Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Sabtu, 15 November 2008

Konsep Dasar Teori Cedera Otak Ringan

Konsep Dasar Teori Cedera Otak Ringan

Pengertian

· Cedera kepala adalah keadaan dimana struktur lapisan otak dan lapisan kulit kepala tulang tengkorak (durameter, pembuluh darah serta otaknya mengalami cedera baik yang trauma tertutup maupun trauma tembus (Satya Negara, 1998:59).

· Cedera otak adalah suatu penurunan kesadaran sementara yang terjadi setelah mengalami benturan (………………..)

· Cedera kepala adalah setiap trauma pada kepala yang menyebabkan cedera pada kulit kepala, tulang tengkorak maupun otak (……………………..).

· Cedera kepala ringan adalah trauma kepala dengan skala Glasgow coma scale 15 (sadar penuh) tidak kehilangan kesadaran, mengeluh pusing dan nyeri kepala dapat terjadi abrasi lacerasi, haemotoma kepala dan tidak ada criteria cidera sedang ebrat (Mansjoer, 2000:74).

Klasifikasi Cedera Otak

Cedera otak dapat diklasifikasi berdasarkan mekanisme keparahan dan morfologi cedera (……………………….)

· Mekanisme otak dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme keparahan dan morfologi cidera (……………………)

- Trauma Tumpul : Kecepatan tinggi (tabrakan otomotif)

kecepatan rendah (terjatuh, terpukul)

(……………………….)

- Trauma Tembus : Luka tembus peluru dan cera tembus lainnya

(……………………….)

· Keparahan cedera

1. Ringan : GCS 19 - 15

2. Sedang : CGS 9 - 13

3. Berat : CGS 23- 8

Tanda dan Gejala

a. Cedera Kepala Ringan

· Skore skala koma GCS 15 (sadar penuh, otensif, dan orientatif).

· Tidak hanya kehilangan kesadaran (missal konkasi)

· Pasien dapat mengeluh sakit kepala dan pusing

· Pasien dapat menderita alberasi, loserasi, dan hematoma kulit kepala.

b. Cedera Kepada Sedang

· Skore skala koma GCS 9 – 14 (Konfusi/latergi, stupor)

· Konkasi

· Amnesia pasca bedah

· Muntah

· Tanda kemungkinan fraktur kronium (tanda battle, mata rabun, hemotimpanam, otorea, atau renorea, cairan serehrospinal)

· Kejang

· Cedera Kepala Berat

· Skore skala koma GCS 3 – 8 (koma)

· Penurunan derajat kesadaran secara progesif

· Tanda Neorologis fokul

· Cedera kepala penetrasi / teraba faktur depresi kranium

TABEL SKALA KOMA GLASGION (GCS)

Buka Mata

(E)

Respon Verbal Terbalik

(V)

Respon Motorik Terbalik

(M)

4 = Spontan

5 = Orientasi baik dan sesuai

6 = Mengikuti perintah

3 = Dengan perintah

4 = Orientasi tempat x waktu

5 = melokalisir nyeri

2 = Dengan rangsan nyeri

3 = bicara kacau

4 = menghadapi nyeri

1 = Tidak ada reaksi

2 = mengerang

2 = ektensi abdominan

1 = tidak ada

2 = akstensi abdominal

1 = tidak ada gerakan

(Kapita Selekta, 2000 : 4)

Etiologi

Penyebab cedera otak adalah karena adanya trauma ruda paksa yang dibedakan menjadi dua factor yaitu :

1. Trauma Primer

Terjadi karena benturan langsung atau tidak langsung (akselerasi dan deselerasi).

2. Trauma Sekunder

Terjadi akibat trauma saraf (melalui akson 1 yang meluas, hipertensi intracranial, hipoksia, hiperkapnea, atau hipotensi sitemi) (Hundak dan Gallo, 1996, 1996 : 108)

Patofisiologi

Trauma pada kepala menyebabkan tengkorak beserta isinya bergetar, kerusakan yang terjadi tergantung pada besarnya getaran makin besar kerusakan yang timbul, getaran dari benturan akan diteruskan menuju Gaira Aponeurotika sehingga banyak energi yang diserap oleh perlindungan otak hal itu menyebabkan pembuluh darah robek sehingga akan menyebabkan haematoma epidural, sub dural, maupun intracranial, perdarahan tersebut juga akan mempengaruhi pada sirkulasi darah ke otak menurun sehingga suplay oksigen berkurang dan terjadi hipoksia jaringan akan menyebabkan adema cerebral. Akibat dari haematoma diatas akan menyebabkan distorsi pada otak, karena isi kotak terdorong kea rah yang berlawanan yang berakibat pada kenaikan T-I-K (Tekanan Intra Kranial) merangsang kelenjar pituatasi dan steroid adrenal sehingga sekresi asam lambung meningkat akibatnya timbul rasa mual dan muntah dan anoroksia sehingga masukan nutrisi kurang (Markum, 1999 : 24).

Gambaran Klinik

3. Pada Contosio segera terjadi kehilangan peredaran pada haemotoma mingkin hilang segera atau bertahap. Dengan membesarnya haemotoma atau membesarnya haemotoma atau adenia interstisium.

4. Pola pernafasan dapat segera progresif menjadi abnormal

5. Respon pupil mungkin lenyap, atau segera progesif mungkin memburuk.

6. Nyeri kepala dapat segera muncul atau seiring dengan peningkatan buruk.

7. Dapat timbul muntah-muntah akibat penekanan intracranial.

8. Perubahan perilaku dan perubahan fisik pada berbicara dan gerakan

9. Motorik dapat timbul segera atau secara lambat.

Komplikasi

Suatu komplikasi yang serius tetapi relative jarang terjadi adalah pendarahan di antara lapisan selaput yang membungkus otak atai pendarahan dalam otak.

· Hematoma epidural adalah suatu pendarahan diantara tulang tengkorak dan selaputnya / durameter. Pendarahan ini terjadi akibat kerusakan pada artei atau vena pada tulang tengkorak. Pendarahan menyebabkan meningkatnya tekanan di dalam otak sehingga lama-lama kesadaran anak akan menurun.

· Hematoma subdural adalah pendarahan di bawah durameter, biasanya disertai dengan cedera kepala. Gejala rasa mengantuk sampai hilangnya kesadaran, hilangnya sensasi atau kekuatan dan pergerakan abnormal (termasuk kejang).

· Hematoma intraventikuler (pendarahan di dalam rongga internal/ventikel), hematoma intraparenkimal (perdarahan di dalam jaringan otak/maupun hematoma subraknoid (pendarahan di dalam selaput pembungkus otak), merupakan pertanda dari cedera kepala yang berat dan biasanya menyebabkan kerusakan otak jangka panjang).

Penatalaksanaan

Penilaian Awal

a) Merinci jalan napas : bersihkan jalan napas yang debris dan muntahan, lepaskan gigi palsu : pertahankan tulang servikal segaris dengan badan dengan memasang kalor servikal, pasang guedel bila dapat di tolerir. Bila cedera orakasial menganggu jalan napas maka pasien harus inkubasi.

b) Menilai pernapasan : tentukan apakah pasien bernapas dengan spontan atau tidak. Jika tidak berikan O2 melalui marker oksigen. Jika pasien bernafas spontan : selidiki dan atasi cedera dada berat seperti pneumotoraks. Penumotorak tensif. Hemopnen motoraks pasang aksimeter nadi. Jika jalan napas pasien tidak terlindung bahkan terancam atau memperoleh oksigen adekuat (PaO2) 95 mmHg dan PaCO2 dan PaCO2 (40 mmHg serta saturasi O2 >95%) atau muntah maka pasien harus di inkubasi oleh ahli anastesi.

c) Memulai sirkulasi : otak yang rusak tidak mentolesir hipotensi.

Hentikan semua pendarahan dengan menekan arterinya. Perhatikan secara khusus adanya cedera intrabdomen atau dada ukur dan catat denyt jantung dan tekanan darah. Pasang alat pemantau dan EKG bila tersedia pasang jalur intravena yang ebsar ambil darah Vena untuk pemeriksaan darah periker lengkap. Elektrolit, glukosa dan analisis gas darah arteri. Berikan lamtan koloid, sedangkan lamtan kristoloid (dektrosa aau dektrosa dalam salin) menimbulkan eksasesbasi edem otak pasca cedera kepala. Keadaan hipotensi, hipoksia dan hperkapria memperburuk cedera kepala.

(Penanganan Cedera Kepala, Fakultas Kedokteran, UNAIR).

d) Obati kejang : kejang konnulsip dapat terjadi setelah cedera kepala dan harus di obati. Mulai-mula berikan diazepam 10 mg intravena perlahan-lahan dan dapat diulangi sampai 3 x bila masih kejang. Bila tidak berhasil dapat diberikan keniton 15 ma/kg BB diberikan intravena perlahan-lahan dengan kecepatan tidak melebihi 30 mg/menit.

Penatalaksanaan Khusus

1. Cedera kepala ringan : pasien dengan cedera ini umumnya dapat dipulangkan tanpa perlu dilakukan pemeriksaan CT Scan.

Bila memenuhi criteria berikut :

· Hasil pemeriksaan neurologist (terutama status mins mental dan gaya berjalan) dalam batas normal.

· Foto servikal jelas normal

· Adanya orang yang bertanggung jawab untuk mengamati pasien selama 24 jam pertama dengan instruksi untuk segera kembali jika timbul pemburukkan.

Pada semua pasien dengan cedera kepala / leher dilakukan foto tulang belakang servikal (proyeksi-posterior, lateral dan adontroid), kalor servikal baru di lepas setelah di pastikan bahwa seluruh tulang servikal C1-C7 normal.

Kriteria perawatan di rumah sakit

· Adanya darah intracranial atau fraktur yang tampak pada CT Scan.

· Konfusi, agitasi atau kendaraan menurun

· Adanya tanda atau gejala neurologis fatal.

· Introksikasi obat akan alcohol

· Adanya penyakit medis komorbid yang nyata

· Tidak ada orang yang dapat di percaya untuk mengamati pasien di rumah.

2. Cedera Kepala sedang = pasien yang menderita konkasi otak (komosio otak) dengan CGS 15 (Sadar penuh, orientasi baik dan mengikuti perintah) dan CT Scan normal, tidak perlu dirawat. Pasien ini dapat dipulangkan untuk observasi di rumah, meskipun terdapat nyeri kepala, mual, muntah, pusing atau amnesia. Resiko timbulnya lesi intracranial lanjut yang bermakna pada pasien dengan cedera kepala sedang adalah minimal.

3. Cedera Kepala Berat = setelah penilaian awa dan stabilisasi tanda vital. Keputusan segera pada pasien ini adalah apakah terdapat indikasi interrensi bedah saraf segera (hematoma intracranial yang besar) jika ada indikasi harus segera di konsultasikan ke bedah saraf untuk tindakan operasi.

Penatalaksanaan cedera kepala berat sebaiknya dilakukan di unit rawat intensif. Walaupun sedikit sekali yang dapat dilakukan untuk kerusakan primer akibat cedera, tapi setidaknya dapat mengurangi kerusakan otak sekunder akibat hipoksia, hipertensi, atau tekanan intracranial yang meningkat.

· Penilaian ulang jalan nafas dan ventilasi : umumnya pasien dengan stupor atau koma (tidak dapat mengikuti perintah karena derajat kesadaran menurun). Harus di inkubasi untuk proteksi jalan nafas, jika tidak ada bukti tekanan intrakronial meningkat parameter harus diatur sampai PCO2 mmHg dan PO2 90-100 mmHg.

· Monitor tekanan darah : jika pasien memperlihatkan tanda ketidakstabilan hemodinamik (hipotensi atau hipertensi). Pemantauan paling baik dilakukan dengan katebar arteri karena auforegulasi sering terganggu pada cedera kepala. Akut. Maka tenakan dari arteri rata-rata harus dipertahankan untuk menghindari hipotensi (<70mmhg)> 130mmHg) hipotensi dapat menyebabkan uskemia otak sedangkan hipertensi dapat mengeksaserbasi serebi.

· Pemasangan alat monitor tekanan intracranial pada pasien dengan skor GIS <>

· Penatalaksanaan cairan : hanya isotonic (sulin normal atau larutan ringer laktat) yang diberikan kepada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan dalam sulin 0,45% atau dekstrosa 5% dalam air 105) dapat menimbulkan aksaserbasi edema serebi.

· Pemasangan alat monitor tekanan intracranial pada pasien dengan skor GIS <>

· Penatalaksanaan cairan : hanya isotonic (sulin normal atau larutan ringer laktat) yang diberikan kepada pasien dengan cedera kepala karena air bebas tambahan dalam sulit 0,45% atau dekstrosa 5% dalam air 105) dapat menimbulkan aksaserbasi edema serebi.

· Nutrisi : cedera kepala berat menimbulkan respon hipermetabolik dan katabolic dengan keperluan 50 – 100 % lebih tinggi dari normal. Pemberian makanan enternal melalui pipa nasogostrik/nasoduadenal harus diberi sesegera mungkin (biasanya hari ke-2 perawatan).

· Temperatur badan : demam (temperature > 1001K) mengeksaser basi cedera otak dan harus diobati secara agresif dengan asetaminafen atau kompres dingin. Pengobatan penyebab (antibiotik) diberikan bila perlu.

· Anti kejang Fenitoin 15-20 mg/KgBB Lobus intravena, kemudian 300 mg/hr Intravena mengurangi frekuensi kejang parkutranma dini (minggu pertama) dari 14% menjadi 4 % pada pasien dengan pendaharaan intracranial traumatic. Pemberian fenitoin tidak mencegah timbulnya epilepsi pasca trauma di kemudian hari. Jika pasien tidak menderita kejang fenitoin harus diberikan setelah 7-10 jari. Kadar fenitoin harus dipantau ketat karena kadar subterapi sering disebabkan hipermetabolisme fenition.

· Steroid = steroid tidak terbukti mengubah hasil pengobatan pasien dengan cedera kepala dan dapat meningkatkan resiko infeksi hiperglikemia dan komplikasi lain. Untuk itu steroid hanya dipakai sebagai pengobatan terakhir pada herniasi serebi akut (diksametason 10 mg intravena setiap 4-6 jam selama 48-72 jam/2-3 hari).

· Profilaksis trombosis vena dalam = sepatu bot komprosif P.Neumatik dipakai pada pasien yang tidak bergerak untuk mencegah terjadinya trombosis vena dalam pada ekremitas bawah dan resiko yang berkaitan dengan tromboemboli paru. Hepain 5.00 unit subkutan setiap 12 jam dapat diberikan 72 jam. Setelah cedera pada pasien dengan Imobilisasi lama, bahkan dengan adanya pendarahan intracranial.

· Profilaksis ulkas peptic = pasien dengan ventilasi mekanis atau koagulapsi memiliki resiko ulserasi stress gastric yang meningkat dan harus mendapat ranitidine 50 mg intravena setiap 8 jam atau sukralfat 1 gr per orang setiap 6 jam atau H2 antogonis lain atau inhibitor proton.

· Antibiotik : penggunaan antibiotic sulin untuk profilaksis pada pasien dengan cedera kepala terbuka masih kontraversil. Golongan phinisilin dapat mengurangi resiko meningitis pnemokok pada pasien dengan otorea rinorea-cairan sarabrospinal atau udara intracranial tetapi tidak meningkatkan resiko infeksi dengan organisme yang lebih viralen.

· CT Scan lanjutan : umumnya scan otak lanjutan harus di lakukan 24 jam setelah cedera awal pada pasien dengan pendarahan intrakronial untuk menilai pendarahan yang progresif atau yang timbul belakangan. Namun biaya menjadi kendala penghambat.

Diagnosis

1. Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik

3. Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU