Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Kamis, 12 Februari 2009

“DBD Juga Bisa Sebabkan Stroke Dan Diare”

“DBD Juga Bisa Sebabkan Stroke Dan Diare”

Masyarakat sebaiknya semakin mewaspadai penyakit demam berdarah dengue (DBD). Pasalnya, saat ini ada varian baru pada penyakit yang diakibatkan oleh nyamuk aedes aegepty itu.

“sejak sekitar tahun 2000-an ada varian baru dari DBD antara lain buta sementara, stroke dan diare,” kata Prof. Dr. Drh Fedik A. Rantam, peneliti dari Institute of Tropical Desease Universitas Airlangga dalam acara “Kolokutum Hasil Penelitian bidang Kesehatan” di Rektorat Universitas Jember,

Dijelaskan, sebelum muncul varian itu, DBD mempunyai varian pengerta antara lain demam, bintik-bintik merah dan pendarahan. Namun sejak tahun 2000 itu, muncul varian baru yang tanda-tanda klinisnya tidak mudah dideteksi. “Varian baru itu tanpa gejala atau silent sympton,” lanjutnya.

Karena varian baru inilah, vaksin untuk virus DBD yang ditelitinya sejak 1999 belum berhasil. Padahal penelitian vaksin itu sudah hampir selesai. Namun karena ada varian baru, penelitian itu belum selesai karena harus memperbarui sampel dari kasus DBD yang baru.

Apalagi virus DBD di kabupaten Jember dinilai lebih progresif dibanding di kota Malang atau Surabaya. Sehingga masyarakat dan tenaga medis diminta lebih waspada. “Kita harus mengambil sampel lagi dari pasien DBD di Kabupaten Jember untuk pembuatan vaksin tersebut,” jelasnya.

Sementara itu Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Ngawi menyatakan 217 desa di 19 kecamatan sebagai daerah endemis DBD. 217 Desa itu selama tiga tahun terakhir terdapat kasus DBD. Sedangkan daerah endemis berat karena ada penderita yang meninggal meliputi kecamatan Ngawi, Geneng, Paron dan kedunggalar.

Kepala Bidang pencegahan Penyakit dan penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Ngawi, Budi Ristiono mengungkapkan, sejak januari oktober 2008 jumlah penderita DBD mencapai 460 Jiwa. Delapan di antaranya meninggal dunia akibat terserang DBD.

Menurutnya, penderita DBD yang meninggal, rata-rata karena terlambat mendapatkan perawatan. Mereka dirujuk ke rumah sakit dan puskesmas terdekat setelah kondisinya sudah kritis. “saat mengalami demam tinggi selama dua hari berturut-turut dan nyeri di ulu hati segera bawa ke dokter, puskesmas atau rumah sakit terdekat, “terangnya kepada Surya, selasa (25/u)

Budi menjelaskan warga harus mewaspadai penderita DBD yang mengalami dengue shock syndrome (DSS). Yakni shock akibat serangan demam dan panas badan yang terus meningkat yang mengancam jiwa penderita.

Sementara untuk mencegah agar jumlah korban jiwa akibat penyakit yang ditularkan nyamuk aedes aegypti ini tidak terus meningkat. Dinkes kabupaten Ngawi menyebarkan sebanyak 690 juru pemantau jentik (Jumantik). Petugas jumantik ini telah tersebar disejumlah desa yang endemis DBD.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU