Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Rabu, 25 Juni 2008

Pemikiran Kalam

PEMIKIRAN KALAM

Perbedaan di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemuka dalam bentuk praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu demikian tampak melalui perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek filosofis di guar persoalan keesaan Allah, keimanan kepada para rasul, para malaikat, hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada peluang untuk memperdebatkannya. Jika dikaji, maka sesungguhnya terdapat beberapa faktor yang turut mendorong suburnya perbedaan (ikhtilaf) balikan terkadang perpecahan (iftiraq) di kalangan umat Islam, di antaranya sebagai berikut:

1. Fanatisme Tribal

Khususnya di kalangan bangsa Arab, fanatisme tribal (kesukuan) yang menguat kembali pasca wafatnya Nabi saw memberi sumbangsih tersendiri bagi terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam. Sebagaimana diketahui bahwa pertentangan yang mulai memanas di penghujung kekhalifahan Utsman tidak dapat dilepaskan dari tarik-menarik kepentingan antara Bani Umayyah dan Bani Hasyim. Demikian pula di balik kemunculan Khawarij yang banyak disokong kalangan kabilah Rabi'ah seolah menyulut kembali sejarah lama perseteruan jahiliyah antara suku Mudhar dan suku Rabi'ah yang sempat padam pada masa kenabian. Rasulullah pernah bersabda:

"Orana-orana yang mengajak kepada sikap fanatisme bukanlah termasuk dari golongan kami."

2. Perebutan Kekuasaan

Persoalan tentang siapa yang paling berhak menjadi pemimpin umat pasca Rasulullah menjadi wacana yang membuka tabir perbedaan yang sarat dengan muatan politis. Perdebatan pertama seputar masalah ini terjadi antara kalangan Anshar dan Muhajirin yang kala itu untuk sementara waktu mereka tanpa insiden apapun berkat kebesaran hati kaum Muhajirin menerima kepemimpinan kaum Anshar. Wacana tersebut kemudian berkembang lebih lanjut di kalangan Muhajirin khususnya suku Quraisy, yakni apakah yang berhak menjadi pemimpin umat itu berasal dari suku Quraisy secara keseluruhan ataukah hanya keturunan tertentu saja. Belakangan, aliran Khawarij menyuarakan kembali wacana ini dengan pandangan bahwa kepemimpinan umat dapat dineP,ana oleh seriap orang Islam tanpa membedakan golongan maupun keturunannya. Allah berfirman:

"Orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian."

Rasulullah pernah bersabda:

"Jika seorang budak yang berkulit hitam dan berhidung pesek diangkat untuk memimpin kamu dan iapun memimpin berdasarkan al-Qur'an, maka dengarkanlah dan patuhilah (Muslim)."

3. Pengaruh Pemikiran Keagamaan Lain

Ketika banyak penganut agama terdahulu baik itu Yahudi, Nasrani maupun Majusi yang masuk Islam, implikasi yang mungkin terjadi adalah terbawanya pemikiran-pemikiran atau perspektif keyakinan agama lama mereka ke dalam pemahaman ajaran agamanya yang baru. Dialogika pemikiran semacam ini terkadang memunculkan persoalan-persoalan baru dalam pemahaman agama umat. Merebaknya kisah-kisah Israiliyat dan dongeng-dongeng dalam berbagai karya keagamaan Islam merupakan contoh adanya dialogika pemikiran keagamaan Islam dengan agama lainnya..

4. Pengaruh Pemikiran Filsafat

Pengaruh filsafat tampak jelas mewarnai perkembangan pemikiran keagamaan umat Islam. Hal ini dgpat clibuktikan melalui tema-tema yang menjadi lokus perdebatan umat maupun metode berfikir mereka yang ternyata memiliki kesinambungan dengan isu-isu kontroversif dan metodologi yang dikembangkan oleh para filsuf Yunani maupun Romawi yang karya-karyanya banyak diterjemahkan dan ditelaah kembali nada masa Islam. Persebaran pemikiran filsafat ini mendorong sebagian orientasi pemahaman keagamaan kearah penalaran-penalaran yang bersifat spekulatif, abstrak dan rentan perbeclaan.

5. Dinamika Penafsiran Teks Agama

Ketika teks-teks wahyu bersifat terbatas, sementara persoalan-persoalan aktual umat senantiasa berkembang dan tidak terbatas, usaha penggalian atau penafsiran pesan-pesan teks suci secara serius memang menjadi suatu kebutuhan untuk kepentingan teoritis maupun praktis. Aktivitas tafsir ini senantiasa berlangsung mengikuti dinamika kesejarahan umat. Pada konteks ini, perbedaan kerapkali terjadi tidak saja dipicu oleh adanya sifat ambigu (isytibah) pada sebagian teks agama, tetapi juga oleh faktor perbedaan metodologi tafsir dan kapasitas intelektual serta bias ideologis.

Pengaruh perdebatan teologi bercorak kalam yang terjadi pada masa-masa awal tersebut ternyata banyak terpelihara hingga kini. Hal itu umumnya dikarenakan pemikiran-pemikiran yang ada masih memiliki daya tank untuk dapat dijadikan rujukan pemikiran maupun rumucan keyakinan melalni jalur akademik maupun kultural di kalangan umat Islam. Tetapi realitas ini tidak menutup fakta adanya dinamika pemikiran teologi Islam sekalipun tidak semassif pada masa-masa pertumbuhan dan pemantapan Ilmu K alarn. Berbagai fenomena gerakan moderen dan Wahhabiyah, Bahaiyah, Qadiyaniyah hingga Neo-Mu'tazilah setidaknya juga mempunyai dimensi pemikiran kalam yang menunjukkan adanya dinamika tersebut. Tidak hanya semata sebagai suatu gerakan revivalis, melainkan iuga sebagai gerakan kritik bahkan pengembangan metodologi barn pemikiran kalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU