Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Minggu, 16 November 2008

Profile Imam Hambali

IMAM HAMBALI

A. Nama dan Kelahirannya

Namanya Ahmad bin Muhammad Asy-Syaibani. Adapun Hambali adalah nama kakeknya dan pihak ayah. Beliau digelari juga dengan Abu Abdillah.

Lahir pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H di Baghdad.

Ayah beliau wafat dalam usia masih muda, sekitar umur 30 tahun, sedangkan Imam Hambali pada waktu itu masih kecil. Oleh karena itu beliau adalah seorang anak yatim, sama halnya dengan Imam Syafi’i. Imam Ahmad (Imam Hambali) dibesarkan di bawah asuhan ibundanya. Ibu beliau bernama Shafiyah binti Maimunah bin Abdul Malik.

By : Tarikhul Baghdad, karya: Abu Bakar Ahmad Al-khatib

B. Guru-guru

Guru-guru Imam Hambali sangatlah banyak, kesmua guru beliau itu adalah ahli ilmu, seperti ahli ilmu tafsir, ushul, hadis, fiqih, lughah, tarik dan ilmu kalam. Di antara guru-guru beliau yang banyak itu ialah : Hasyim bin Basyir, Abdurrahman bin Mahdy, Yahya bin Sa’id Al-Qathan, Sofyan bin Uyainah, Ibrahim bin Sa’id, Muhammad bin Idris Asy. Syafi’I, Yahya bin Saiim, Walin bin Muslim, Abu Yusuf Al-Qadhy dan masih banyak lagi.

By : Tarikhul Baghdad, Karya : Abu Bakar Ahmad Al-katib

C. Kepribadian dan Sifat-sifatnya

Imam Hambali berperawakan sedang, wajahnya bagus dan rambutnya agak kemerah-merahan.

Beliau seorang pendiam dan tidak suka membanyakkan pembicaraan. Lemah lembut, merendahkan diri, tidak sombong dan suka menghormati orang lain. Wajah beliau selalu kelihatan gembira. Bila melihat sesuatu yang dilarang agama beliau memejamkan mata dan menundukkan kepala. Tidak senang mendengarkan perkataan keji dan menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak bermanfaat.

Bila berjalan beliau tidak suka diiringkan orang dan belakang dan beliau tidak congkak, kalau membenci seseorang, maka bencinya karena Allah dan bila senang kepada seseorang, senangnya pun karena Allah pula.

Beliau senang kepada fakir miskin dan orang-orang dalam kesusahan, dan tidak mau berkawin dengan orang-orang kaya yang sombong lagi mencintai hidup mewah.

Beliau berbuat baik kepada tetangga. Bila beliau dicela, maka beliau balas dengan kebaikan. Beliau benci kepada orang-orang yang aniaya dan orang-orang yang terang-terangan melanggar perintah Allah SWT.

Beliau suka kepada kebersihan dan pakaiannya putih-putih.

By : Nasehat para 25 Ulama, Karya : Al – Imam Syamsudin

D. Kedermawanan dan Kesosialannya

Meskipun Imam Hambali termasuk orang yang tiada berpunya, atau orang-orang yang kekurangan dalam hal keduniawian, tapi beliau sangat menjaga diri, bahkan kelihatan seperti orang yang berada dan berkecukupan saja. Beliau lebih baik menjadi pelayan dan lebih suka bekerja berat daripada menadahkan tangan mengharap-harap pemberian orang lain. Banyak sekali di dalam riwayat kehidupan beliau, bahwa beliau sering menolak hadiah dan pemberian orang. Bila tetangga atau sahabat-sahabat beliau memberi sesuatu, cepat-cepat beliau membalasnya dengan pemberian lebih banyak dan lebih bagus daripada apa yang beliau terima.

Beberapa contoh sifat dermawan dan sosialnya.

1. Sekali peristiwa beliau diberi hadiah oleh seorang tetangga, sepiring anggur dan lain-lainnya dengan nilai seharga kira-kira 3 dirham. Pada malam harinya disuruhnya anak beliau mengantarkan 7 Kg gula dan korma dengan nilai seharga 7 dirham.

2. Imam Yahya bin Hilal Al-Warraq pernah bertanya : saya pernah datang kepada Imam Ahmad, seraya beliau mengeluarkan empat dirham untukku sambil berkata : “Inilah milikku, hari ini semuanya untukmu.”

3. Harun Al-Mustamli mengatakan : “Aku bertemu dengan Imam Ahmad di suatu tempat, seraya aku katakan kepadanya : “Hari ini aku tidak punya sesuatu pun.” Ketika itu juga, beliau berikan kepadaku lima dirham, seaya berkata : “Aku tidak punya suatu apa pun kecuali ini.”

By : Kitabul Jahri Wat ta’dil

E. Ketaqwaan dan Ketaatannya

Imam Hambali sangat kuat beribadah kepada Allah. Di antara riwayat-riwayat ketakwaan dan ketaatan beliau adalah sebagai berikut :

    1. Putera beliau sendiri, yaitu Imam Abdullah bin Ahmad berkata : “Ayahku salat 300 raka’at sehari semalam ketika badan beliau sehat dan kuat, dan 150 raka’at sehari semalam, apabila badan beliau kurang sehat.”
    2. Putera beliau Abdullah berkata : “Ayahku tiap hari membaca sepertujuh dan Al-Quran dan tiap-tiap hari khatani sekali, tiap-tiap tujuh malam khatam pula sekali ; yaitu dibaca di dalam shalat malam, tidak termasuk yang dibaca siang hari. Pada malam hari, beliau bangun mengerjakan shalat tahajjud serta berdoa sampai waktu subuh. Pada malam hari beliau sedikit tidur.”
    3. Putera beliau Imam Shalih bin Ahmad berkata : “Ayahku pernah membikin kopiah dengan tangannya sendiri dan kain kapas. Beliau shalat malam hari dengan kopiah itu dan beliau banyak membaca surat.
    4. Putera beliau Ixnam Abdul bin Ahmad berkata. “Aku lihat ayah waktu beliau berusia lanjut banyak membaca Al-Qur’an dan banyak mengerjakan shalat antara dhuhur, dan ashar. Bila aku masuk ke rumah beliau berpaling dari shalat, kadang-kadang berbicara kadang diam saja.
    5. Imam Ibrahim Hani berkata : “Imam Ahmad itu orang yang zuhud, banyak ibadahnya, sering berpuasa, malanya sedikit tidur, salah malam dan berwitir sampai masuk subuh.

By : Kitabul Jahri Wat ta’dil

F. Imam Hambali Menolak Pangkat dan Kedudukan

Sebagaimana sudah diterangkan di muka bahwa Imam Hambali itu sejak dari kecil sudah terbiasa hidup susah, bahkan boleh dikatakan tak pernah mengecap hidup mewah.

Beliau berpendapat lebih baik lapar dan dahaga daripada makan dan minum barang haram, atau belum jelas halal haramnya. Karena itu pula, sedikit pun tidak terbayang di mata dan hati beliau untuk menjabat sesuatu jabatan di dalam pemerintahan.

Di masa Kepala Negara Harus ar-Rasyid pernah Baginda Harusn Ar-Rasyid meminta dicarikan seorang alim ulama, ahli hukum yang luas pengetahuannya, guna diangkat menjadi Qadhi di Yaman. Oleh Imam Syafi’i ditunjukkan orangnya yang dimaksud dan yang dicari oleh Kepala Negara itu, yaitu Imam Hambali. Maka Baginda Harun Ar-Rasyid pun menerima dan menyetujui calon yang diajukan oleh Imam Syafi’i.

Hal ini langsung diberitahukan oleh Imam Syafi’I kepada Imam Hambali. Atas penyampaian Imam Syafi’i ini, Imam Hambali menjawab : “aku datang untuk mencari ilmu bukan untuk mencari pangkat kedudukan dalam pemerintahan.”

By : Kitabul Jahri Wat ta’dil

G. Ujuan Pertama Terhadap Imam Hambali

Kalau tiga imam Mujtahid yaitu Imam Hanafi, Maliki, dan Syafi’I juga mendapat ujian, maka Imam mazhab yang keempat ini, yaitu Imam Hambali, mengalami pula ujian yang telah dialami oleh sahabat-sahabat beliau terdahulu, bahkan lebih berat lagi dari itu.

Memang sudah menjadi sunnatullah (peraturan Allah) bila seseorang yang akan dimuliakan oleh Allah, apalagi yang akan menjadi alim ulama pewaris Nabi-nabi ‘alaihimushshalatu wa sallam, maka ia akan diuji dengan beraneka ragam musibah sesuai dengan ketakwaannya masing-masing. Gunanya adalah untuk mengetahui atau untuk dapat membedakan mana emas dan mana loyang, mana yang hakiki dan mana pula yang ambisius, mana yang ash dan mana yang palsu, mana yang sebenarnya dan mana yang berpura-pura serta mana yang hak dan mana yang bath.

Marilah kita ikuti jalannya cerita, tentang ujian yang ditempuh oleh Imam Hambali di dalam mempertahankan dan menegakkan kebenaran.

Pada masa Harun Ar-Rasyid menjabat Kepala Negara pemerintahan Islam, ada seorang terkemuka bernama Basyar Al-Marisy. Basyar Al-Marisyi ini, berpendapat dan berpendirian bahwa Al-Quran itu adalah “Makhluk”. Orang yang berpendapat dan berpendirian demikian itu, oleh Baginda Harun Ar-Rasyid akan diancam dan akan dijatuhi hukuman berat. Selanjuta Baginda Harus Ar-Rasyid berkata : “Jika Allah memberikan kepadaku umur panjang dan aku bertemu dengan Basyar Al-Marisyi akan aku bunuh dia (Basyar Al-Marisy) dengan pembunuhan yang belum pernah aku lakukan kepada orang lain.”

Sedangkan Basyar Al-Marisy telah lari dan menyembunyikan diri selama 20 tahun sampai Baginda Harun Ar-Rasyid keburu wafat.

Pengganti Harun Ar-Rasyid ialah puteranya sendiri, yaitu Baginda Al-Amin. Maka Basyar Al-Marisyi pun muncul lagi, lalu meneruskan pendapat dan pendiriannya.

Baginda Al-Amin tetap mempertahankan dan melanjutkan pendirian ayahnya bahwa siapa saja yang berpendapat dan berpendirian Al-Quran itu makhluk, tetap akan diancam dan dijatuhi hukuman berat. Tapi sayang, Baginda Al – Amin belum sempat menghukum sudah keburu wafat pula. Selanjutnya tampuk pemerintahan dijabat dan dipegang oleh Baginda Al – Makmum, saudara kandung baginda Al-Amin atau masih putera baginda Harun Ar-Rasyid.

Dalam masa pemerintahan Baginda Al-Makmun (198 s/d 218 H) inilah, kaum mu’tazilah ikut serta mengatur dan mencampuri urusan pemerintahan dan mengakui pula serta bahkan dapat membenarkan pendapat dan pendirian yang mengatakan bahwa Al-Qur’am itu “Makhluk”, sebagaimana yang dianut dan disiarkan oleh Basyar Al-Marisyi. Sehingga, Baginda Al-Makmun terpengaruh oleh Basyar Al-Marisy ini dan baginda langsung memfatwakan kepada pendudukan bahwa Al-Quran itu makhluk.

Satu-satunya orang alim, atau orang besar ataupun ulama yang berani menantang, menolak dan membantah dengan ekras dan tegas pendapat dan pendirian Baginda Al-Makmun itu, hanyalah Imam Hambali. Imam Hambali mengatakan : “Al-Quran itu bukan makhluk. Al-Quran adalah Kalamullah (Firman Allah).” Karena pendirian Imam Hambali yang tegas ini, beliau dipanggil oleh Baginda Al-Makmun bersama-sama dengan tiga orang ulama lainnya, Imam Muhammad bin Nuh, Imam Ubaidilah bin Umar Al-Qawariri dan Imam Hasan bin Hammad Sajadah. Keempat orang itu ditanya oleh Baginda Al-Makmun tentang pendapat dan pendiriannya. Imam Ubaidillah bin Umar Al-Qawariri, menjawab pertanyaan Al-Makmun, tetapi Imam Hambali dan Imam Muhammad bin Nuh, tetap berpendirian sebagaimana pendirian beliau tersebut diatas, yaitu Al-Quran itu adalah Kalamullah, atau Al-Quran itu bukan makhluk. Karena pendirian kedua Imam ini tegas terhadap Al-Makmun, sebagai kepala negara yang sedang ebrkuasa penuh, maka kedua imam ini, yaitu Imam Hambali dan Imam bin Muhammad, ditangkap dan dimasukkan ke penjara.

Kemudian, kedua beliau ini dibawa ke Tharsus dengan tangan dirantai, dipertontonkan kepada penduduk, dan setelah sampai di Tharsus dimasukkan lagi ke penjara.

Pada masa itu, ada pula seorang alim besar bernama Ahmad bin Abi Daud. Dia sangat pintar berbicara. Terutama soal berdebat. Dia juga seorang ahli ilmu kalam, dan termasuk orang terdekat dengan Baginda Al-Makmun. Selain itu dia pandai pula menjilat kepada Kepala Negara. Apa saja pendapat dan buah pikirannya didengar dan diikuti oleh Baginda Al-Makmun.

Pada suatu ketika, Ahmad bin Abi Daun ini menyarankan kepada Baginda AL-Makmun supaya Imam Hambali dipanggil dan ditanyai lagi. Bila ternyata pendirian Ahmad bin Hambali tidak juga berubah, maka dijatuhkan hukuman berat saja.

Baginda Al-Makmun menerima usulan Ahmad bin Abi Daud ini. Seterusnya Imam Hambali dipanggil dan ditanya sekali lagi tentang pendiriannya. Ketika itu Imam Hambali tetap saja menjawab lebih tegas dan keras daripada jawaban beliau yang sudah-sudah “Al-Quran itu kalamullah dan tidak akan aku tambahi lagi dari itu.”

Demikian ujian pertama terhadap imam Hambali, di mana berulang ulang ditanya, diperiksa, digertak dan diancam, tapi tetap saja tak menggoyahkan pendirian beliau.

By : Syifatu Shalatin Nafsi, Karya : Syaikh Nashirudin Al-albani

H. Keluarganya

Ketika usia Imam Hambali 40 tahun, beliau menikah dengan seorang perempuan bernama Aisyah binti Fadhal. Dengan isteri ini, beliau dikaruniai Allah seorang anak laki-laki bernama Shaleh. Tidak berapa lama, isteri beliau yang pertama ini wafat. Tinggalah beliau hanya dengan seorang puteranya.

Setelah itu, Imam Hambali menikah dengan seorang perempuan bernama Raihanah. Pernikahan beliau dengan istri kedua ini, dikaruniai pula seorang putera bernama Abdullah. Kemudian isteri kedua inipun wafat.

Kemudian beliau menikah lagi untuk kali yang ketiganya dengan seorang perempuan bernama Husina, seorang budak perempuan (jariyah). Dan pernikahan dengan jariyah ini, beliau mendapat seorang puteri bernama Zainab. Kemudian lahir lagi dua anak laki-laki kembar, yang masing-masing bernama Hasan dan Husein. Kedua putera kembar ini usianya hanya beberapa hari saja dan kemudian wafat. Setelah itu beliau dikaruniai lagi dua orang putera kembar yang bernama Hasan dan Muhammad.

By : Syifatu Shalatin Nafsi, Karya : Syaikh Nashirudin Al-albani

I. Guru-guru dan Muridnya

Di antara guru-guru beliah ialah, Imam Abdurazzaq, Imam Hasan bin Musa, Imam As-Syafi’i dan banyak lagi lainnya.

Diantara murid-murid beliau ialah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur’fah Ar-Razi dan masih banyak lagi lainnya. Di antara murid-murid beliau ini ada yang sangat termasyhur dalam ilmu hadist yaitu Imam Bukhari, Muslim dan Abu Daud.

Karya-karyanya

Karya-karyanya antara lain :

    1. Kitab Al-Musnad, suatu kitab hadits yang besar
    2. Tafsir Al-Quran
    3. An-Nasikh wal Mansukh
    4. Kitab At-Tarikh
    5. Kitab Al-Wara’L
    6. Kitab Ash-Shalah

Pujian para Ulama kepada Imam Hambali

By : Syifatu Shalatin Nafsi, Karya : Syaikh Nashirudin Al-albani

J. Wafatnya

Keluarnya Imam Hambali dari penjara mengakibatkan keadaan fisik beliau lemah, sebab kena pukulan dan cemeti selama dalam penjara. Sebagian tulang-tulang beliau remuk dan bengkak-bengkak akibat pukulan dan siksaan. Sedangkan ketika itu beliau sudah berusia lanjut, mendekati 70 tahun. Meskipun demikian, beliau masih tetap memberikan fatwa-fatwa kepada masyarakat, bahkan masih kuat berpuasa sunat dan membaca Al-Quran.

Ketika berusia 77 tahun, beliau merasa sangat lemah badan beliau itu, sehingga sering sakit-sakitan. Bisa dikatakan pada saat itulah awal sakit keras beliau.

Tentang sakit beliau ini, sudah banyak diketahui oleh masyarakat umum di dalam dan di luar kota. Bahkan telah diketahui pula oleh orang-orang yang jauh, sehingga pada berdatanganlah masyarakat, berkunjung melihat sakit beliau.

Pada hari jum’at tanggal 12 Rabi’ul awwal tahun 241 H, Imam Hambali wafat dalam keadaan tenang di Baghdad. Jenazah beliau sholatkan oleh ribuan manusia, terdiri dari segala lapisan masyarakat. Imam Hambali meninggal dunia dalam usia 77 tahun. Jenazah beliau dikuburkan pada siang hari, jum’at itu juga di Baghdad. Jenazah beliau dilepas dan diantar oleh ribuan kaum muslimin.

Berkenaan dengan hari wafatnya, terdapat riwayat bahwa kamu Yahudi dan Nasrani juga ikut berduka cita dan kira-kira 10.000 kaum Yahudi dan Nasrani tersebut lalu masuk Islam. Masya Allah, alhamdulillah.

Inilah sebuah contoh iman yang subur, sedikit pun tak luntur, meskipun bertubi-tubi digempur. Sedikit pun tak kecewa, walaupun dipenjara, didera dan disika oleh pejabat yang sedang berkuasa.

Bukti-bukti katanya yang mengandung hikmah dan pengajaran :

1. Berkata Imam Ahmad bi Hambal ra.: “Tak pernah aku melakukan shalat selama empat puluh tahun, tanpa berdo’a untuk Imam Asy-Syafi’i.”

2. Berkata Ahmad bin Hambal ra. : “Yang paling banyak berdusta, di antara manusia, ialah tukang cerita dan peminta-minta.”

3. Berkata Ahmad bin Hambal ra. : “ Orang ilmu kalam itu tidak akan memperoleh kemenangan selama-lamanya. Hampir kita tidak melihat seorang pun yang memperhatian ilmu kalam itu, melainkan di dalam hatinya terdapat keragu-raguan.”

4. Muhammad bin Ahmad Al-Maruzi berkata : “Aku mendengar Ahmad bin Hambal mengatakan : “Apabila kamu masuk ke perkuburan, bacalah Surah Al-Fatihah, Surat Al-Mu’awwa-dzatain (Surah : Qul-a-‘uu dzu bi roabbil-falaq dan Surah : Qula-‘uudzi bi rabbin – naas) dan qul huwallahu ahad! Jadikanlah pahalanya untuk yang berada dalam kubur itu! Maka pahala itu akan sampai kepada mereka.”

5. “Barang siapa menghormati ahli hadits, maka besarlah mereka di mata Rasulullah . dan barang siapa menginakannya, maka hinalah mereka di mara Rasulullah saw, karena mereka itu adalah pengganti Rasulullah saw.” 5)

6. “Tidak ada bahaya bagi iman, kecuali kecintaannya kepada dunia dan tidak ada bahaya bagi hati, kecuali kecondongannyya kepada perhiasan dunia. Bila iman rusak dan hati hancur, apalagi yang akan dibanggakan seseorang dihadapan Allah nanti. ?

Demikianlah riwayat hidup ringkas yang mulia Imam Hambali dan beberapa butir kata-kata beliau yang mengandung hikmah dan pengajaran. Mudah-mudahan bermanfaatlah untuk kita semuanya. Amin

By : Syifatu Shalatin Nafsi, Karya : Syaikh Nashirudin Al-albani

Terakhir terimalah beberapa untaian kata dan kalimat :

1. Ini baru namanya iman dan Imam yang membaja, dada yang berisi takwa, amal yang penuh keikhlasan, pribadi yang bernilai, maju tak gentar, contoh dan teladan, bagi geenrasi kemudian;

2. Inilah contohnya ulama akhirat, menolak diberi kedudukan dan pangkat, biar hidup miskin asal tetap taat.

Doa kita, semoga semua hamba-hamba Allah yang salah, baik dahulu ataupun kemudian mendapat ridha Allah. Amin

Wallahul muwaffiqu bimannihi wakaramihi.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU