Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Rabu, 24 Maret 2010

Konsep Manajeman

Konsep Manajeman
1. Pengertian Manajeman.
Banyak para ahli yang berusaha untuk memberikan definisi atau batasan tentang manajeman. Batasan yang mereka kemukakan tidaklah sama dan dibawah ini beberapa definisi tentang pengelolaan (manajeman) dari beberapa ahli:
Menurut G.R Terry sebagai mana dikutip oleh Malayu S.P Hasibuan (1990 : 3), bahwa:
Manajeman untuk menentukan serta serta mencaspai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan Sumber Daya Manusia dan sumber-sumber lainya dan Manajeman merupakan suatu proses yang khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan.
Menurut Sondang P Siagian sebagaimana yang dikutip oleh Hasibuan (1990:5)< bahwa : “Manajeman adalah kemampuan serta keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangaka mencapai tujuan melalui kegiatan orang lain”.
Menurut Manulang (1989:17), bahwa :
Manajeman merupakan serangkain kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakan, mengendalikan, dan mengembangkan segala upaya didalam mengatur dan mendayagunakan Sumber Daya Manusia sarana dan prasarana, untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan secara efektif dan efesien.

Jika memperhatikan pengertian manajeman (pengelolaan) diatas memang terhadap perbedaan, tetapi pada dasarnya para ahli menemukakan inti masalah yang sama. Perbedaannya hanya sifat gradual (sedikit) saja dan disebabkan oleh perbedaan latar belakang penulis, keaadan dan sudut penalaran yang dilakukan.

Namun dapat disimpulkan bahwa dalam manajeman itu harus terdapat unsure-unsur : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, evaluasi dan pengembangan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan dengan memanfaatkan Sumber Daya Manusia dan sumber daya lainnya.

2. Persfektif Manajaman Pendidikan Luar Sekolah.
Bagian berikut memaparkan jaringan kerja dari manajeman Pendidikan Luar Sekolah. Manajeman Luar Sekolah terdiri dari lima subsistem yaitu : (1) Tujuan, jangka pendek dan jangka panjang (2) Stuktur, yaitu tugas yang harus dikerjakan serta pembagian informal serta koordinasinya (3) Psikososikultural, perilaku perorangan dan motivasi, grup dinamik, budaya, dan perilaku politik (4) Teknik, teknik untuk mentrasformasikan program yang dibutuhkan serta gagasan kedalam kursus, Workshop, seminar dan lain-lain (5) manajerial, merupakan hal yang paling mendasarkan dan upaya untuk mengkoordinasikan subsistem dalam upaya mencapai tujuan, merencanakan sturktur, mengimplementasikan kebijakan, memfasilitasi dinamik kelompok dari lembaga, menetapkan proses pengawasan. Kelima subsistem itu merupakan dasar dari perencanaan dan mengimplementasikannya.

Sistem manajerial merupaka sasaran utama dari pembahasan mengenai pengelola. Untuk hal itu akan dibahas beberapa factor utama yang berhubungan dengan pengelola itu.

Terdapatempat tugas Pendidikan Luar Sekolah yaitu pemograman, Staffing, pe,biayaan, dan pemasaran. Keempat tugas itu dilaksanakan dengan menyelenggarakan tiga fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasiann dan evaluasi. Pelaksanaan fungsi manajemen itu harus pula didasarkan kepada keadaan social masyarakat meliputi keluarga dan organisasi kemasyarakatan lainnya, masyarakat dan sisterm belajar manusia.

Literatur mengenai pengelolaan Pendidikan Luar Sekolah memiliki banyak keragaman dalam fungsi dan peranannya. Secara umum fungsi pengelolaan meliputi perencanaan, pengorganisasian, Staffing, kepemimpinan dan pengawasan (Langerman dan Smith, 1979). Tugas manajerial yang isinya membuat tugas yang harus dikerjakan dibedakan dengan fungsi (langkah-langkah dimana tugas dipenuhi dan diakses). Kepemimpinan tidak dimasukkan pada salah satu tugas maupun fungsi karena dijalankan oleh semua staf. Evaluasi mengartikan pengawasan karena evaluasi dilakukan secara bersama, dengan asumsi tidak dibedakan secara legal antara bawahan yang biasanya menjadi bagian utama pada pengawasan.

3. Tugas Pokok pada Manajemen Pendidikan Luar Sekolah
Terdapat empat tugas pokok pada manajemen Pendidikan Luar Sekolah yaitu Programing, Pembiayaan, Staffing dan pemasaran. Keempat tugas itu didukung berdasarkan prioritas. Tugas yang paling utama yaitu Programing, yang merupakan tujuan utama dari manajemen Pendidikan Luar Sekolah. Pembuatan program dilakukan oleh staf dan semuanyan menjadi mungkin berjalan dengan dukungan pembiayaan, pemasaran, yang merupakan bagian akhir dan suatu proses manajemen, membutuhkan kepemimpinan yang kreatif dari suatu program luar sekolah dalam upaya untuk mempromosikan kegiatan, yang umumnya didukung dengan penbiayaan yang terbatas.

Pemograman, program dapat dikatakan merupakan puncak segalanya, yang membentuk image tentang sebuah organisasi sertan menjadi dasar untuk pengembangan keputusan serta dukungan. Progran juga yang kemudian menjadi dasar adanya produktifitas yang merupakan identitas dari sebuah organisasi. Pada sisi lain dibutuhkan staf yang memiliki responsifitas yang tinggi, program yang berkualitas akan memberikan dukungan pada lembaga keluarga serta menjamin keberadaannya yang sehat, mendapat dukungan serta memiliki keberhasilan.

Seorang pembuat program mempunyai tugas yang berbeda dengan angora lain. Seorang manajer luar sekolah mempunyai kewajiban pada peserta pendidikan luar sekolah untuk memberikan arah serta landasan filosofis yang sesuai menjadi progranning. Setiap program hendaknya mmemiliki jaminan (1) mencerminkan misi dari unit pendidikan luar sekolah dan unit keluarga, (2) diprogramkan dan dilaksanakan sesuai dengan tahapan pendidikan yang dilaksanakan, (3) meninjukan kualitas pada tahapan dimana program dilaksanakan. Untuk tujuan ini manager hendaknya memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan penjajakan kebutuhan dari setiap peserta didik yang pada hakikatnya sangat beragam, menyertakan peserta didik dalam membuat keputusan, membuat perencanaan dan mengevaluasi proses pengembangan kemampuan menciptakan dari peserta didik, serta puncak dari segalanya harus benar teori dan praktek dari pendidikan luar sekolah.

Staffing, selama manajemen diartikan ketercapaian program lembaga dengan bekerja efektif dan efesien orang-orang, maka keberhasilan manajemen sepenuhnya hanya tergantung pada penampilan staf. Fungsi dari Staffing terdiri dari perekrutan, pengenalan, perkenalan, pengembangan dan menghasilkan staf yang baik. Dalam hubungannya dengan programming sebagai inti dari suatu lembaga, Staffing tidak kalah pentingnya sebagai fungsi inti. Sesuai dengan sifatnya dari pendidikan luar sekolah yang sepenuhnya bertumpu pada kekuatan masyarakat dan orang-orang keberadaan staf yang bersifat poluntir menjadi cirri utamanya.

Staf yang handal harus didasarkan pada kemampuan yang tinggi dan keahlian. Untuk mendapatkan persyaratan ini manager harus mengembangkan kepemimpinan dan kekuatan yang berada pada dirinya. Pemberdayaan dankemampuan mengembangkan diri sesungguhnya menjadi cirri pula bagi pendidikan luar sekolah. Dengan berdasar pada kekuatan ini maka penciptaan kemampuan staf yang berkeahlian dan ekslance. Hampir semua manager lebig banyak mengkonsentrasikan diri pada otoritas, sedangkan yang diharapkan dari seorang manjer yang bijaksana mengembangkan kemampuan kepemimpinan staffnya.

Manajer harus pula membina kemampuan staff dalam mengembangkankepribadian dari profesionalnya dengan cara menggabungkan antara kemampuan pembelajaran diri dan membaca. Keterlibatan dalam peretemuan ilmiah dan ketertiban dalam lembaga professional. Kepaduan ini dapat memadukan antara dunia luar dan pengembangan gagsan baru, sesuai dengan peningkatan kemampuan berfikir dan intropeksi.

Pembiayaan, kepedulian dari organisasi berikutnya yaitu pencarian sumber-sumber untuk pembiayaan. Pembiayaan ini bersumber dari pungutan yang diperoleh dari peserta belajar sampai pada grand dan pembiayaan yang bersumber dari pemerintah. Manajer dalam hubungan ini bertanggungjawab dalam menjamin pembiayaan yang penuh sesuai dengan organisasi serta tujuan yang dilaksanakan.

Pemasaran, pemasaran merupakan kajian baru pendidikan luar sekolah. Kejadian umum yaitu kegagalan dari manajer dalam mengenali sumber unsure sector non profit seperti halnya pendidikan luar sekolah. Kunci dari keberhasilan dalam memperoleh dukungan dana untuk kepentingan penunjangan dan sector non profit yaitu dengan menyelenggarakan pelayanan yang maksimum terutama bagi klien yang menjadi andalan program pendidikan luar sekolah terutama dilihat dari vilsavat yang dikembangkannya yaitu memberikan informasi yang lengkap, merangsang (Stimulate) dan memenuhi kebutuhan peserta didik dan orang tua sebagai klien. Pemasaran tidak terbatas pada pengguna dari instansi khusus maupun hanya untuk kepentingan individu. Sikap ini hebdaknya dikembangkan secara luas dikalangan lembaga penyelenggaraan pendidikan setiap orang yang merasa peduli dengan pemasaran harus mulai pemikiran dalam upaya memenuhu kepentingan klien. Staf yang bertugas hendaknya melaksanakan dialog dan melakukan perencanaan bersama dengan peserta didik agar tetap terjamin komunikasi yang saling menguntungkan, peningkatan dan evaluasi yang berkesinambungan dalam upaya pemenuhan kebutuhan setiap pihak.

4 Fungsi-fungsi manajemen.
Antara kepemimpinan dan manajemen sering dianggap sama oleh sementara orang namun diantara keduanya terdapat perbedaan. Adapun persamaannya adalah berkaitan dengan kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang atau pihak lain. Aakeduanya menggunakan prinsif-prinsif dan pendekatan hubungan kemanusiaan. Sedangkan perbedaan antara kepemimpinan dan pengelolaan (H.D. Sudjana, 1992: 15) adalah :
Pertama, kepemimpinan merupakan konsep yang lebih luas daripada manajemen. Manajemen merupakan upaya penerapan kepemimpinan dalam situasi yang khusus yaitu dalam organisasi.

Kedua, dalam kepemimpinan tidak diisyaratkan adanya tujuan organisasi sedangkan di dalam manajemen tujuan organisasi menjadi syarat utama.

Ketiga, kepemimpinan dapat terjadi di dalam situasi apapun dan kapanpun, sedangkan pengelolaan hanya terjadi dalam situasi berorganisasi, namun kepemimpinan dan manajemen saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya serta keduanya mempunyai persamaan dan perbedaan baik fungsi maupun dalam penerapannya.

Dari berbagai definisi kepemimpinan, Harsey dan Blanchard seperti dikutip (D. Sudjana, 1992: 15) menyimpulkan bahwa kepemimpinan adalah proses dalam mempengaruhi kegiata seseorang atau kelompok dalam situasi tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan manajemen pada hakikatnya berfungsi melakukan kegiatan yang perlu, guna mencapai tujuan yang telah ditentukan lebih dulu. Dalam proses tersebut terdapat sejumlah fungsi yang perlu dilaksanakan supaya tujuan tercapai secara efektif dan efesien.

Pendidikan luar sekolah dikenal dengan sebutan Continuing Education. Tujuan dari keberadaan berbeda dari suatu lembaga pada lembaga yang lain. Akan tetapi pada akhirnya tujuan lembaga yang berhubungan dengan pendidikan luar sekolah sangat berkaitan dengan bagaimana efektifitas dalam mencapai tujuan. Bila setiap orang mempunyai urusan yang sama untuk mencapai tujuan, pada akhirnya ketercapaian tujuan ini sangat tergantung pada keberadaan manajer yang secara khusus dalam melakukan perencanaan, pengorganisasian, dan mengevaluasi setiap kegiatan lembaga dalam upaya untuk mencapai tujuan.

Manajer setiap saat harus siap untuk bersaing dalam upaya menyelenggarakan kegiatan yang diperlukan. Untuk tujuan ini manajer harus menyelenggarakan antar hubungan melalui proses yang rumit. Pendekatan manajer yang mendasar pada personal lebih banyak dilakukan dengan berdasar pada pertimbangan filosofis dalam upaya untuk perencanaan, pengorganisasian, dan mengevaluasi pengalaman belajar bagi peserta belajar di luar sekolah.

Manajemen ialah seni dan ilmu dalam upaya untyk mencapai tujuan organisasi-organisasi. Dalam beberapa segi manajemen berbeda dengan administrasi karena yang terakhir ini lebih menekankan pada keterselenggaraan tugas dibandingkan dengan melakukan kerjasama dengan organisasi-organisasi. Literatur yang berhubungan dengan PLS sering menggunakan istilah manajemen dengan administrasi secara bergantian. Akan tetapi pada kepustakaan yang terakhir istilah manajemen yang paling banyak dipergunakan. Istilah lain yang banyak dipergunakan untuk menggantikan istilah manajemen yaitu kepemimpinan, akan tetapi kepemimpinan tidak terlalu banyak memiliki perhatian pada pengelola organisasi. Kepemimpinan adalah kapasitas untuk mengembangkan harapan anggota. Jadi kepemimpinan harusnya menjadi kepedulian dari semua anggota dalam organisasi.

Walaupun terdapat banyak variasi mengenai manajemen, namun terdapat tiga fungsi utama manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian dan evaluasi. Ketiga fungsi ini seringa dilihat sebagai suatu yang linear, yaitu perencanaan sebagai awal dari fungsi manajemen serta evaluasi berada pada perencanaan dan pengorganisasian. Pada pemikiran lain ketiga fungsi ini berlangsung secara stimulant, dinamis dan saling menunjang satu dengan yang lainnya. Dalam hubungan ini perencanaan tidak senantiasa diakhiri dengan pengorganisasian serta evaluasi tidak selalu berada diujung perencanaan dan pengorganisasian.

Agar lebih jelas sebagai bahan pertimbangan mengenai fungsi manajemen terdapat berbagai pendapat yanjg diungkapkan oleh beberapa ahli diantanranya :
a. Luther M. Gullick yang dikutip oleh (Sudjana,1992: 35) merinci enam fungsi manajemen yang dapat disungkat menjadi POSDCORB yaitu : planning, organizing, staffing,coordinating, refoting, budgeting
b. George R Terry yang dikutip oleh Sudjana (1992: 36) merumuskan empat fungsimanajemen dengan singkatan POAC yaitu : Planning, Organizing, actuating dan controlling.
c. Sebagian sebagaimana yang dikutip oleh Sudjana (1992: 37) mengemukakan lima fungsi manajemen kelima fungsi itu adalah : perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan dan penilaian.

Dengan melihat rumusan tersebut diatas nampak berbeda klasifikasi yang ditampilkan, akan tetapi dalam tulisan ini penulis akan mengambil fungsi-fungsi manajemen sebagai berikut :
1). Perencanaan.
Perencanaan merupakan salah satu dari fungsi manajemen yang merupakan langkah awal dari suatu kegiatan, sehingga dengan demikian perencanaan merupakan salah satu syarat mutlak untuk dapat melaksanakan manajemen seperti yang dikemukakan oleh Suherman dan kawan-kawan yang dikutif oleh Sudjana (1992: 41). Bahwa “perencanaan adalah suatu penentuan urutan tindakan perkiraan biaya serta penggunaan waktu untuk suatu kegiatan yang didasarkan atas data dengan memperlihatkan prioritas yang wajar dengan efesien untuk tercapai tujuan “.

Sedangkan George R, Terry, dikemukakan oleh Hasibuan (1990: 95) bahwa: “perncanaan adalah memilih dan menghubungkan fakta dan membuat serta menggunakan asumsi-asumsi mengenai masa yang akan ditingkatkan dengan jalan menggambarkan dan merumuskan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan”.

Setiap program PLS memiliki tujuan tertentu serta bagaimana mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Perencanaan adalah proses bagaimana menetapkan tujuan serta menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan melalui tahapan analisis dan evaluasi alternative yang mungkin dikerjakan. Perncanaan berfungsi pula untuk menetapkan dasar dan arah untuk sebuah lembaga PLS dan mengarahkan program yang dilakukan secara eksplisi telah ditetapkan dalam perencanaan.

Salah satu pendekatan khusus dalam perencanaan yaitu perencanaan strategis, dengan menggabung secara komprehensif dasar-dasar manajemen. Perencanaan ini lebih merupakan metodologi yang mempertimbangkan secara sungguh-sungguh seluruh perkembangan lingkungan dan peluang serta hambatan. Tujuan utama dari perencanaan strategis yaitu memadukan antara tujuan fungsional dengan perencanaan operasional dari staf. Terdapat lima langkah dari perencanaan strategis, yaitu satu penetapan tujuan dan lembaga (bagaimana cara untuk memberikan pada pelayanan klien). Kedua, menetapkan kekuatan dari lembaga (bagaimana cara kerja yang baik serta mengapa dilakukan). Ketiga, penetapan kenyataan dari potensi dari klien (bagaimana sasaran PLS dilayani, apa yang seharusnya dilakukan serta sejauh mana kita memahami harapan mereka). Aaakeempat, penetapan factor internal dan eksternal yang mempengaruhi lembaga (sumber-sumber yang dibutuhkan dari lembaga PLS dan masyarakat). Kelima, pengembangan dan operasional kegiatan (apa yang seharusnya harus dilaksanakan dalam pemograman, staffing dan pemasaran serta apakah semua itu bias didanai).

Perencanaan merupakan keseimbangan tugas satuan PLS, programming, staffing, pemasaran dan kemampuan financial. Dalam arti sempit perencanaan diartikan upaya menghadapi tantangan untuk mencapai efektifitas.

Dengan memperhatikan batasan diatas jelaslah bahwa perencanaan merupakansalah satu fungsi fundamental bagi pelaksanaan fungsi manajemen, yang mencakup kegiatan untuk masa depan atau yang akan dating serta dengan arah dan tujuan yang jelas.

2). Pengorganisasian.
Langkah selanjutnya dari fungsi manajeman adalah pengorganisasian. Pengorganisasian yaitu pengembangan system peranan dan tanggung jawab serta pendelegasian tugas dan sumber-sumber untuk menjamin penampilan yang maksim, kejelasan harapan dan pembuatan keputusan yang efektif.
Pengorganisasian adalah kegiatan mengidentifikasi dan memadukan sumber-sumber yang diperlukan dalam kegiatan yang akan dilakukan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sumber-sumber ini meliputi tenaga manusia, fasilitas, alat-alat, dan biaya yang tersedia. Manusia merupakan factor utama dalam pengorganisasian. Dengan demikian pengorganisasian adalah semua factor yang terlibat, baik manusia maupun non manusia kedalam kegiatan yang terpadu untuk mencapai tujuan lembaga atau organisasi penyelenggara PLS.

Dari kegitan ini Wianardi (1983: 217) memberikan pengertian tentang pengorganisasian sebagai berikut : “pengorganisasian adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerjasama secara efektif dan memperoleh kepuasan pribadi dalam hal melakukan tugas-tugas tertentu dengan mencapai tujuan tertentu”.

Kemudian Hasibuan (1990:123) menyatakan bahwa:
Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan penentuan bermacam-macam aktifitas yang diperlukan untuk mencapai tujuan, menempatkan orang-orang pada setiap aktivitas ini, menyediakan alat-alat yang diperlukan, menetapkan wewenang secara relatife didelegasikan pada setia individu yang akan melakukan aktivitas-aktivitas tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU