Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Minggu, 04 April 2010

Pengertian Auditing

Pengertian Auditing

Report of the Committee on Basic Auditing Concepts of the American Accounting Association (Accounting Review, Vol. 47) memberikan definisi auditing sebagai:

"Suatu proses sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-asersi kegiatan dan peristiwa ekonomi, dengan tujuan menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan." (Boynton dkk., 2002:5)

Beberapa ciri penting yang ada dalam definisi tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Suatu proses sistematis berupa serangkaian langkah atau prosedur yang logis,
terstruktur, dan terorganisir.

2. Memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif berarti memeriksa dasar asersi serta mengevaluasi hasil pemeriksaan tersebut tanpa memihak dan berprasangka, baik untuk atau terhadap perorangan (atau entitas) yang membuat asersi tersebut.

3. Asersi tentang kegiatan dan peristiwa ekonomi merupakan representasi yang dibuat oleh perorangan atau entitas.

4. Derajat kesesuaian menunjuk pada kedekatan dimana asersi dapat diidentifikasi dan dibandingkan dengan kriteria yang telah ditetapkan.

5. Kriteria yang telah ditetapkan adalah standar-standar yang digunakan sebagai dasar untuk menilai asersi atau pernyataan. Kriteria dapat berupa peraruran-peraturan spesifik yang dibuat oleh badan legislatif, anggaran atau ukuran kinerja lainnya yang ditetapkan oleh manajemen.

6. Penyampaian hasil diperoleh melalui laporan tertulis yang menunjukkan
derajat kesesuaian asersi dan kriteria yang telah ditetapkan.

7. Pihak-pihak yang berkepentingan adalah mereka yang menggunakan (atau
mengandalkan) temuan-temuan auditor. Dalam lingkungan bisnis, mereka adalah para pemegang saham, manajemen, kreditor, kantor pemerintah, dan masyarakat luas.

Menurut Guy dkk. (2002:5-6) audit didefinisikan sebagai:
"Suatu proses sistematis yang secara obyektif memperoleh dan mengevaluasi bukti yang terkait dengan pernyataan mengenai tindakan atau kejadian ekonomi untuk menilai tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.”

. Jenis-jenis Auditing
Selain mengethaui pengertian auditing, perlu juga diketahui jenis-jenis auditing yang ada. Sehingga tiap kali auditor akan melakukan audit, auditor dapat mengetahui jenis audit yang dilakukannya dan proses auditing yang akan ditempuh menjadi lebih jelas dan terarah.

Menurut Mulyadi (2002:30-32), auditing umumnya digolongkan menjadi 3 golongan :

1. Audit Laporan Keuangan (Finacial Statement Audit)
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk menyatakan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam audit laporan keuangan ini, auditor independen menilai kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi berterima umum. Hasil auditing terhadap laporan keuangan tersebut disajikan dalam bentuk tertulis berupa laporan audit, laporan audit ini dibagikan kepada para pemakai informasi keuangan seperti pemegang saham, kreditur, dan Kantor Pelayanan Pajak.

2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang di audit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat kriteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan.

3. Audit Operasional {Operational Audit)

Audit operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk:
a. Mengevaluasi kinerja
b. Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan
c. Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tindakan lebih lanjut

Smike (1982, dalam Tunggal, 2000:11) mendefinisikan tipe auditing sebagai berikut :
1. Pemeriksaan manajemen (Management Auditing) dapat didefinisikan sebagai penilaian system manajemen perusahaan, apakah system tersebut beroperasi secara efektif dan risiko apa yang mungkin timbul apabila sistem tersebut tidak beroperasi secara efisien.

2. Pemeriksaan Operasional (Operational Auditing) dapat didefinisikan dalam
rerangka yang sama seperti pemeriksaan manajemen, kecuali bahwa
pemeriksaan operasional lebih berlaku terhadap sistem operasi auditee daripada sistem manajemennya.

3. Pemeriksaan Komprehensif (Comprehensive Auditing) merupakan integrasi
dari berbagai unsur manajemen, operasional dan pemeriksaan keuangan
tradisional. Pemeriksaan komprehensif mencakup penilaian manajemen
auditee, operasi, pengendalian finansial dan sistem akuntansi untuk
menentukan apakah pengendalian dan mekanisme akuntabilitas telah memadai
dan dapat dipertanggung jawabkan kepada pemegang sahamnya.


Tujuan dan Peranan Auditing
Menurut Guy, dkk. (2002:5) terdapat empat factor yang mendasari kebutuhan akan audit, yaitu :
1. Kompleksitas
Volume aktivitas ekonomi dalam dunia bisnis dan entitas lainnya, bersamaan dengan kompleksitas pertukaran ekonomi tersebut, seringkali mempersulit pencatatan transaksi dan alokasi biaya serta pendapatan dengan benar, keputusan yang sulit berkaitan dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapannya membutuhkan jasa akuntan profesional.

2. Jarak
Dalam lingkungan saat ini, pengambil keputusan biasanya terpisah dari organisasi. Sebagai contoh pemegang saham perusahaan besar seperti Microsoft mungkin tidak pemah melihat perusahaan atau fasilitasnya. Dalam kasus ini, pengambil keputusan tidak memiliki pengetahuan langsung tentang organisasi dan aktivitasnya serta terpisah dari catatan akuntansi organisasi tersebut. Jarak dapat meningkatkan salah saji, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sehingga meningkatkan permintaan akan pihak independen untuk memeriksa catatan keuangan.

3. Bias dan Motif Penyaji
Apabila informasi keuangan disajikan dari sumber yang kurang independen, maka pengguna informasi keuangan mungkin menyangsikan bias dan motif penyaji. Penyaji informasi keuangan mungkin menghadapi pertentangan kepentingan (confict of interest) baik yang disengaja maupun tidak disengaja dengan pengguna informasi keuangan tersebut.

4. Konsekuensi
Salah satu karakteristik dari masyarakat kita adalah partisipasi individu, perusahaan, serta entitas lainnya yang meluas dan mendalam dalam pasar. Dalam lingkungan ekonomi saat ini, keputusan ekonomi seringkali melibatkan pengeluaran yang sangat besar dan mempengaruhi banyak orang. Keputusan penting ini membutuhkan informasi keuangan yang relevan dan handal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU