Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Selasa, 29 April 2008

Kelainan Jantung Pada Usia Kehamilan

Kelainan Jantung Pada Usia Kehamilan

1. Jantung

1.1 Pengertian

Suatu keadaan patofisiologis adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan / kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan penfisian ventrikel kiri.

(Ilmu penyakit dalam, Syaifoelah Noer, 1996 : 975)

1.2 Etiologi

Sebagian besar disebabkan oleh demam reumatik, bentuk kelainan katup yang sering dijumpai stenosis mitral, insufesiensi mitral, stenosis aorta, insufisiensi aorta. Penyakit katub pulmonal, dan trikuspidal.

(Arief Manskoer. 2000 : 282)

1.3 Patofisiologi

Terjadi hidremia (hiperrolemia) dalam kehamilan dimulai sejak usia kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada usia kehamilan 32 – 36 mgg. Utenis yang semakin membesar mendorong diafragma keatas, kiri, depan sehingga pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan. Kemudian 12 – 24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma kemudian di ikuti perieode diuresis pasca persalinan yang menyebabkan penurunan volume plasa / hemokonsentrasi.

(Arief Manskoer. 2000 : 282)

1.4 Manifertasi Klinis

- Cepat merasa lelah

- Jantung berdebar-debar

- Sesak nafas kadang disertai sianosis

- Edema tungkai

- Mengeluh tentang bertambah besarnya rahim yang tidak sesuai

(Prof. Dr. Ida Bagus Ede Manuaba, 1998 : 272)

1.5 Diagnosis

Dari anamnesis sering diketahui bahwa wanita itu penderita penyakit jantung baik sebelum hamil maupun dalam kehamilan yang terdahulu terutama pada penyakit demam reumatik.

Menurut Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria yaitu :

- diastolic, presistolik, atau bising jantung terus menerus

- Pembesaran Jantung

- Bising jantung yang nyaring, terutama disertai thrill

- Aritmia yang berat.

(Hanifa Wiknjosastro, 2005 : 432)

1.6 Pengaruh Kehamilan dan Persalinan terhadap Penyakit Jantung

- Pada kehamilan 32 – 36 minggu terjadi hipervolumia

- Pada kala II, dimana wanita hamil mengerahkan tenaga untuk mengedan dan memerlukan kerja jantung berat.

- Pada pasca persalinan dimana darah dari ruang intervilus plasenta yang sudah lahir, sekarang masuk kedalam sirkulasi darah ibu.

- Pada masa nifas, kemungkinan terjadi infeksi.

1.7 Pemeriksaan Penunjang

Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan :

- EKG untuk mengetahui kelainan irama, kardiomegali, tanda penyakit perikurdium iskemia, atau infark dapat dikemukakan tanda-tanda aritmia.

- Ekokardiografi untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik katup dan pericardium.

- Pemeriksaan radiology dihindari dalam kehamilan, namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberikan perlindungan di abdomen dan pelis.

(Arief Manskoer. 2000 : 282)

1.8 Klasifikasi penyakit Jantung

a. Kelas I

- Tanpa pembatasan kegiatan fisik.

- Tanpa gejala apabila melakukan kegiatan biasa

b. Kelas II

- Sedikit pembatasan kegiatan fisik

- Waktu istirahat tidak ada keluhan

- Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insufisiensi jantung (seperti kelelahan, jantung berdebar-debar, sesak nafas)

c. Kelas III

- Kegiatan fisik sangat dibatasi

- Waktu istirahat tidak ada keluhan

- Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala infusiensi jantung

d. Kelas IV

- Pasien yang memperlihatkan gejala insufiesiensi jantung, walaupun dalam keadaan istirahat.

1.9 Penanganan

a. Dalam Kehamilan

- Memberikan pengertian kepada ibu hamil untuk melaksanakan pengawasan antenatal yang teratur.

- Kerjasama dengan ahli penyakit dalam / kardiolog.

- Pencegahan kenaikan berat badan dan retensi air yang berlebihan. Jika terdapat anemia harus diobati.

- Bila terjadi keluhan yang agak berat, seperti sesak nafas. Infeksi saluran pernafasan dan diagnosis penderita harus dirawat di rumah sakit.

- Skema kunjungan antenatal setiap 2 minggu menjelang kehamilan 28 minggu dan ix seminggu setelahnya.

- Wanita hamil dengan penyakit jantung harus cukup istirahat, cukup tidur, diet rendah garam dan pembatasan jumlah cairan.

- Sebaiknya penderita dirawat 1-2 minggu sebelum taksiran persalinan.

- Pengobatan khusus tergantung pada kelasnya penyakit.

n Kelas I : Tidak memerlukan pengobatan tambahan

n Kelas II : biasanya tidak memerlukan terapi tambahan, mengurangi kerja fisik terutama antara kehamilan 28 – 30 minggu.

n Kelas II : memerlukan digitalisasi atau obat lainnya. Sebaiknya di rawat di rumah sakit sejak kehamilan 28 – 30 minggu.

n Kelas IV : harus dirawat di rumah sakit dan diberikan pengobatan bekerja sama dengan kardiolog.

b. Dalam Persalinan

Penderita kelas I dan kelas II biasanya dapat meneruskan kehamilan dan bersalin pervaginam,namun dengan pengawasan yang baik serta bekerja sama dengan hali penyakit dalam.

- Membuat daftar his : daftar nadi, pernafasan, tekanan darah yang diawasi dan dicatat setiap 15 menit dalam kala I dan setiap 10 menit dalam kala II. Bila ada tanda-tanda payah jantung (dekompensasi kordi) diobati dengan digitalis.

- Memberikan sedilanid dosis awal 0,8 mg dan ditambahkan sampai dosis 1,2 – 1,6 mg intravena secara perlahan-lahan. Jika perlu, suntikkan dapat diulang 1-2 kali dalam dua jam. Dikamar bersalin harus tersedia tabung berisi oksigen, morfin, dan suntikkan diuretikuni.

- Kala II yaitu kalayang kritis bagi penderita. Bila tidak timbul tanda-tanda payah jantung, persalinan dapat ditunggu, diawasi dan ditolong secara spontan. Dalam 20-30 menit, bila janin belum lahir, kala II segera diperpendek dengan ekstraksi vakum atau forseps. Kalau dijumpai disproporsi sefalopelvik, maka dilakukan session sesarea local anestesi/lumbal/kaudal dibawah pengawasan beberapa ahli multi disiplin.

- Untuk menghilangkan rasa sakit boleh diberikan obat analgesic seperti petidin dan lain-lain. Jangan diberikan barbiturate (puminal) atau morfin bila ditaksir bayi akan lahir dalam beberapa jam.

- Kala II biasanya berjalan seperti biasa pemberian ergometrin dengan hati-hati, biasanya sintometrin intramuskuler adalah.

(Rustam Mochtar, 1998 : 139 – 140)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU