Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Sabtu, 17 Januari 2009

Menanamkan Nilai Budaya Kepada Anak Didik

MANANAMKAN NILAI BUDAYA KEPADA ANAK DIDIK

Arus modernisasi atau globalisasi yang begitu kuat, mau atau tidak mau telah menyeret anak-anak masa kini ke dalam lingkaran setan budaya global, khususnya dari luar. Mereka akan menjadi lebih tidak berdaya dan meninggalkan budaya sendiri, bilamana kita tidak kreatif dan serius mengenalkan budaya sendiri secara kontinyu. Memperkenalkan budaya pada anak-anak dapat melalui banyak cara, yang penting menyenangkan dan dinikmati mereka. Bisa melalui buku (cerita yang dituliskan), bisa melalui cerita (mendongeng), bisa melalui permainan, bisa melalui musik, bisa pula melalui teater (drama), film, animasi, nyanyian, pantun, peribahasa, tata-krama, dan sebagainya. Anak-anak terbuka untuk mengenal budaya apapun, baik dari lingkungannya sendiri maupun dari luar.

Berbicara tentang kebudayaan harus dilihat dan diperbincangkan dari berbagai aspek. Misalnya, bagaimana cerita rakyat yang sesungguhnya adalah bagian dari kebudayaan dan tradisi Nusantara, dapat kita sosialisasikan, aktualkan, dan dayagunakan untuk memperkenalkan tradisi atau budaya Nusantara pada anak-anak masa kini. Terlalu banyak yang dikatakan dan terlalu sedikit yang dikerjakan untuk anak-anak. Itulah kondisi bangsa kita.

Di Amerika, cerita rakyat mereka terus digali dan disosialisasikan pada generasi mudanya. Begitu banyak penelitian tentang folklor yang dapat didayagunakan untuk pewarisan budaya kepada anak-anak. Kemanakah pantun anak-anak kita, nyanyian, permainan, peribahasa, teka-teki yang berkaitan dengan budaya dan dunia anak-anak. Penelitian dan upaya nyata untuk mempromosikan budaya kepada anak-anak hanya dilakukan oleh segelintir orang saja. suatu usaha untuk mengantisipasi perubahan zaman yang mau tidak mau menyebabkan materi kebudayaan harus atau perlu mengalami transformasi untuk dapat diterima oleh masyarakat masa kini.Kita dapat membangkitkan kembali bahasa-bahasa yang hampir punah dengan menggunakan sarana mendongeng.Kita bisa memperkenalkan budaya kepada anak-anak masa kini tidak hanya melalui kegiatan mendongeng, tetapi dapat melalui berbagai cara, yaitu dengan konsep mendongeng dan bermain, mendongeng dengan bermusik, festival mendongeng dengan konsep pementasan teater dari anak untuk anak, membacakan cerita secara maraton dengan meniru konsep pagelaran wayang, membacakan cerita dengan konsep membaca massal di taman, dan berbagai kemungkinan lain.

Kita juga bisa mengenalkan budaya degan cara lain karena sesungguhnya anak merupakan “agen transmisi” yang ampuh dan efektif untuk mengenalkan budaya kepada kelompok sebayanya sendiri (dari anak untuk anak). Mereka dapat mengenal adanya keragaman budaya dan dapat menghormati keragaman tersebut. Selain itu, ternyata mereka bersih dari arogansi kebudayaan lingkungannya (rumah) sendiri. Anak-anak adalah penikmat budaya yang amat toleran. Melalui Festival Anak kita Bangsa ini memerlukan kegiatan budaya untuk anak-anak yang selalu secara teratur diselenggarakan dan memungkinkan anak terekspos dengan budaya, terlepas dari persoalan budaya yang mana. Alangkah indahnya melihat musik kamar dan musik tradisional diajarkan dan diperkenalkan kepada anak-anak oleh sebuah kesempatan yang diciptakan untuk itu. Kita memerlukan sebuah institusi, tempat, gedung, museum, balai budaya, festival anak, yang tersebar di mana-mana serta mudah dipergunakan untuk siapa saja demi kepentingan mengajarkan budaya pada anak. sekaligus “mencerahkan” orang tuanya.

Sebenarnya cerita rakyat yang sesungguhnya adalah bagian dari kebudayaan dan tradisi Nusantara, dapat kita sosialisasikan, aktualkan, dan dayagunakan untuk memperkenalkan tradisi atau budaya Nusantara pada anak-anak masa kini.

Sayang sekali bahwa seringkali cerita rakyat disalahgunakan dengan dibebani oleh ideologi negara secara sewenang-wenang, ada pula yang “diporakporandakan” semau-maunya dengan alasan agar terlihat modern dan kekinian, yang sebenarnya malahan menjadikan cerita rakyat (budaya) sebagai sampah gagasan yang dikesankan cemerlang. Ada pula sementara kaum dewasa yang karena tidak menguasai bidang sastra anak menganjurkan untuk melakukan dekonstruksi cerita rakyat, sehingga hilanglah norma dan nilai budaya yang dapat diwariskan.

Terlalu banyak yang dikatakan dan terlalu sedikit yang dikerjakan untuk anak-anak. Itulah kondisi bangsa kita.sebenarnya banyak anak yang mau mengenal budaya di negara kita lebih dalam lagi tapi kebanyakan kaum dewasa menghalangi mereka,jadi jangan salahkan mereka jika mereka tidak mengenal budaya.kaum dewasa hanya mengajarkan budaya asing kepada anak.jadi cara diatas dapat kita lakukan untuk mengenalkan budaya kepada anak didik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU