Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Senin, 19 Januari 2009

PENYESALAN SANDRA

PENYESALAN SANDRA

Sandra baru pulang dari sekolah. Sesampainya dirumah Sandra langsung berganti pakaian kemudian menonton televisi. Ketika Sandra sedang asyik melihat televisi, tiba-tiba sandra mendengar bunyi motor pak Pos yang berhenti di depan rumahnya.

“Pos, Pos!” pak pos memanggil beberapa kali, sandra keluar menemuinya. Pak pos menyerahkan sebuah paket, “Ini, ada paket 1” kata pak pos. “Oh ya, trima kasih!” sahut Sandra.

Ternyata paket tersebut dari Om indra. Om indra adalah adik ibu yang bekerja di bantung ia sering mengirimi sandra dan santi hadiah isinya selalu buku atau beberapa majalah.

“Paket dari siapa,? Sandra?” tanya ibu ketika sandra masuk ke dalam rumah.

“Paket dari Om Indra” jawab sandra singkat sambil menaruh paket di meja makan.

“Kenapa tidak dibuka ?” tanya ibu heran..

“Malas, bu. Isinya pasti buku atau majalah.”

“Buku dan majalah kan, hadiah yang bagus ! ada hiburan dan ilmu pengetahuan di dalamnya, iya, kan ?”

Sandra tidak menanggapi . ia asyik melihat televisi. Ibu jadi geleng-geleng kepala dan akhirnya membuka sendiri paket itu. Ternyata isinya memang beberapa buku ilmu pengetahuan dan majalah. Ibu menaruh dan menatanya dengan rapi di rak buku. Setelah itu ibu menuju ke dapur, Santi datang. Ibu langsung menemuinya.

“Assalamu’alaikum !” Sapa santi yang baru pulang dari sekolah.

“Wa’alaikum salam !” jawab ibu.

“Santi tadi ada kiriman dari om Indra buat kami dan adikmu, kirimannya ibu taruh di rak buku!” kata ibu.

Santi tidak menghiraukannya, karena isa sudah mengira bahwa isinya pasti buku dan majalah. Kemudian ia menuju ke kamar.

“Jangan lupa telepon Om Indra bilang terima kasih,” Ibu mengingatkan.

“Sandra saja, bu. Santi habis ini mau mengerjakan PR.” Tolak Santi.

Esok harinya, saat jam istirahat, Sandra, Tasya dan Tamara makan bakso di Kantin sekolah. Sandra dan Tasya makan dengan lahap.

Sedangkan Tamara makan sambil membaca buku. Tamara memang kutu buku, apa saja dibacanya.

“Kamu tidak bosan membaca, Tam ?” tanya tasya melirik sahabatnya itu.

“Aku justru bosan kalau hanya bengong,” jawabnya sungguh-sungguh. “Membaca itu asyik kok, tas. Selain menambah ilmu, juga bisa menghibur. Nih lihat, buku ini hampir selesai aku baca. Tapi setelah ini aku bingung mau baca apa lagi. Mau beli buku, lagi enggak punya uang.”

Tiba-tiba sandra ingat pada buku dan majalah kiriman Om Indra dirumah.

“Aku punya banyak buku dan majalah dirumah,” kata Sandra. Tamara heran karena ia tahu, Sandra sama sekali tidak suka membaca. “Om aku di Bandung yang sering ngirim,” lanjut Sandra seperti tahu apa yang dipikirkan Tama. “Kalau mau, nanti pulang sekolah kamu mampir kerumahku saja.”

“Benar, San ?” Tanya Tamara Girang

“Terima kasih, ya”

Bel tanda selesai istirahat berbunyi, Sandra, Tasya, dan Tamara bergegas masuk kelas, dan mereka menyiapkan pelajaran berikutnya. Sepulang sekolah tamara pergi ke rumah Sandra untuk meminjam buku dan majalah. Sesampainya dirumah sandra, tamara terkejut kagum ketika melihat koleksi buku dan majalah Sandra. Setiap hari ia meminjam buku-buku itu. Padahal Sandra sendiri tidak pernah membacanya.

“Ini semua pemberian dari Om kamu?” tanya tamara.

“Iya, om Indra selalu mengirimi aku buku dan majalah!” sahut sandra.

Suatu hari pak Sucipto menanyakan sebuah pertanyaan aneh. Pak sucipto memang sering menanyakan hal-hal yang tidak ada di buku cetak mereka. Makanya sandra tidak suka pada pak sucipto.

Ada yang tahu dengan varises ?”

Tuh kan benar, ada saja yang ditanyakan pak Sucipto. Varises ? apa pula itu ? Batin sandra jengkel. Ia yakin teman-temannya juga tak tahu. Tapi dugaan sandra salah. Dilihatnya Tamara mengacungkan tangan kanannya.

“Ya Tamara, silahkan,” suruh pak Sucipto

“Varises adalah gangguan berupa pelebaran pembuluh balik (vena) pada kaki, karena tekanan darah sehingga fungsinya sedikit terganggu dan mengakibatkan pembuluh darah menjadi kelihatan. Gangguan ini sering diderita oleh orang yang banyak berdiri atau wanita yang sedang hamil.”

Ada beberapa upaya untuk mengatasi terjadinya varises antara lain jangan menyilangkan kaki dan bertumpu pada lutut karena akan menambah tekanan pada pumbuluh darah di kaki bagian bawah dan menghambat aliran darah yang menuju ke seluruh tubuh. Selain itu, makanlah makanan yang bergizi dan rajin berolahraga,” Tama menjelaskan dengan lancar.

“Bagus Tamara, jawaban kamu benar,” kata pak Sucipto puas semua mata memandang Tamara dengan takjub. Sandra pun demikian. Ia bangga mempunyai sahabat yang punya banyak ilmu pengetahuan seperti tamar.

Ketika pulang sekolah, Sandra mempercepat langkahnya mengejar Tamara.

“Kamu hebat Tam ! Pengetahuan kami luas sekali,” puji Sandra.

“Kamu tahu dari mana tentang varises?”

Tamara menghentikan langkanya dan menatap sandra.

“Astaga, San ! kamu betul-betul lupa atau nggak pernah baca buku dan majalah kiriman om kamu, ya ?” tanya Tamara heran. “Aku tahu tentang varises sampai selengkap itu, dari majalah yang kamu pinjamkan.”

Sandra terpana, “Masa ?” tanyanya tak percaya. “ Aku ……. Aku memang tak pernah membacanya. Kamu kan, tahu aku tak suka membaca ?

“Ah, sayang sekali, San,” Tamara tampak merenung. “Andai saja aku punya Om seperti Om Indra. Aku tentu akan bahagia sekali. Aku perlu lagi menyisihkan uang jajan untuk beli buku atau majalah bekas.dan impianku untuk punya perpustakaan pribadi pasti bisa terlaksana!”

Sandra tercenungmendengarnya. Perasaan menyesal timbul dihatinya. Om indra telah berusah payah membelikannya buku dan majalah, tapi ia menyia-nyiakannya. Padahal di buku dan majalah itu terdapat banyak ilmu pengetahuan. Ia tak perlu lagi khawatir setiap bapak dan ibu guru mengajukan pertanyaan di kelas.

Tiba-tiba sandra teringat sesuatu, ia kemudian berlari meninggalkan Tamara.

“Hei San, kamu kenapa?

“Maaf Tam, aku harus segera pulang,” Sandra berhenti berlari dan berbalik. “Aku mau pinjam handphone Ayah dan mau kirim sms ke Om Indra. Aku mau om indra untuk mengirimkan lagi buku dan majalah yang lain.”

Tamara tersenyum senang. “Aku masih boleh pinjam, kan?”

“Tentu saja kita baca bersama-sama ya !” sahut sandra lalu berlari lagi. Tamara gembira mendengarnya. Sebentar lagi ia punya teman membaca yang baru, Sandra.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU