaikkan kembali menjadi bendera merah putih. Itulah insiden pertama arek-arek suroboyo menghadapi sekutu / Belanda

Sabtu, 24 Januari 2009

Penyebaran dan Perkembangan Islam

Penyebaran dan Perkembangan Islam

A. Perkembangan Ajaran Islam dan Kebudayaan

Sejak abad ke 20, Islam kembali menampakkan kekuatannya dalam menata diri, menuju peradaban baru yang ditandai dengan lahirnya gerakan pembaharuan pemikiran. Proses gerakan pembaharuan muncul dipengaruhi oleh dua hal berikut ini :

1. Munculnya kesadaran di kalangan para ulama Islam bahwa ajaran Islam telah banyak dipengaruhi berbagai tradisi dan ajaran yang asing sehingga terjadi sinkretisme seperti bid’ah, takhayul, dan khurafat. Hal tersebut dipandang sebagai penyebab kemunduran bagi dunia Islam, oleh karena itu untuk mengikis dan menghilangkan pengaruhnya, umat islam harus menyadari akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

2. Persentuhan dunia barat yang saat itu sudah maju dengan para pemimpin dan ulama islam telah memacu serta mendorong mereka untuk berpikir maju dan kritis dalam menata kehidupan modern yang lebih baik sehingga tercipta balance of power. Sejalan dengan itu, terjadi pengiriman para pelajar ioslam dari berbagai ilmu pengetahuan ke dunia barat sehingga menambah dan mempertajam analisis pemikiran mereka untuk maju.

Gerakan pembaharuan pemikiran islam dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703 – 17-37 M) di Arab Saudi. Gerakan ini disebut dan dikenal dengan gerakan Wahabiyah, kemudian, disusul dengan munculnya syech Walyullah (1703 – 1762 M) di India dan gerakan Sanusiyah di sambut dengan baik di dukung oleh pemikir dan ulama Islam, yaitu Jamaludin Al – Afghani (1839 – 1897). Gerakan pembaharuan pemikiran yang dipelopori olehnya dilandasi semangat kebersamaan dan penghindaran konflik, serta perselisihan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dalam Islam. Oleh karena kepeloporan tersebut, Jamaludin Al Afghani disebut bapak Nasionalisme Islam. Gerakan ini berusaha menambah semangat nasionalisme dan menyadarkan umat Islam akan hak dan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai umat yang harus bangkit dan maju menuju kemajuan yang lebih baik.

B. Tokoh – tokoh atau Golongan Pembawa Agama Islam

Pendapat para ahli mengenai golongan pembawa Islam ke Indonesia umumnya menunjukkan persamaan. Penyebaran Islam berikutnya dilakukan oleh juru dakwah atau ulama setempat di mana beberapa diantaranya mungkin telah pergi atau pusat agama Islam lainnya guna memperdalam pengetahuan agama Islam setelah itu mereka menyebarkan ke daerah-daerah pelosok lainnya di kepulauan Indonesia. Diantara para penyebar islam setempat ini terdapat sekelompok orang terkemuka yang dikenak dengan sebutan Wali Songo.

Wali songo berasal dari kata “Wali” dan “Songo”, wali merupakan kata arab yang berarti sangat tinggi dalam dunia Islam. Biasanya, kata itu diterjemahkan sebagai orang suci dalam bahasa Jawa, wali juga dapat diartikan sebagai rasul. Kata “Sanga” sendiri berarti sembilan. Dengan demikian wali songo itu berarti sembilan orang wali Ullah (Wali Allah).

Anggota wali Songo ialah Syech Maulana Malik Ibrahim, Sunan Amepl, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Selain kesembilan orang tersebut, masih ada sejumlah ulama lainnya yang dianggap sebagai wali oleh para pengikutnya. Diantara mereka terdapat syekh Siti Jenar atau syeh lemah abang. Bahkan ada cerita kalau sebenarnya syek siti Jenar itu sebelumnya merupakan anggota wali songo. Akan tetapi, ajarannya dianggap menyimpang sehingga dia dikeluarkan dan dihukum mati. Proses islamisasi yang dilakukan oleh para wali ini sendiri memiliki ciri sangat menarik sehingga membedakan islam di Jawa dengan di kepulauan indonesia lainnya. Islam di jawa terkenal sangat “sinkretis” artinya banyak memadukan unsur – unsur masyarakat setempat dengan ajaran islam. Sinkretisme lainnya terlihat dalam hal arsitektur masjid. Sebagai contoh, menara masjid buatan sunan kudus memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda dengan candi Hindu. Hal itu sendiri dimaksudkan agar orang-orang Hindu merasa akrab dan tidak merasa takut atau segan mengunjungi masjid untuk mendengarkan ceramah Sunan Kudus.

Selain kelompok wali sanga ini masih ada penyebar Islam setempat lainnya. Diantara mereka Dato’ri Bandang yang menyebarkan Islam di Gowa, serta Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang parangan yang menyebabkan agama Islam di Kutai. Kadangkala para juru dakwa ini dianggap sebagai orang suci dan dikeramatkan oleh kalangan penduduk yang di Islamkan.

C. Golongan Penerima Peninggalan Agama Islam

Gambaran mengenai cari-cara Islamisasi di Indonesia seperti ini sering kita ketahui dari cerita-cerita dalam babad dan Hikayat, misalnya sejarah Banten, babad Tanah Jawa. Dan Hikayat raja raja pasai. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran seperti mistik Indonesia Hindu ialah Hamzah Fansuri, Syekh Lemah Abang, dan sunan Panggung. Ajaran mistik semacam itu juga terdapat pada abad ke – 19, seperti Sumarah, Sapta Darmo, Bratakesawa, dan Pangestu.

1. Pendidikan

Penyebaran Islam juga dilakukan melalui pendidikan pesantren, merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Pembinaan calon guru – guru agama, Kiai, atau ulama dilakukan di tempat ini pada masa pertumbuhan awal Islam di Jawa, terdapat Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang mendirikan pesantren Sunan Giri juga terkenal sampai daerah Maluku. Dalam perkembangannya, banyak raja dan kaum bangsawan yang mendatangkan para Kiai atau ulama sebagai guru atau penasehat agama.

2. Kesenian

Islamisasi juga dilakukan melalui cabang-cabang kesenian, seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Hasil hasil seni bangunan ini dapat dilihat pada bangunan masjid-masjid kuno di Demak, Cirebon, Banten, dan Aceh. Diantara berbagai kesenian itu, pertunjukkan wayang adalah alat islamisasi yang terkenal. Menurut cerita, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dalam pementasannya, sebagai ganti upah dia minta agar para penonton mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagaian besar cerita wayangnya masih di petik dari Kisah Mahabaratta dan Ramayana. Upaya islamisasi wayang terlihat pada upaya menghubungkan nama panah kalimasada, suatu senjata paling ampuh di dalam lakon wayang dengan kalimat syahadat yaitu pengakuan Iman islam kepada Allah dan Nabi Muhammad. Dalam hal kesusasteraan, islamisasi dilakukan dalam naskah lama masa peralihan kepercayaan yang ditulis dalam bahasa dan huruf daerah. Contohnya Primbon – primbon abad ke – 16 seperti yang di susun oleh Sunan Bonang.

Sabtu, 10 Januari 2009

Kisah Sunan Ampel

SUNAN AMPEL

1. ASAL USUL SUNAN AMPEL

Kenalkah anda dengan daerah Bukhara ? Bukhara ini terletak di samarqand. Sejak dahulu daerah yang disebut Bukhara. Sejak dahulu daerah samarqand dikenal sebagai daerah islam yang menelorkan ulama-ulama besar seperti sajana hadist terkenal yaitu Imam Bukhari yang mashur sebagai pewaris hadist sahih.

Di Samarqand ini ada seorang ulama besar bernama syekh Jamalludin Jumadil Kubro, seorang ahlussunah bermahzab syafi’i, beliau mempunyai seorang putra bernama Ibrahim. Karena berasal dari Samarqand maka Ibrahim kemudian mendapat tambahan Samarqandhi. Orang jawa sangat sukar mengucapkan Samarqandi maka mereka hanya menyebutkannya sebagai syekh Ibrahim Asmarakandi.

Syekh Ibrahim Asmarakandi ini diperintah oleh ayahnya yaitu Syekh Jamalludin Jumadil Kubra utuk berda’wah ke negara-negara asia. Perintah ini dilaksakan, dan beliau kemudian diambil menantu oleh raja Cempa, dijodohkan dengan putri raja Cempa yang bernama Dewi Candrawulan.

Negara Cempa ini menurut ahli sejarah terletak di Muangthai. Dari perkawinannya dengan dewi Candrawulan maka Ibrahim Asmarakandi mendapat dua putra yaitu Sayyid Ali Rahmatullah dan Sayyid Ali Murtadho. Sedangkan adik Dewi Candrawulan yang bernama Dewi Dwarawati diperistri oleh Prabu Brawijaya Majapahit. Dengan demikian keduanya adalah keponakan Ratu Majapahit dan tergolong putra bangsawan atau pangeran kerajaan. Para pengeran atau bangsawan kerajaan pada waktu itu mendapat gelar Rahadian yang artinya Tuanku, dalam proses selanjutnya sebutan ini cukup dipersingkat menjadi Raden.

Raja Majapahit sangat senang mendapat istri dari negeri Cempa yang wajahnya dan kepribadiannya sangat memikat hati. Sehingga istri-istri lainnya diceraikan, banyak yang diberikan kepada para adipatinya yang tersebar di seluruh Nusantara. Salah satu contoh adalah istri yang bernama Dewi Kian, seorang putri cina yang diberikan kepada Adipati Ario Damar di Palembang.

Ketika Dewi Kian di ceraikan dan diberikan kepada Ario Damar saat itu sedang hamil tiga bulan. Ario Damar tidak diperkenankan menggauli putri Cina itu sampai si jabang bayi terlahir ke dunia. Bayi dari rahim Dewi Kian itulah yang nantinya bernama Raden Hasan atau lebih terkenal dengan nama Raden Patah, salah seorang murid sunan Ampel yang menjadi raja di Demak Bintoro.

Kerajaan Majapahit sesudah ditinggal Mahapatih Gajah Mada dan Prabu Hayam Wuruk mengalami kemunduran drastis. Kerajaan terpecah belah karena terjadinya perang saudara, dan para adipati banyak yang tak loyal lagi kepada keturunan Prabu Hayam Wuruk yaitu prabu Brawijaya Kertabhumi.

Pajak dan upeti kerajaan tak banyak yang sampai ke Istana Majapahit. Lebih sering dinikmati oleh para adipati itu sendiri. Hal ini membuat sang Prabu bersedih hati. Lebih-lebih dengan adanya kebiasaan buruk kaum bangsawan dan para pangeran yang suka berpesta pora dan main judi sera mabuk-mabukkan. Prabu Brawijaya sadar betul bila kebiasaan semacam itu diterukan negara akan menjadi lemah dan jika negara sudah kehilangan kekuatan betapa mudahnya bagi musuh untuk menghancurkan Majapahit Raya.

Ratu Dwarawati, yaitu istri Prabu Brawijaya mengetahui kerisauan hati suaminya. Dengan memberanikan diri dia mengajukan pendapat kepada suaminya. “Saya mempunyai seorang keponakan ahli mendidik dalam hal mengatasi kemerosotan budi pekerti,” kata ratu Dwarawati.

“Betulkah?” tanya sang prabu. “Ya, namanya Sayyid Ali Rahmatullah, putra dari kanda Dewi Candrawulan di Negeri Cempa. Bila kanda berkenan saya akan meminta Ramanda Prabu di Cempa untuk mendatangkan Ali Rahmatullah ke Majapahit ini.”

“Tentu saja aku akan merasa senang bila Rama Prabu di Cempa bersedia mengirimkan Sayyid Ali Rahmatullah ke Majapahit ini. Kata Raja Brawijaya.

2. KE TANAH JAWA

Mala pada suatu hari diberangkatkanlah utusan dari Majapahit ke negeri Cempa untuk meminta Sayyid Ali Rahmatullah datang ke Majapahit. Kedatangan utusan Majapahit disambut gembira oleh raja Cempa, dan raja Cempa tidak keberatan melepas cucunya ke Majapahit untuk meluaskan pengalaman.

Keberangkatan Sayyid Ali Rahmat ke Tanah Jawa tidak sendirian. Ia ditemani oleh ayah dan kakaknya. Sebagaimana disebutkan diatas, ayah Sayyid Ali Rahmat adalah Syekh Ali Murtadho. Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit melainkan mendarat di Tuban. Tetapi di Tuban, tepatnya di desa Gesikharjo, syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.

Sayyid Murtadho kemudian meneruskan perjalanan, beliau berdakwa keliling ke daerah Nusa Tenggara, Madura dan sampai ke Bima. Di sana beliau mendapat sebutan raja Pandhita Bima. Dan akhirnya berda’wa di Gresik mendapat sebutan Raden Santri, beliau wafat dan dimakamkan di Gresik. Sayyid Ali Rahmatullah meneruskan perjalanan ke Majapahit menghadap Prabu Brawijaya sesuai permintaan Ratu Dwarawati.

Kapal layar yang ditumpanginya mendarat di Pelabuhan Canggu. Kedatangannya disambut dengan suka cita oleh Prabu Kertabumi. Lebih-lebih Ratu Dwarawati bibinya sendiri wanita itu memeluknya erat-erat seolah-olah sedang memeluk kakak perempuannya yang berada di istana Kerajaan Cempa. Wajah keponakannya itu memang mirip dengan kakak perempuannya.

“Nanda Rahmatullah, bersediakah engkau memberikan pelajaran atau mendidik kaum bangsawan ddan rakyat Majapahit agar mempunyai budi pekerti muliah?” tanya sang Prabu setelah Sayyid Rahmatullah beristirahat melepas lelah. Dengan sikapnya yang sopan tutur kata halus Sayyid Ali Rahmatullah menjawab. “Dengan senang hati Gusti Prabu, saya akan berusaha sekuat-kuatnya untuk mencurahkan kemampuan saya mendidik mereka.”

“Bagus!” sahut sang Prabu. “Bila demikian kau akan kuberi hadiah sebidang tanah berikut bangunan di Surabaya. Di sanalah kau akan mendidik para bangsawan dan pangeran Majapahit agar berbudi pekerti mulia.”

“Terima saya haturkan Gusti Prabu,” Jawab Sayyid Ali Rahmatullah. Disebutkan dalam literatur bahwa selanjutnya Sayyid Ali Rahmatullah menetap beberapa hari di istana Majapahit dan dijodohkan dengan salah satu putri Majapahit yang bernama Dewi Condrowati atau Nyai Ageng Manila. Dengan demikian Sayyid Ali Rahmat adalah seorang Pangeran Majapahit, karena dia adalah menantu raja Majapahit.

Semenjak Sayyid Ali Rahmatullah diambil menantu Raja Brawijaya maka beliau adalah anggota keluarga kerajaan Majapahit atau salah seorang pangeran, para pangeran pada jaman dulu ditandai dengan nama depan Rahadian atau Raden yang berarti Tuanku. Selanjutnya beliau lebih dikenal dengan sbutan Raden Rahmat.

3. AMPELDENTA

Selanjutnya, pada hari yang telah ditentukan berangkatlah rombongan Raden Rahmat ke sebuah daerah di Surabaya yang kemudian disebut sebagai Ampeldenta.

Rombongan itu melalui desa Krian, Wonokromo terus memasuki kembangkuning. Selama dalam perjalanan beliau juga berdakwa kepada penduduk setempat yang dilaluinya. Dakwah yang pertama kali dilakukannya cukup unik. Beliau membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuh-tumbuhan tertentu dan anyaman rotan. Kipas-kipas itu dibagi bagikan kepada penduduk setempat secara gratis. Para penduduk hanya cukup menukarnya dengan kalimah syahadat.

Penduduk yang menerima kipas itu merasa sangat senang. Terlebih setelah mereka mengetahui kipas itu bukan sembarang kipas, akar yang dianyam bersama rotan itu berdaya penyembuh bagi mereka yang terkena penyakit batuk dan demam. Dengan cara itu semakin banyak orang yang berdatangan kepada Raden Rahmat. Pada saat demikianlah ia memperkenalkan keindahan agama Islam sesuai tingkat pemahaman mereka.

Cara itu terus dilakukan hingga rombongan memasuki desa Kembangkuning. Pada saat itu wilayah desa kembangkuning belum seluas sekarang ini. Di sana sini masih banyak hutan dan digenangi air atau rawa-rawa. Dengan karomahnya Raden Rahmat beserta rombongan membuka hutan dan mendirikan tempat sembahyang sederhana atau langgar. Tempat sembahyang tersebut telah berubah menjadi Masji yang cukup besar dan bagus, dinamakan sesuai dengan nama Raden Rahmat yaitu Masjid Rahmat Kembangkuning.

Di tempat itu pula Raden Rahmat bertemu dan berkenalan dengan dua tokoh masyarakat yaitu ; Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang kuning. Kedua tokoh masyarakat itu bersama keluarganya masuk islam dan menjadi pengikuti Raden Rahmat.

Dengan adanya ketua tokoh masyarakat itu maka semakin mudah bagi Raden Rahmat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat sekitarnya. Terutama kepada masyarakat yang masih memegang teguh adat kepercayaan lama. Beliau tidak langsung melarang mereka, melainkan memberikan pengertian sedikit demi sedikit tentang pentingnya ajaran ketauhidan. Jika pencipta Alam, maka secara otomatis mereka akan meninggalkan sendiri kepercayaan lama yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Setelah sampai di tempat tujuan, pertama kali yang dilakukannya adalah membangun Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah, ini meneladani apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW saat pertama kali sampai di Madinah.

Dan karena beliau menetap di desa Ampeldenta, menjadi penguasa daerah tersebut maka kemudian beliau dikenal sebagai Sunan Ampel. Sunan berasal dari kata susuhunan, artinya yang di Junjung tinggi atau panutan masyarakat setempat. Ada juga yang mengatakan sunan berasal dari kata Suhu Nan artinya Guru besar atau orang yang berilmu tinggi.

Selanjutnya beliau mendirikan pesantren tempat mendidik putra bangsawan dan pangeran Majapahit serta siapa saja yang mau datang berguru kepada beliau.

4. AJARANNYA YANG TERKENAL

Hasil didikan beliau yang terkenal adalah falsafah Moh Limo atau tidak melakukan lima hal tercela yaitu :

1. Moh main atau tidak mau berjudi.

2. Moh ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan.

3. Moh Maling atau tidak mau mencuri

4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganca dan lain-lain

5. Moh Madon atau tidak mau berzinah / main perempuan yang bukan istrinya.

Prabu Brawijaya sangat senang atas hasil didikan Raden Rahmat. Raja menganggap agama islam itu adalah ajaran budi pekerti yang mulia. Maka ketika Raden Rahmat kemudian mengumumkan ajarannya adalah agama Islam maka Prabu Brawijaya tidak menjadi marah, hanya saja ketika dia diajak untuk memeluk agama Islam ia tidak mau. Ia ingin menjadi raja Budha yang terakhir di Majapahit.

Raden Rahmat diperbolehkan menyiarkan agama Islam di Wilayah Surabaya bahkan di seluruh wilayah Majapahit, dengan catatan bahwa rakyat tidak boleh dipaksa, Raden Rahmatpun memberi penjelasan bahwa tidak ada paksaan dalam berama.

5. SESEPUH WALISONGO

Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim Wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh Wali Songo, sebagai mufti dan putra Sunan Ampel sendiri juga menjadi anggota Wali Songo, mereka adalah : Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Muria, Sunan Kota atau Raden Patah, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati.

Raden Patah atau Sunan Kota memang pernah menjadi anggota wali songo menggantikan kedudukan salah seorang wali yang meninggal dunia. Dengan diangkatnya Sunan Ampel sebagai sesepuh maka para wali lain tunduk patuh kepada kata-katanya. Termasuk fatwa beliau dalam memutuskan peperangan dengan pihak Majapahit.

Para wali yang lebih muda menginginkan agar tahta Majapahit direbut dalam tempo yang secepat-cepatnya. Tetapi Sunan Ampel berpendapat bahwa masalah tahta Majapahit tidak perlu diserang secara langsung karena kerajaan besar sesungguhnya sudah keropos dari dalam tak usah diserang oleh Demak Bintoro pun sebenarnya Majapahit akan segera runtuh. Para wali yang lebih muda menganggap Sunan Ampel terlalu lamban dalam memberikan nasehat kepada Raden Patah.

“Mengapa Ramanda berpendapat demikian?” tanya Raden Patah yang terhitung menantunya sendiri. “Karena aku tidak ingin di kemudian hari ada orang menuduh Raja Demak Bintoro yang masih putra Raja Majapahit Prabu Kertabumi telah berlaku durhaka, yaitu berani menyerang ayahandanya sendiri.” Jawab Sunan Ampel dengan tenang.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Kau harus sabar menunggu sembari menyusun kekuatan,” Ujar Sunan Ampel.” Tak lama lagi Majapahit akan runtuh dari dalam. Diserang adipati lain. Pada saat itulah kau berhak merebut hak warismu selaku putra Prabu Kertabumi.”

“Majapahit diserang adipati lain ? Apakah saya tidak berkebewajiban membelanya?”

“Inilah ketentuan Tuhan,” Sahut Sunan Ampel.” Waktu kejadiannya masih dirahasiakan. Aku sendiri tidak tahu persis kapankah peristiwa itu akan berlangsung. Yang jelas bukan kau adipati yang menyerang Majapahit itu” Sunan Ampel adalah penasehat Politik Demak Bintoro. Sekaligus merangkap pemimpin wali songo atau Mufti agama se Tanah Jawa. Maka fatwanya dipatuhi semua orang.

Kekuatiran Sunan Ampel tersebut memang terbukti. Dikemudian hari ternyata ada orang-orang pembenci Islam memutar balikkan fakta sejarah. Mereka menuliskan bawah Majapahit jatuh diserang oleh kerajaan Demak Bintoro yang rajanya adalah Putra Raja Majapahit sendiri. Dengan demikian Raden Patah dianggap anak durhaka. Ini dapat anda lihat dalam serat darmo gandul maupun sejarah yang ditulis sarjana kristen pembenci Islam.

Raden Patah dan para wali lainnya akhirnya tunduk patuh pada fatwa Sunan Ampel. Tibalah saatnya Sunan Ampel Wafat pada tahun 1478. Sunan Kalijaga diangkat sebagai penasehat bagian politik Demak. Sunan Giri diangkat sebagai pengganti Sunan Ampel sebagai Mufti, pemimpin para wali dan pemimpin agama Se- Jawa. Sesepuh yang selalu diminta pertimbangannya. Setelah sunan Giri diangkat menjadi mufti sikapnya terjadap Majapahit sekarang berubah. Ia menyetujui usul aliran Tuban untuk memberi fatwa kepada Raden Patah agar menyerang Majapahit.

Mengapa Sunan Giri bersikap demikian ?

Karena pada tahun 1478 kerajaan Majapahit diserang oleh Prabu Rana Wijaya atau Girindrawardhana dari kadipaten Kediri atau keling. Dengan demikian sudah tepatlah jika sunan Giri menyetujui penyerangan Demak atas Majapahit. Sebab pewaris sah tahta kerajaan Majapahit adalah Raden Patah selaku putra Raja Majapahit terakhir.

Demak kemudian bersiap-siap menyusun kekuatan. Namun belum lagi serangan dilancarkan, Prabu Rana Wijaya keburu tewas diserang oleh Prabu udara pada tahun 1498.

Pada tahun 1512, Prabu Udara selaku Raja Majapahit merasa terancam kedudukannya karena melihat kedudukan yang didukung Giri Kedaton semakin kuat dan Mapan. Prabu Udara kuatir jika terjadi peperangan akan menderita kekalahan. Maka dia minta bekerjasama dan minta bantuan Portugis di Malaka. Padahal putra Mahkota Demak yaitu Pati Unus pada tahun 1511 telah menyerang Portugis di Malaka.

Sejarah telah mencatat bahwa prabu Udara telah mengirim ke Malaka untuk menemui Alfonso d Albuquerque untuk menyerahkan hadiah berupa 20 genta (gamelan), sepotong kain panjang bernama Beirami tetunan kambayat , 13 batang lembing yang ujungnya berbesi dan sebagainya. Maka tidak salah jika jika pada tahun 1517 Demak menyerang Prabu Udara yang merampas tahta Majapahit ke tangan Demak. Seandainya Demak tidak segera menyerang Majapahit tentu bangsa Portugis akan menjajah tanah jawa jauh lebih cepat dari pada bangsa Belanda. Setelah Majapahit jatuh Pusaka kerajaan diboyong ke Demak Bintoro. Termasuk Mahkota Rajanya. Raden Patah diangkat sebagai raja demak yang pertama.

Sunan Ampel juga turut membantu mendirikan Masjid Agung Demak yang didirikan pada tahun 1477 M. salah satu di antara empat tiang utama masjid Dema hingga sekarang masih diberi nama sesuai dengan yang membuatnya yaitu Sunan Ampel.

Beliau pula pertama kali menciptakan Huruf Pegon atau tulisan Arab berbunyi jawa. Dengan huruf pegon ini beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan Pesantren.

6. PENYALAMAT AQIDAH

Sikap Sunan Ampel terhadap adat – istiadat lama sangat hati-hati. Hal ini didukung oleh Sunan Giri dan Sunan Drajat seperti yang pernah tersebut dalam permusyawaratan para wali di Masjid Agung Demak. Pada waktu itu Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat – istiadat Jawa seperti selamatan, bersaji, kesenian wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman. Mendengar pendapat sunan Kalijaga tersebut bertanyalah sunan ampel “Apakah tidak mengkhawatirkan di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama islam ? jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?

Dalam musyawarah itu Sunan Kudus menjawab pertanyaan Sunan Ampel, “Saya setuju dengan penapat sunan kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama tauhid maka kita akan memberinya warna Islam. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas-jelas menjurus kearah musyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesuai dengan selera masyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjeng sunan Ampel, saya mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyempurnakannya.

Adanya dua pendapat yang seakan bertentangan tersebut sebenarnya mengandung hikmah. Pendapat sunan Kalijaga dan sunan kudus ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterima oleh orang Jawa dan ini terbukti, dikarenakan dua wali tersebut pandai mengawinkan adat – istiadat lama yang dapat ditolerir islam maka penduduk jawa banyak yang berbondong-bondong masuk agama islam. Pada prinsipnyanya mereka mau menerima Islam lebih dahulu dan sedikit demi sedikit kemudian mereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat sunan ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekuen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki. Sehingga membuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid’ah. Inilah jasa Sunan Ampel yang sangat besar, dengan peringatan inilah beliau telah menyelematkan aqidah ummat agar tidak tergelincir ke lembah musyrik.

Sunan Ampel wafat pada tahun 1478 M. beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel.

7. MURID-MURID SUNAN AMPEL

Sebagaimana disebutkan di muka murid-murid Sunan Ampel itu banyak sekali, baik dari kalangan bangsawan dan para pangeran Majapahit maupun dari kalangan rakyat jelata. Bahkan beberapa anggota wali songo adalah murid-murid beliau sendiri.

Kali ini kami tampilkan kisah dua orang murid Sunan Ampel yang makamnya tak jauh dari lokasi Sunan Ampel dimakamkan, yaitu :

KISAH MBAH SOLEH

Mbah soleh adalah salah satu dari sekian banyak murid Sunan Ampel yang mempunyai karomah atau keistimewaan luar biasa.

Adalah sebuah keajaiban yang tak ada duanya, ada seorang manusia di kubur hingga sembilan kali. Ini bukan cerita buatan melainkan ada buktinya. Disebelah timur Masjid Agung Sunan Ampel ada sembilan kuburan. Itu kuburan sembilan orang tapi hanya kuburan seorang yaitu Murid Sunan Ampel yang bernama Mbah Soleh.

Kisahnya demikian, Mbah soleh adalah tukang sapu masjid Ampel dimasa hidupnya Sunan Ampel. Apabila menyapu lantai masjid sangatlah bersih sekali hingga orang yang sujud di masjid tanpa sajadah tidak merasa ada debunya.

Ketika Mbah Soleh wafat beliau dikubur di depan Masjid. Ternyata tidak ada santi yang sanggup mengerjakan pekerjaan Mbah soleh yaitu menyapu lantai masjid dengan bersih sekali. Maka sejak ditinggal Mbah Soleh masjid itupun lantainya menjadi kotor. Kemudian terucaplah kata-kata Sunan Ampel, “Ba mbah soleh masih hidup tentulah masid ini menjadi bersih.”

Mendadak Mbah soleh ada di pengimaman masjid sedang menyapu lantai. Seluruh lantaipun sekarang menjadi bersih lagi. Orang-orang pada terheran melihat mbah soleh hidup lagi.

Beberapa bulan kemudian Mbah soleh wafat lagi dan dikubur di samping kuburannya dulu. Masjid menjadi koto lagi. Lalu terucaplah kata-kata Sunan Ampel seperti dulu. Mbah solehpun hidup lagi. Hal ini berlangsung beberapa kali sehingga kuburannya ada delapan. Pada saat kuburan mbah soleh ada delapan. Sunan Ampel meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian mbah soleh meninggal dunia, sehingga kuburan mbah soleh ada sembilan. Kuburan yang terakhir berada di ujung paling timur.

Jika anda sempat berziarah ke makam Sunan Ampel, jangan lupa untuk berdoa di depan makam mbah soleh.

KISAH MBAH SONHAJI

Mbah sonhaji sering disebut mbah bolong. Apa pasalnya. Ini bukan gelar kosong atau sekedar olok-olokan. Beliau adalah salah seorang murid sunan Ampel yang mempunyai karomah yang luar biasa.

Kisahnya demikian. Pada waktu pembangunan masjid Agung Ampel, Sonhaji lah yang ditugasi mengatur tata letak pengimamannya. Sonhaji bekerja dengan tekun dan penuh perhitungan, jangan sampai kelak letak pengimaman masjid itu tidak menghadap ke arah kiblat. Tapi setelah bangunan pengimaman itu jadi banyak orang yang meragukan keakuratannya.

“Apa betul letak pengimam masjid ini sudah menghadap ke Kiblat ?” demikian tanya orang yang meragukan pekerjaan sonhaji.

Sonhaji tidak menjawab, melainkan melubangi dinding pengimaman sebelah barat lalu berkata, “Lihatlah ke dalam lubang ini, kalian akan tahu apakah pengimaman ini sudah menghadap kiblat atau belum?”

Orang-orang itu segera melihat ke dalam lubang yang buat sonhaji. Ternyata di dalam lubang itu mereka dapat melihat ka’bah yang berada di Mekah. Orang-orang pada melongo, terkejut,kagum dan akhirnya tak berani meremehkan sonhaji lagi. Dan sejak saat itu mereka lebih bersikap hormat kepada sonhaji dan mereka memberinya julukan mbah bolong.

Jumat, 09 Januari 2009

Kisah Sunan Bonang


SUNAN BONANG

Walaupun Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, namun dalam menyampaikan dakwah la tidak sependapat dengan ayahandanya. Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan KUdus sepakat bahwa dakwah harus disampaikan dengan bijak, ibarat mengambil ikan tanpa mengeruhkan airnya.

Mula-mula Sunan Ampel tidak setuju atas cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Namun Sunan Kudus mengajukan pendapatnya, "Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas‑jelas rnenjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesual dengan selera rnasyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakin bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyern‑purnakannya."

Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterirna oleh orang Jawa; dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolelir Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbohdong-bondong masuk agama Islam. Pada awalnya masvarakat diharapkan mau menerima Islam dahulu dan sedikit-demi sedikit rnereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekwen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga rnembuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid`ah. Dua kebijakan dakwah ini ternyata dapat berjalan bersama-sama. Islam diterirna rnasyarakat Jawa kemudian Sunan Ampel menyelamatkan aqidah rakyat dari lembah kemusyrikan.

1. BRAHMANA DARI HIND1A

Agana Islam yang menyebar luas di Tanah Jawa cukup menggemparkan rnasyarakat dari belahan dunia lain.Termasuk para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana bemama Sakyakirti merasa penasaran.

Maka bersama beberapa orang muridnya ia berlayar menuju Pulau Jawa. Dibawanya pula kitab-kitab referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan berdebat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," ujar Brahmana itu sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar. "Jika dia kalah maka akan kutebas batang lehernya. Jika dia yang menang aku akan berlutut untuk mencium telapak kakinya. Akan kuserahkan jiwa ragaku kepadanya.

"Murid-muridnya,yang selalu berdiri dan mengikutinya dari belakang menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan ditengah samudra.

Namun ketika kapal Iayar yang ditumpanginya sampai diperarian Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul jadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layamya. Satu dua kali hal itu dapat dilakukannya namun terjangan ombak yang kelima kali membuat kapal Iayarnya langsung tenggelam ke dalam taut. Dengan susah payah dia mencabut beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai ke tenggelam ke dasar samudra.

Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang tenggelam ke dasar laut.

Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah. Cara mempelajarinya pun tidak mudah. la harus belajar Bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di Perairan Laut Jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.

Tapi niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut. la dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya.la agak bingung, harus ke nana untuk mencari Sunan Bonang.

Ia menoleh ke sana ke mari. Mencari seseorang untuk dimintai petunjuk jaian. Namun tak terlihat seorang pun di pantai itu.

Saat hampir putus asa, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seor­ang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari mernbawa tongkat. la dan murid-muridnya segera berlari mengharnpir dan menghentikan lelaki itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancap-kan tangkatnya ke pasir.

"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang. Dapatkah Kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya ?" kata sang Brahmana.

"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya letaki itu.

"Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," kata sang Brahmana." Tapi sayang kitab-kitab yang saya bawa tetah tenggelam ke dasar laut Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan.”

Tanpa banyak bicara telaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya yang menancap di pasir, mendadak tersemburlah air dari lubang bekas tongkat itu menancap, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?” tanya letaki itu. Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari rnenduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Murid-murid sang Brahmana yang sejak tadi sudah kehausan langsung saia menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir jangan-jangan muridnya itu akan segera mabok karena meminum air di tepi laut yang pastilah hanyak mengandung garam.

"Segar !Aduh segarnya !”seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya. Yang lain segera berebutan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Brahmana Sakyakirti tercenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar la mencicipinya sedikit. Memang segar rasanya. Rasa herannya makin menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu dalam rnenciptakan lubang air yang memancar, dan...mampu menghisap kitab-kitab yang telah tenggelam ke dasar taut. Pastilah orang berjubah putih itu bukan orang sembarangan. la sudah mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu hanya tipuan ilmu sihir? Ternyata bukan ! Bukan ilmu sihir tapi kenyataan !

Seribu Brahmana di India tak mampu melakukan hal ini! Pikir sang Brahmana. Dengan rasa was-was, takut dan gentar ia menatap wajah orang berjubah putih itu.

"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini ?" tanya sang Brahmana dengan hati kebat-kebit. 'Tuan berada di pantai Tuban !" jawab lelaki itu. Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri

"Bangunlah, untuk apa kau berlutut kepadaku ?Bukankah sudah kau ketahui dari kitab-kitab yang kau pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Mahaagung!" kata lelaki berjubah putih yang tak lain memang Susan Bonang adanya.

"Ampun Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tinginya gunung di depan mata,ampunkan saya...!" rintih sang Brahmana. "Lho? Bukankah kau ingin berdebat denganku,juga rnau mengadu kesakti-an ? "tukas Sunan Bonang.

"Mana saya berani melawan Paduka, tentulah ombak badai yang menyerang kapai kami juga ciptaan Paduka, kesaktian Paduka tak terukur tingginya. ilmu Paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.

"Kau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badi," ujar Sunan Bonang." Hanya Allah yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan rnendekat kepada-Nya, dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang !"

Sang „Brahmana merasa malu. memang kedatangannya bermaksud jahat. Ingin mernbunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian, Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang teiah dipelajati terbukti. Bahwa barang siapa memusuhi Para wali-Nya,maka Allah akan mengumumkan perang kepadanya. Menantang Sunan Bonang sama saja dengan rnenantang Tuhan yang mengasihi Sunan Bonang itu sendiri.

la bergidik ngeri saat teringat bagaimana dirinya terombang­-ambing diterjang ombak badai, berarti Tuhan sendiri yang telah memberinya pelajaran supaya mengurungkan niatnya memusuhi Sunan Bonang. la percaya, jika niatnya dilaksanakan bukan Sunan Bonang yang kalah atau mati tapi dia sendirilah yang bakal binasa.

Maka sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya me­nantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan.

"Kanjeng Sunan, sudilah menerima saya sebagai murid..."kata Brahrnana itu kemudian.

"Jangan tergesa-gesa,"ujar Sunan Bonang."Kau harus mempelajari dan mengenal islam lebih banyak lagi, lebih lengkap lagi. Sebab apa yang kau pelajari hanya sebagian­sebagian saja. Jika kau sudah memahami Islam secara keseluruhan maka kau boleh pilih tetap memeluk agama lama atau menerima Islam sebagai agamamu yang terakhir."

Sekali lagi sang Brahmana merasa malu. Ternyata Susan Bonang bersifat arif dan bijaksana, tidak memaksakan kehendak walau sudah berada di alas angin. Seandainya Sunan Bonang memperbolehkannya untuk berlutut dia akan bersujud dan menyembah sepasang kakinya.

"Bawa semua kitab-kitabmu, marl isinya kita bahas bersama - bersama "kata Sunan Bonang sembari melanjutkan langkahnya. Brahmana sakyakirti dan murid-muridnya segera mengumpulkan kitab-kitab yang tercecer lalu mengikuti langkah Sunan Bonang.

Pada akhirnya ia dan murid-muridnya rela masuk Islam atas kesadarannya sendiri, dan menjadi pengikutnya yang setia.

2. ASAL – USULNYA

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putra Sunan Ampei dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila.

Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adaiah putra Prabu Kertabumi. Dengan demikian Raden Makdum adalah salah seorang Pangeran Majapahit Karena ibunya adalah putri Raja Majapahit dan ayahnya adalah menantu Raja Majapahit.

Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disipiin.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha pare Wali itu lebih beret dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon wali yang besar, rnaka Sunan Ampel sejak dini juga memper siapkan sebaik mungkin.

Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang, yaitu Negeri Pasai. Keduanya menarnbah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama ahli tasawuf yang berasat dari Bagdad, Mesir, Arab dan Parsi atau Iran.

Sesudah belajar di Negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Girl sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.

Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban, dan daerah Sempadan Surabaya

3. BIJAK DALAM BERDAKWAH

Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bita banjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbulah suaranya yang merdu di tetinga penduduk setempat.

Lebih - lebih Raden Makdum Ibrahim sandiri yang mebunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang wali yang rnempunyai cita rasa seni yang tinggi. sehingga apabila beliau bunyikan pengarunnya sangat hebat bagi para pendengarnya.

Setiap Raden Makdum Ibrahim mernbunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar rnembunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka_

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat rnemberinya gelar Sunan Bonang.

4. KARYA SASTRA

Beliau juga mencipatakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan mekna kehidupan beragama.Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Suluk berasal dari bahasa Arab ' Salakattariiqa ' artinya menempuh jalan (tasawwuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut IImu Suluk. Ajaran yang biasa disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.

Di bawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul :

Dhandhanggula

Sunan Bonang

Wragul 1

Berang-berang, jika diteliti ini raga

Belum ketemu hakikatnya

Ada atau tidakkah ia

Sebenarnya aku ini siapa

impian beraneka ragam

Kalau dipikirkan

Akhirnya menyedihkan

Yang mustahil banyak sekali

Segala wujud di semesta ini

Tak putus-putus sama sekali

Wragui 2

Maka dengarlah perlambang ini

Ada kera hitam sedang berdiri

Di tepi sungai

Tertawa keras tak kepalang

Kepada berang-berang yang mencari makan

Siang dan malam

Terus tanpa kesudahan

Tak ingat bahwa la diciptakan Tuhan

Yang diingat hanya makanan

Tanpa mempedulikan

Bahaya mengancam

Wragui 3

Dilahapnya apa saja yang ia dapatkan Tidaklah la memperhatikan

Tuhan Yang Mahaagung yang menciptakan

Mustahil la tak sanggup memberi makan

Dari kehidupan hingga kematian

Apa pun saja dikodratkan

Telah disesuaikan

Ulat dalam batu pun diberi santunan

Maka jangan hanya suntuk mencari makan

5. KUBURNYA ADA DUA

Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.

Berita segera disebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segaia penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak mernakamkan jenazah beliau di Pulau.Bawean. Tetapi murid-rnurid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Dalam hal memberikin kain kafan pembungkus jenazah mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan miilik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya .Tetapi ketika berada di perairan Tuban tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami' Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

Kamis, 14 Agustus 2008

Kerajaan Tarumanegara

KERAJAAN TARUMANEGARA

Di bagian barat Jawa (Bogor, Jakarta dan Banten Selatan) di temukan sekitar 7 buah prasasti yang diduga dari tahun 400 – 500 m. Prasasti-prasasti tersebyt diantaranya :

1. Prasasti Ciareteun (Ciampea, Bogor)

2. Prasasti Kebon kopi (bogor)

3. Prasasti Jambu (Bogor)

4. Prasasti Muara Cianten (Bogor)

5. Prasasti Tugu (Daerah Tugu Jakarta Utara)

6. Prasasti Pasir Awi (Leuwilian)

7. Prasasti Munjul (Banten)

Berita Cina berita T’ang menyebutkan bahwa seorang pendeta cina bernama Fa-Hien terdampar di pulau Jawa (414 M) ketika ia hendak kembali dari Hindia ke Negerinya Cina, dalam catatan perjalanannya ia menyebutkan bahwa di daerah pantai Utara pulau Jawa bagian barat telah ditemukan masyarakat yang mendapat pengaruh hindu – Hindia. Masyarakat yang ditemukan itu diperkirakan menjadi bagian kerajaan Taruma Negara.

a. Isi dari prasasti Ciaruteun (yang juga dikenal sebagai batu tulis)

yang berbunyi !!! ”Vikrantasya Vanipatehi, crimateh purnawarmanah taruma negarandrasa visnor iwa padaduayam.

Artinya : Kedua buah tapak kaki yang seperti tapak kaki dewa Winsu adalah tapak kaki dari raja Purnawarman, rasa dari negri Taruma, raja yang gagah berani”

Bahasa pada prasasti itu adalah bahasa Sansekerta dengan huruf Pallawa. Dari perbandingan melalui huruf-huruf pada prasasti yang ditemukan di India, maka prasasti tersebut diperkirakan di tulis pada abad ke 5 Masehi.

b. Dalam prasasti Tugu dikatakan bahwa Raja Purnawarman telah memerintahkan penggalian sebuah sungai bernama ”Gomati” pada masa pemerintahannya yang ke 22. panjang sungainya 6.22 busur (sekitar + 12 km) dikerjakan dalam jangka waktu 21 hari. Sungai ini dibuat setelah sebelumnya masyarakat selesai melakukan penggalian sungai ”Chandrabhaga” (kali bekasi). Pada akhir pekerjaan penggalian, raja Purnawarman kemudian memberikan hadian 1.000 ekor lembu kepada para Brahmana.

Sungai Gomati digali untuk mengantisipasi bahaya banjir di aliran sungai chandrabhaga. Upaya raja Purnawarman ini menyiratkan betapa penuh perhatiannya sang raja kepada rakyatnya. Pekerjaan menggali sungai dilakukan secara bergotong royong dan tanpa paksaan. Hal ini memberi arti Raja Purnawarman telah berhasil menciptakan suasana damai dan tentram di kerajaannya.

Kesimpulan :

Seperti halnya Yupa dari Kutai, prasasti-prasasti Tarumanegara juga ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta yang digubah dalam bentuk syair. Dari ketujuh buah prasasti ini di ketahui bahwa agama yang dianut oleh raja (atau kerajaan) adalah Hindu.

Kehidupan Politik.

Raja purnawarman adalah raja besar yang telah berhasil meningkatkan kehidupan rakyatnya. Hal ini di buktikan dari prasasti tugu yang menyatakan baha raja purnawarman telah memerintahkan untuk menggali sebuah kali. Penggalian sebuah kali ini sangat besar artinya. Karena pembuatan kali ini berarti pembuatan saluran irigasi untuk memperlancar pengairan sawah-sawah pertanian rakyat. Dengan upaya itu, raja Purnawarman di pandang sebagai raja besar yang memperhatikan kehidupan rakyatnya.

Kehidupan Sosial

Pada prasasti ciareteun di sebutkan bahwa telapak kaki raja Purnawarman di samakan dengan telapak kaki Dewa Wisnu, dimana dewa Wisnu dipandang sebagai dewa pelindung dunia. Jadi raja Purnawarman adalah seorang raja yang terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan raktyatnya.

Kehidupan Ekonomi

Pada prasasti Tugu dinyatakan bahwa Raja Purnawarman memerintahkan untuk membuat sebuah terusan sepanjang 6122 tombak. Pembangunan terusan ini mempunyai arti ekonomis yang besar bagi masyarakat, karena dapat dipergunakan sebagai sarana pencegah banjir dan sarana lalu lintas pelayaran perdagangan antar daerah di kerajaan Tarumanegara atau dengan dunia luar.

POSTING TERBARU