Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Sabtu, 24 Januari 2009

Penyebaran dan Perkembangan Islam

Penyebaran dan Perkembangan Islam

A. Perkembangan Ajaran Islam dan Kebudayaan

Sejak abad ke 20, Islam kembali menampakkan kekuatannya dalam menata diri, menuju peradaban baru yang ditandai dengan lahirnya gerakan pembaharuan pemikiran. Proses gerakan pembaharuan muncul dipengaruhi oleh dua hal berikut ini :

1. Munculnya kesadaran di kalangan para ulama Islam bahwa ajaran Islam telah banyak dipengaruhi berbagai tradisi dan ajaran yang asing sehingga terjadi sinkretisme seperti bid’ah, takhayul, dan khurafat. Hal tersebut dipandang sebagai penyebab kemunduran bagi dunia Islam, oleh karena itu untuk mengikis dan menghilangkan pengaruhnya, umat islam harus menyadari akan tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi.

2. Persentuhan dunia barat yang saat itu sudah maju dengan para pemimpin dan ulama islam telah memacu serta mendorong mereka untuk berpikir maju dan kritis dalam menata kehidupan modern yang lebih baik sehingga tercipta balance of power. Sejalan dengan itu, terjadi pengiriman para pelajar ioslam dari berbagai ilmu pengetahuan ke dunia barat sehingga menambah dan mempertajam analisis pemikiran mereka untuk maju.

Gerakan pembaharuan pemikiran islam dipelopori oleh Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703 – 17-37 M) di Arab Saudi. Gerakan ini disebut dan dikenal dengan gerakan Wahabiyah, kemudian, disusul dengan munculnya syech Walyullah (1703 – 1762 M) di India dan gerakan Sanusiyah di sambut dengan baik di dukung oleh pemikir dan ulama Islam, yaitu Jamaludin Al – Afghani (1839 – 1897). Gerakan pembaharuan pemikiran yang dipelopori olehnya dilandasi semangat kebersamaan dan penghindaran konflik, serta perselisihan untuk menumbuhkan semangat nasionalisme dalam Islam. Oleh karena kepeloporan tersebut, Jamaludin Al Afghani disebut bapak Nasionalisme Islam. Gerakan ini berusaha menambah semangat nasionalisme dan menyadarkan umat Islam akan hak dan kewajiban sebagai warga negara dan sebagai umat yang harus bangkit dan maju menuju kemajuan yang lebih baik.

B. Tokoh – tokoh atau Golongan Pembawa Agama Islam

Pendapat para ahli mengenai golongan pembawa Islam ke Indonesia umumnya menunjukkan persamaan. Penyebaran Islam berikutnya dilakukan oleh juru dakwah atau ulama setempat di mana beberapa diantaranya mungkin telah pergi atau pusat agama Islam lainnya guna memperdalam pengetahuan agama Islam setelah itu mereka menyebarkan ke daerah-daerah pelosok lainnya di kepulauan Indonesia. Diantara para penyebar islam setempat ini terdapat sekelompok orang terkemuka yang dikenak dengan sebutan Wali Songo.

Wali songo berasal dari kata “Wali” dan “Songo”, wali merupakan kata arab yang berarti sangat tinggi dalam dunia Islam. Biasanya, kata itu diterjemahkan sebagai orang suci dalam bahasa Jawa, wali juga dapat diartikan sebagai rasul. Kata “Sanga” sendiri berarti sembilan. Dengan demikian wali songo itu berarti sembilan orang wali Ullah (Wali Allah).

Anggota wali Songo ialah Syech Maulana Malik Ibrahim, Sunan Amepl, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Muria, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga, dan Sunan Gunung Jati. Selain kesembilan orang tersebut, masih ada sejumlah ulama lainnya yang dianggap sebagai wali oleh para pengikutnya. Diantara mereka terdapat syekh Siti Jenar atau syeh lemah abang. Bahkan ada cerita kalau sebenarnya syek siti Jenar itu sebelumnya merupakan anggota wali songo. Akan tetapi, ajarannya dianggap menyimpang sehingga dia dikeluarkan dan dihukum mati. Proses islamisasi yang dilakukan oleh para wali ini sendiri memiliki ciri sangat menarik sehingga membedakan islam di Jawa dengan di kepulauan indonesia lainnya. Islam di jawa terkenal sangat “sinkretis” artinya banyak memadukan unsur – unsur masyarakat setempat dengan ajaran islam. Sinkretisme lainnya terlihat dalam hal arsitektur masjid. Sebagai contoh, menara masjid buatan sunan kudus memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda dengan candi Hindu. Hal itu sendiri dimaksudkan agar orang-orang Hindu merasa akrab dan tidak merasa takut atau segan mengunjungi masjid untuk mendengarkan ceramah Sunan Kudus.

Selain kelompok wali sanga ini masih ada penyebar Islam setempat lainnya. Diantara mereka Dato’ri Bandang yang menyebarkan Islam di Gowa, serta Tuan di Bandang dan Tuan Tunggang parangan yang menyebabkan agama Islam di Kutai. Kadangkala para juru dakwa ini dianggap sebagai orang suci dan dikeramatkan oleh kalangan penduduk yang di Islamkan.

C. Golongan Penerima Peninggalan Agama Islam

Gambaran mengenai cari-cara Islamisasi di Indonesia seperti ini sering kita ketahui dari cerita-cerita dalam babad dan Hikayat, misalnya sejarah Banten, babad Tanah Jawa. Dan Hikayat raja raja pasai. Diantara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran seperti mistik Indonesia Hindu ialah Hamzah Fansuri, Syekh Lemah Abang, dan sunan Panggung. Ajaran mistik semacam itu juga terdapat pada abad ke – 19, seperti Sumarah, Sapta Darmo, Bratakesawa, dan Pangestu.

1. Pendidikan

Penyebaran Islam juga dilakukan melalui pendidikan pesantren, merupakan lembaga yang penting dalam penyebaran agama Islam. Pembinaan calon guru – guru agama, Kiai, atau ulama dilakukan di tempat ini pada masa pertumbuhan awal Islam di Jawa, terdapat Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang mendirikan pesantren Sunan Giri juga terkenal sampai daerah Maluku. Dalam perkembangannya, banyak raja dan kaum bangsawan yang mendatangkan para Kiai atau ulama sebagai guru atau penasehat agama.

2. Kesenian

Islamisasi juga dilakukan melalui cabang-cabang kesenian, seperti seni bangunan, seni pahat atau ukir, seni tari, seni musik, dan seni sastra. Hasil hasil seni bangunan ini dapat dilihat pada bangunan masjid-masjid kuno di Demak, Cirebon, Banten, dan Aceh. Diantara berbagai kesenian itu, pertunjukkan wayang adalah alat islamisasi yang terkenal. Menurut cerita, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dalam pementasannya, sebagai ganti upah dia minta agar para penonton mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagaian besar cerita wayangnya masih di petik dari Kisah Mahabaratta dan Ramayana. Upaya islamisasi wayang terlihat pada upaya menghubungkan nama panah kalimasada, suatu senjata paling ampuh di dalam lakon wayang dengan kalimat syahadat yaitu pengakuan Iman islam kepada Allah dan Nabi Muhammad. Dalam hal kesusasteraan, islamisasi dilakukan dalam naskah lama masa peralihan kepercayaan yang ditulis dalam bahasa dan huruf daerah. Contohnya Primbon – primbon abad ke – 16 seperti yang di susun oleh Sunan Bonang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU