Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Jumat, 09 Januari 2009

Kisah Sunan Bonang


SUNAN BONANG

Walaupun Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, namun dalam menyampaikan dakwah la tidak sependapat dengan ayahandanya. Sunan Bonang, Sunan Kalijaga dan Sunan KUdus sepakat bahwa dakwah harus disampaikan dengan bijak, ibarat mengambil ikan tanpa mengeruhkan airnya.

Mula-mula Sunan Ampel tidak setuju atas cara dakwah yang dilakukan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Namun Sunan Kudus mengajukan pendapatnya, "Saya setuju dengan pendapat Sunan Kalijaga, bahwa adat istiadat lama yang masih bisa diarahkan kepada agama Tauhid maka kita akan memberinya warna Islami. Sedang adat dan kepercayaan lama yang jelas‑jelas rnenjurus kearah kemusyrikan kita tinggal sama sekali. Sebagai misal, gamelan dan wayang kulit, kita bisa memberinya warna Islam sesual dengan selera rnasyarakat. Adapun tentang kekuatiran Kanjeng Sunan Ampel, saya mempunyai keyakin bahwa di belakang hari akan ada orang yang menyern‑purnakannya."

Pendapat Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang ada benarnya yaitu agar agama Islam cepat diterirna oleh orang Jawa; dan ini terbukti, dikarenakan dua Wali tersebut pandai mengawinkan adat istiadat lama yang dapat ditolelir Islam maka penduduk Jawa banyak yang berbohdong-bondong masuk agama Islam. Pada awalnya masvarakat diharapkan mau menerima Islam dahulu dan sedikit-demi sedikit rnereka akan diberi pengertian akan kebersihan tauhid dalam iman mereka.

Sebaliknya, adanya pendapat Sunan Ampel yang menginginkan Islam harus disiarkan dengan murni dan konsekwen juga mengandung hikmah kebenaran yang hakiki, sehingga rnembuat ummat semakin berhati-hati menjalankan syariat agama secara benar dan bersih dari segala macam bid`ah. Dua kebijakan dakwah ini ternyata dapat berjalan bersama-sama. Islam diterirna rnasyarakat Jawa kemudian Sunan Ampel menyelamatkan aqidah rakyat dari lembah kemusyrikan.

1. BRAHMANA DARI HIND1A

Agana Islam yang menyebar luas di Tanah Jawa cukup menggemparkan rnasyarakat dari belahan dunia lain.Termasuk para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana bemama Sakyakirti merasa penasaran.

Maka bersama beberapa orang muridnya ia berlayar menuju Pulau Jawa. Dibawanya pula kitab-kitab referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan berdebat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," ujar Brahmana itu sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar. "Jika dia kalah maka akan kutebas batang lehernya. Jika dia yang menang aku akan berlutut untuk mencium telapak kakinya. Akan kuserahkan jiwa ragaku kepadanya.

"Murid-muridnya,yang selalu berdiri dan mengikutinya dari belakang menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan ditengah samudra.

Namun ketika kapal Iayar yang ditumpanginya sampai diperarian Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul jadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layamya. Satu dua kali hal itu dapat dilakukannya namun terjangan ombak yang kelima kali membuat kapal Iayarnya langsung tenggelam ke dalam taut. Dengan susah payah dia mencabut beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai ke tenggelam ke dasar samudra.

Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang tenggelam ke dasar laut.

Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah. Cara mempelajarinya pun tidak mudah. la harus belajar Bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di Perairan Laut Jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.

Tapi niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut. la dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya.la agak bingung, harus ke nana untuk mencari Sunan Bonang.

Ia menoleh ke sana ke mari. Mencari seseorang untuk dimintai petunjuk jaian. Namun tak terlihat seorang pun di pantai itu.

Saat hampir putus asa, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seor­ang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari mernbawa tongkat. la dan murid-muridnya segera berlari mengharnpir dan menghentikan lelaki itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkah dan menancap-kan tangkatnya ke pasir.

"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang. Dapatkah Kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya ?" kata sang Brahmana.

"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya letaki itu.

"Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," kata sang Brahmana." Tapi sayang kitab-kitab yang saya bawa tetah tenggelam ke dasar laut Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan.”

Tanpa banyak bicara telaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya yang menancap di pasir, mendadak tersemburlah air dari lubang bekas tongkat itu menancap, membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?” tanya letaki itu. Sang Brahmana dan pengikutnya memeriksa kitab-kitab itu. Ternyata benar miliknya sendiri. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari rnenduga-duga siapa sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Murid-murid sang Brahmana yang sejak tadi sudah kehausan langsung saia menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir jangan-jangan muridnya itu akan segera mabok karena meminum air di tepi laut yang pastilah hanyak mengandung garam.

"Segar !Aduh segarnya !”seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya. Yang lain segera berebutan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.

Brahmana Sakyakirti tercenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar la mencicipinya sedikit. Memang segar rasanya. Rasa herannya makin menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu dalam rnenciptakan lubang air yang memancar, dan...mampu menghisap kitab-kitab yang telah tenggelam ke dasar taut. Pastilah orang berjubah putih itu bukan orang sembarangan. la sudah mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu hanya tipuan ilmu sihir? Ternyata bukan ! Bukan ilmu sihir tapi kenyataan !

Seribu Brahmana di India tak mampu melakukan hal ini! Pikir sang Brahmana. Dengan rasa was-was, takut dan gentar ia menatap wajah orang berjubah putih itu.

"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini ?" tanya sang Brahmana dengan hati kebat-kebit. 'Tuan berada di pantai Tuban !" jawab lelaki itu. Serta merta Brahmana dan para pengikutnya menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah dapat menduga pastilah lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang sendiri

"Bangunlah, untuk apa kau berlutut kepadaku ?Bukankah sudah kau ketahui dari kitab-kitab yang kau pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Mahaagung!" kata lelaki berjubah putih yang tak lain memang Susan Bonang adanya.

"Ampun Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tinginya gunung di depan mata,ampunkan saya...!" rintih sang Brahmana. "Lho? Bukankah kau ingin berdebat denganku,juga rnau mengadu kesakti-an ? "tukas Sunan Bonang.

"Mana saya berani melawan Paduka, tentulah ombak badai yang menyerang kapai kami juga ciptaan Paduka, kesaktian Paduka tak terukur tingginya. ilmu Paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.

"Kau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badi," ujar Sunan Bonang." Hanya Allah yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan rnendekat kepada-Nya, dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang !"

Sang „Brahmana merasa malu. memang kedatangannya bermaksud jahat. Ingin mernbunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian, Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang teiah dipelajati terbukti. Bahwa barang siapa memusuhi Para wali-Nya,maka Allah akan mengumumkan perang kepadanya. Menantang Sunan Bonang sama saja dengan rnenantang Tuhan yang mengasihi Sunan Bonang itu sendiri.

la bergidik ngeri saat teringat bagaimana dirinya terombang­-ambing diterjang ombak badai, berarti Tuhan sendiri yang telah memberinya pelajaran supaya mengurungkan niatnya memusuhi Sunan Bonang. la percaya, jika niatnya dilaksanakan bukan Sunan Bonang yang kalah atau mati tapi dia sendirilah yang bakal binasa.

Maka sang Brahmana tidak jadi melaksanakan niatnya me­nantang Sunan Bonang untuk adu kesaktian dan mendebat masalah keagamaan.

"Kanjeng Sunan, sudilah menerima saya sebagai murid..."kata Brahrnana itu kemudian.

"Jangan tergesa-gesa,"ujar Sunan Bonang."Kau harus mempelajari dan mengenal islam lebih banyak lagi, lebih lengkap lagi. Sebab apa yang kau pelajari hanya sebagian­sebagian saja. Jika kau sudah memahami Islam secara keseluruhan maka kau boleh pilih tetap memeluk agama lama atau menerima Islam sebagai agamamu yang terakhir."

Sekali lagi sang Brahmana merasa malu. Ternyata Susan Bonang bersifat arif dan bijaksana, tidak memaksakan kehendak walau sudah berada di alas angin. Seandainya Sunan Bonang memperbolehkannya untuk berlutut dia akan bersujud dan menyembah sepasang kakinya.

"Bawa semua kitab-kitabmu, marl isinya kita bahas bersama - bersama "kata Sunan Bonang sembari melanjutkan langkahnya. Brahmana sakyakirti dan murid-muridnya segera mengumpulkan kitab-kitab yang tercecer lalu mengikuti langkah Sunan Bonang.

Pada akhirnya ia dan murid-muridnya rela masuk Islam atas kesadarannya sendiri, dan menjadi pengikutnya yang setia.

2. ASAL – USULNYA

Dari berbagai sumber disebutkan bahwa Sunan Bonang itu nama aslinya adalah Syekh Maulana Makdum Ibrahim. Putra Sunan Ampei dan Dewi Condrowati yang sering disebut Nyai Ageng Manila.

Ada yang mengatakan Dewi Condrowati itu adaiah putra Prabu Kertabumi. Dengan demikian Raden Makdum adalah salah seorang Pangeran Majapahit Karena ibunya adalah putri Raja Majapahit dan ayahnya adalah menantu Raja Majapahit.

Sebagai seorang Wali yang disegani dan dianggap Mufti atau pemimpin agama se Tanah Jawa, tentu saja Sunan Ampel mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Sejak kecil, Raden Makdum Ibrahim sudah diberi pelajaran agama Islam secara tekun dan disipiin.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa latihan atau riadha pare Wali itu lebih beret dari pada orang awam. Raden Makdum Ibrahim adalah calon wali yang besar, rnaka Sunan Ampel sejak dini juga memper siapkan sebaik mungkin.

Disebutkan dari berbagai literatur bahwa Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku sewaktu masih remaja meneruskan pelajaran agama Islam hingga ke Tanah seberang, yaitu Negeri Pasai. Keduanya menarnbah pengetahuan kepada Syekh Awwalul Islam atau ayah kandung dari Sunan Giri, juga belajar kepada para ulama besar yang banyak menetap di Negeri Pasai. Seperti ulama ahli tasawuf yang berasat dari Bagdad, Mesir, Arab dan Parsi atau Iran.

Sesudah belajar di Negeri Pasai Raden Makdum Ibrahim dan Raden Paku pulang ke Jawa. Raden Paku kembali ke Gresik, mendirikan pesantren di Girl sehingga terkenal sebagai Sunan Giri.

Raden Makdum Ibrahim diperintahkan Sunan Ampel untuk berdakwah di daerah Lasem, Rembang, Tuban, dan daerah Sempadan Surabaya

3. BIJAK DALAM BERDAKWAH

Dalam berdakwah Raden Makdum Ibrahim ini sering mempergunakan kesenian rakyat untuk menarik simpati mereka, berupa seperangkat gamelan yang disebut Bonang.

Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bita banjolan itu dipukul dengan kayu lunak maka timbulah suaranya yang merdu di tetinga penduduk setempat.

Lebih - lebih Raden Makdum Ibrahim sandiri yang mebunyikan alat musik itu, beliau adalah seorang wali yang rnempunyai cita rasa seni yang tinggi. sehingga apabila beliau bunyikan pengarunnya sangat hebat bagi para pendengarnya.

Setiap Raden Makdum Ibrahim mernbunyikan Bonang pasti banyak penduduk yang datang ingin mendengarkannya. Dan tidak sedikit dari mereka yang ingin belajar rnembunyikan Bonang sekaligus melagukan tembang-tembang ciptaan Raden Makdum Ibrahim. Begitulah siasat Raden Makdum Ibrahim yang dijalankan penuh kesabaran. Setelah rakyat berhasil direbut simpatinya tinggal mengisikan saja ajaran agama Islam kepada mereka_

Tembang-tembang yang diajarkan Raden Makdum Ibrahim adalah tembang yang berisikan ajaran agama Islam. sehingga tanpa terasa penduduk sudah mempelajari agama Islam dengan senang hati, bukan dengan paksaan.

Murid-murid Raden Makdum Ibrahim ini sangat banyak, baik yang berada di Tuban, Pulau Bawean, Jepara, Surabaya maupun Madura. Karena beliau sering mempergunakan Bonang dalam berdakwah maka masyarakat rnemberinya gelar Sunan Bonang.

4. KARYA SASTRA

Beliau juga mencipatakan karya sastra yang disebut Suluk. Hingga sekarang karya sastra Sunan Bonang itu dianggap sebagai karya yang sangat hebat, penuh keindahan dan mekna kehidupan beragama.Suluk Sunan Bonang disimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Suluk berasal dari bahasa Arab ' Salakattariiqa ' artinya menempuh jalan (tasawwuf) atau tarikat. Ilmunya sering disebut IImu Suluk. Ajaran yang biasa disampaikan dengan sekar atau tembang disebut Suluk, sedangkan bila diungkapkan secara biasa dalam bentuk prosa disebut Wirid.

Di bawah ini adalah Suluk karya Sunan Bonang yang disebut Suluk Wragul :

Dhandhanggula

Sunan Bonang

Wragul 1

Berang-berang, jika diteliti ini raga

Belum ketemu hakikatnya

Ada atau tidakkah ia

Sebenarnya aku ini siapa

impian beraneka ragam

Kalau dipikirkan

Akhirnya menyedihkan

Yang mustahil banyak sekali

Segala wujud di semesta ini

Tak putus-putus sama sekali

Wragui 2

Maka dengarlah perlambang ini

Ada kera hitam sedang berdiri

Di tepi sungai

Tertawa keras tak kepalang

Kepada berang-berang yang mencari makan

Siang dan malam

Terus tanpa kesudahan

Tak ingat bahwa la diciptakan Tuhan

Yang diingat hanya makanan

Tanpa mempedulikan

Bahaya mengancam

Wragui 3

Dilahapnya apa saja yang ia dapatkan Tidaklah la memperhatikan

Tuhan Yang Mahaagung yang menciptakan

Mustahil la tak sanggup memberi makan

Dari kehidupan hingga kematian

Apa pun saja dikodratkan

Telah disesuaikan

Ulat dalam batu pun diberi santunan

Maka jangan hanya suntuk mencari makan

5. KUBURNYA ADA DUA

Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.

Berita segera disebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segaia penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak mernakamkan jenazah beliau di Pulau.Bawean. Tetapi murid-rnurid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Dalam hal memberikin kain kafan pembungkus jenazah mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan miilik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya .Tetapi ketika berada di perairan Tuban tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami' Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepada beliau. Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU