Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Rabu, 05 November 2008

Tinjauan Tentang Motivasi Orang Tua

Tinjauan Tentang Motivasi Orang Tua

  1. Pengertian Motivasi Orang Tua

Sebelum penulis menjelaskan pengertian motivasi orang tua, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan arti kata motivasi dan arti kata orang tua sehingga nantinya di peroleh pengertian motivasi orang tua secara sempurna.

a. Motivasi

1) Menurut Mc. Donald

“Motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya efektif dan reaksi untuk mencapai tujuan”.

2) Menurut Duncan

“Motivasi berarti setiap usaha yang disadari untuk mempengaruhi prilaku seseorang agar meningkatkan kemampuannya secara maksimal untuk mencapai tujuan organisasi”.

3) Menurut Vroom

“Motivasi mengacu kepada suatu proses mempengaruhi pilihan-pilihan individu terhadap bermacam-macam bentuk kegiatan yang dikehendaki”.

4) Hoy dan Miskel mengemukakan bahwa :

“Motivasi dapat didefinisikan sebagai kekuatan-kekuatan yang kompleks, dorong-dorongan, kebutuhan-kebutuhan,pernyataan-pernyataan keteganga (tension ststes), atau mekanisme-mekanisme lainnya yang memulai dan menjaga kegiatan-kegiatan yang diinginkan kea rah pencapaian tujuan-tujuan personal”.

5) Menurut Gleitman dan Reber

“Motivasi ialah keadaan internal organisme baik manusia ataupun hewan yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti pemasok daya (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah”.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat di simpulkan bahwa motivasi adalah suatu usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mecapai hasil atau tujuan tertentu.

b. Orang tua

Orang tua adalah ayah dan ibu kandung.

Berdasarkan pengertian motivasi dan orang tua sebagimana di atas, dapat diambil suatu pengertian motivasi orang tua adalah suatu usaha yang disadari oleh ayah ibu kandung untuk menggerakkan, mengarahkan dan menjaga tingkah laku putra-putrinya agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai hasil atau tujuan tertentu.

2. Tujuan dan komponen pokok motivasi

Secara umum dapat dikatakan bahwa “Tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga dapat memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu”.

Bagi orang tua, tujuan motivasi adalah untuk menggerakkan atau memacu putra-putrinya agar timbul keinginan dan kemauannya untuk meningkatkan prestasi belajarnya sehingga tercapai tujuan pendidikan sesuai dengan yang di harapkan dan ditetapkan di dalam kurikulum sekolah.

Semakin jelas tujuan yang diharapkan atau yang akan dicapai, semakin jelas pula bagaimana tindakan memotivasi itu dilakukan. Tindakan memotivasi akan lebih dapat berhasil jika tujuannya jelas dan disadari oleh yang di motivasi serta sesuai dengan kebutuhan orang yang di motivasi. Oleh karena itu, orang tua yang akan memberikan motivasi harus mengenal ddan memahami benar-benar kebutuhan dan kepribadian putra-putrinya yang akan di motivasi.

Motivasi mengandung tiga komponen pokok, yaitu menggerakkan, mengarahkan dan menopangtingkah laku manusia.

a. Menggerakkan berarti menimbulkan kekuatan pada individu, memimpin seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Misalnya kekuatan dalam ingatan, respon-respon efektif, dan kecenderungan mendapat kesenagan.

b. Motivasi juga mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku. Dengan demikian ia menyediakan suatu orientasi tujuan. Tingkah laku individu di arahkan terhadap sesuatu.

c. Untuk menjaga dan menopang tingkah laku, lingkungan sekitar harus menguatkan (reinforce) intensitas dan arah dorongan-dorongan dan kekuatan-kekuatan individu.

Orang tua sebagai komponen pokok dalam keluarga diharapkan mampu memberi dorongan kepada putra-putrinya, sehingga tergerak untuk bertindak dengan cara tertentu. Pengawasan yang dilakukan orang tua dapat mengarahkan serta menjaga tingkah laku putra-putrinya kea rah tingkah laku yang baik (akhlakul karimah).

3. Macam-macam motivasi orang tua

Bentuk-bentuk motivasi yang dapat orang tua berikan kepada putra-putrinya adalah sebagai berikut :

a. Contoh Tauladan

Tauladan atau “modelling” adalah “contoh tauladan dari perbuatan dan tindakan sehari-hari dari orang tua kepada anaknya”. anak-anak merupakan peniru terbesar di dunia ini. Mereka akan meniru apa yang dilihatdan menyimpan apa yang mereka dengar. Contih teladan dapat lebih efektif dari pada kata-kata, karena teladan menyediakan isyarat-isyarat non verbal yang berarti menyediakan contoh yang jelas untuk ditiru.

Bahwa tingkah laku, cara berbuat dan berbicara akan ditiru oleh anak. Dengan teladan ini, lahirlah gejala identifikasi positif, yakni penyamaan diri dengan orang yang ditiru. Odentifikasi positif itu penting sekali dalam pembentukan kepribadian. Karena itulah teladan merupakan alat pendidikan yang utama, sebab terikat erat dalam pergaulan dan berlangsung secara wajar.

Kebanyakan dari apa yang diketahui anak tentang cara-cara bertingkah laku yang pantas di masyarakat, di pelajari mereka melalui proses ini, yaitu mencontoh dan menyimpan tingkah laku orang tua mereka. Pengaruh yang meresap seperti secara lebih sadar dan sengaja untuk mengajar dan mempengaruhi anaknya.

Orang tua yang sudah matang, akan berusaha memperlihatkan contoh-contoh yang positif untuk anak-anak mereka dengan jalan dan cara yang bermacam-macam. Dalam hal ini termasuk mengahdapi masalah sehari-hari dengan penilaian yang baik, akal sehat dan dengan kesediaan menerima konsekwensi-konsekwensi dari tindakan mereka. Memelihara pengendalian emosi, melaksanakan sendiri dengan rajin tugagas-tugas, mempunyai sikap bangga terhadap pekerjaan, memperlihatkan suatu pendangan yang optimal akan kehidupan.

b. Anjuran dan Perintah

Anjuran adalah “saran atau ajakan untuk berbuat atau melakuakn sesuatu yang berguna”. Misalnya, anjuran untuk belajar setiap hari, anjuran untuk selalu menepati waktu, anjuran untuk berhemat dan lain sebagainya. Anjuran yang di berikan oleh orang tua kepada putra-putrinya diupayakan mampu mendorong ke arah yang diinginkan oelh orang tua. Anjuran yang lebihkeras di sebut perintah.

Perintah adalah “suatu keharusan untuk berbuat atau melakukan sesuatu”. Perintah orang tua adalah tindakan orang tua menyuruh putra-putrinya melakukan sesuatu yang diharapkan untuk mencapai tujuan tertentu. Perintah sebagai pembentuk disiplin secara positif. Disiplin di perlukan dalam pembentukan kepribadian, terutama karena nanti akan menjadi disiplin sendiri, dengan menanamkan disiplin dari luar terlebih dahulu.

Misalnya saja, perintah orang tua untuk sholat tepat waktu, maka dengan sendirinya putra-putrinya akan disiplin melaksanakan sholat.

Syarat-syarat memberi perintah :

1) Perintah hendaklah terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga mudah di mengerti oleh anak.

2) Perintah hendaklah disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin di kerjakan oleh anak itu. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.

3) Kadang-kadang perlu pula mengubah perintah itu menjadi suatu perintah yang lebih bersifat permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya. Hal ini berlaku lebih-lebih terhadap anak-anak yang sudah besar.

4) Jangan terlalu banyak dan berlebih-lebihan memberi perintah, sebab dapat mengakibatkan anak tidak patuh, tetapi menantang.

5) Pendidik hendaklah konsekwen terhadap apa yang telah diperintahkan. Suatu perintah yang ahrus di taati oelh seorang anak, belaku pula bagi anak yanf lain.

6) Suatu perintah yang bersifat mengajak si pendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak-anak dan dikerjakan dengan gembira.

Orang tua sebagai pendidik utama dalam keluarga, diharapka dapat memenuhi syatrat-syarat untuk memberi perintah yang tersebut di atas, supaya perintah-perintah yang diberikan kepada purta-putrinya dapat di taati sehingga dapat tercapai apa yang dimaksud.

c. Teguran dan Peringatan

Teguran diberikan kepada anak yang baru satu atau dua kali melakukan pelanggaran. Jika seorang anak telah mengatahui tentang suatu hal, namun masih melakukan kesalahn, maka perbuatan anak itu dapat dikatakan pelanggaran. Saru hal yang perlu disadari, bahwa manusia bersifat tidak sempurna, maka kemungkinan-kemungkinan untuk berbuat khilaf dan salah. Penyimpangan-penyimpangan dari anjuran selalu ada, lagi pula perlu diperhatikan bahwa anak-anak bersifat pelupa, cepat melupakan larangan-larangan atau perintah yang baru saja diberikan padanya. Karenanya sebelumkesalahan itu berlangsung lebih jauh, perluadanya koreksi atau teguran. Teguran dapat berupa kata-kata, tetai dapat juga berupa isyarat-isyarat, misalnya pandangan mata yang tajam, danegan menunjuk lewat jari, dan sebaginya.

Peringatan diberikan kepada anak yang telah beberapa kali melakukan pelanggaran dan telah di berikan teguran pula atas pelanggarannya. Dalam memberikan peringaratan ini, biasanya di sertai dengan ancaman akan sangsinya.

Suatu peringatan haruslah diberikan sekali atau dua kali dan sedapat mungkin menyenangkan, secara pribadi antara anak dengan orang tua saja, tenang dan obyektif sesuai dengan fakta.

Tanda-tanda peringatan yang tidak bersifat kata-kata (non-verbal), dapat orang tua berikan kepada anak-anak untuk melakukan suatu tindakan atau tingkah laku yang dikehendaki atau untuk tidak melakukan yang tidak di kehendaki, contohnya :

1) Telapak tangan yang di rendahkan, menyatakan permintaan untuk memperkecil suara atau merendahkan posisi duduk.

2) Jari yang di taruh di bibir, dapat memberi tanda “silakan tenang!” atau “jangan rebut!”.

3) Daftar tingkah laku yang dikehendaki dapat di tempelkan di didnding atau pada papan pengumuman. Cara ini efektif bagi anak yang berusia 8-12 tahun.

4) Memberi tanda tidak setuju terhadap perbuatan yang tidak baik dari seorang anak dapat dilakukan dengan kotak mata, dahi yang dikerutkan, batuk, tanda-tanda dari tangan atau isyarat-isyarat tubuh lainnya. Berdiri mendekati anak kalau melakukan yang tidak baik merupakan teknik efektif lainnya.

5) Menempelkan dan memampangkan di sekitar rumah beberapa perkataan tercetak yang bersifat mengingatkan, seperti tenang, sabar, teliti. Kata-kata ini membangkitkan sikap dan mendorong timbulnya kualitas mental yang di lambangkan kata-kata itu.

Memberikan peringatan dengan kata-kata (verbal) merupakan suatu pengarahan yang tidak bersifat pribadi, sederhana dan tidak bersifat kritik yang diberikan di waktu anak membutuhkan pertolongan daklam belajar atau ketika memerlukan dorongan karena motivasinya rendah. Orang tua memberikan peringatan-peringatan sampai tingkah laku atau perbuatan yang baru dari seseorang anak dapat terkendali.

d. Larangan dan Ancaman

“…..Larangan merupakan suatu keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan ….”. Di dalam pendidikan keluarga, larangan merupakn alat yang paling banyak digunakan oleh bapak atau ibu terhadap anak-anaknya. Sebenarnya pendapat demikian kurang tepat. Seorang anak yang selalu dilarang dalam segala perbuatan dan permainannya sejak kecil dapat terhambat perkambangan jasmani dan rohaninya. Seorang bapak dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu sendiri seperti :

1) Keras kepala dan melawan

2) Pemalu dan penakur

3) Kurang mempunyai perasaan tanggung jawab

4) Pemurung dan pesimis

5) Acuh tak acuh terhadap sesuatu (apatis), dan sebagainya.

Walaupun larangan dapat berakibat negative , namun larangan dapat mengarahkan anak dari hal-hal yang kurang disukai orang tua.

Ada beberapa hal yang perlu di ingat dalam melakukan larangan :

1) Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus di berikan dengan singkat, supaya di mengerti maksud larangan itu.

2) Jika mungkin, larangan itu dapat di beri penjelasan singkat. Jika tidak mungkin, anak harus menerima saja larangan itu.

3) Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik.

4) Bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat di cegah dengan membelokkan perhatian anak kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.

Ancaman merupakan tindakan mengoreksi secara keras tingkah laku anak yang tidak di harapkan dan di sertai perjanjian jika terulang lagi akan dikenakan hukuman atau sangsi. Ancaman lazimnya akan menimbulkan ketakutan, dan melahirkan kemungkinan anak menerima karena mengerti dan penuh kesadaran atau anak menerima karena takut atau anak didik menolak karena tidak mau dipaksa. Ancaman dianjurkan jangan di biasakan dan digunakan hanya pada saat yang tepat saja.

e. Hukuman

Hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja sehingga menimbulkan nestapa. Dan dengan adanya nestapa itu anak akan menjadi sadar perbuatannya dan berjanji di dalam hatinya untuk tidak mengulanginya.

Bentuk hukuman itu sendiri dapat berupa hukuman badan, hukuman perasaan (diejek, dipermalukan, dimaki) dan hukuman intelektual. Hukuman intelektual nampak lebih baik dilakukan, dalam hal ini anak diberi kegiatan tertentu sebagai hukuman berdasarkan alas an bahwa kegiatan tersebut akan berlangsung membewanya ke perbaikan proses belajarnya. Sebaliknya hukuman badan dan perasaan terkadang bisa menggangu hubungan kasih sayang antara orang tua dengan anak didik.

Pada hakekatnya terdapat dua macam prinsip mengadakan hukuman itu yaitu :

1) Hukuman diadakan oleh karena adanya pelanggaran, adanya kesalahan yang di perbuat.

2) Hukuman diadakan dengan tujuan agar tidak terjadi pelanggaran.

Tujuan jangka pendek dari menjatuhkan hukuman itu ialah untuk menghentikan tingkahlaku yang salah. Tujuan jangka panjang ialah untuk mengajar dan mendorong anak-anak menghentikan sendiri tingkah laku mereka yang salah itu agar anak dapat mengarahkan dirinya sendiri. Anak ingin dikoreksi, tetapi mereka menghendaki koreksi yang bersifat mengasuh dan menolong mereka. Dengan menjalankan suatu aturan, orang tua menolong anak untuk belajar batas-batas mereka, dan dengan begitu membangun dan mengembangkan pengendalian diri sendiri. Maksud orang memberi hukuman itu bermacam-macam. Hal ini sangat bertalian erat dengan pendapat orang tentang teori-teori hukuman.

Teori pembalasan

Teori ini yang tertua. Menurut teori ini, hukuman diadakan sebagai pemabalasan dendam terhadap kelainan dan pelanggaran yang telah dilakukan seseorang.

Teori perbaikan

Menurut teori ini, hukuman diadakan untuk membasami kejahatan. Jadi maksud hukuman it ialah untuk memperbaiki si pelanggar agar jangan berbuat kesalahan semacam itu lagi. Teori inilah yang lebih bersifat pedagodis karena bermaksud memperbaiki si pelanggar, baik lahiriyah maupun batiniyah.

Teori perlindungan

Menurut teori ini, hukuman diadakan untuk melindungi masyarakat dari perbuatan-perbuatan yang tidak wajar. Dengan adanya hukuman ini, masyarakat dapat dilindungi dari kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh si pelanggar.

Teori ganti kerugian

Menurut teori ini, hukuman diadakan untuk mengganti kerugian-kerugian (boete) yang telah di derita akibat dari kejahatan-kejahatan atau penggaran itu. Dalam proses pendidikan teori ini masih belum cukup, sebab dengan hukuman semacam ini anak mungkin mejadi tidak merasa bersalah atau merasa berdosa karena kesalahannya itu telah terbayar dengan hukuman.

Teori menakut-nakuti

Menurut teori ini, hukuman diadakan untuk menimbulkan perasaan takut kepada si pelanggar akan akibat perbuatannyayang melanggar itu sehingga ia akan selalu takut melakukan perbuatan itu dan mau meninggalkannya.

Juga teori ini masih mebutuhkan teori perbaikan, sebab dengan teori ini besar kemungkinan anak meninggalkan suatu perbuatan itu hanya karena takut, bukan karena keinsyafan. Bahwa perbuatn-perbuatannya memang sesat atau memang buruk. Dalam hal ini, anak tidak berbentuk kata hatinya.

Suatu hukuman yang logis, pertama kali haruslah seimbang besar atau kerasnya terhadappelanggaran. Hukuman juga janganlah sedemikian ringannya sehingga tidak berpengaruh atau tidak terasa oelh anak-anak, dan juga jangan terlalu kuat sehingga merusak.

Ada pendapat yang membedakan hukuman itu menjadi dua macam, yaitu ;

1) Hukuman preventif, yaitu hukuman yang dilakukan dengan maksud agar tidak atau jangan terjadi pelanggaran. Hukuman ini bermaksud untuk mencegah jangan sampai terjadi pelanggaran sehingga hal itu dilakukannya sebelum pelanggaran itu dilakukan.

2) Hukuman represif, yaitu hukuman yang dilakukan oleh karena adanya pelanggaran, oleh adanya dosa yang telah di perbuat. Jadi hukuman ini dilakuakn setelah terjadi pelanggaran atau kesalahan.

William Stern membedakan tiga macam hukuman yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak-anak yang menerima hukuman itu.

1) Hukuman asosiatif

Umumnya, orang yang mengasosiasikan antara hukuman dan kejahatan atau pelanggaran antara penderitaan yang diakibatkan oleh hukuman dengan perbuatan pelanggaran yang dilakuakan. Untuk menyingkirkan perasaan tidak enak (hokum) itu, biasanya orang atau anak menjauhi perbuatan yang tidak baik atau yang dilarang.

2) Hukuman logis

Hukuman ini di pergunakan terhadap anak-anak yang telah agak besar. Denganhukuman ini, anak mengerti bahwa hukuman itu adalah akibat dari kesalahan yang diperbuatnya.

3) Hukuman normative

Hukuman normative adalah hukuman yang bermaksud memperbaiki moral anak-anak. Hukuman ini dilakukan terhadap pelanggaran-pelanggaran mengenai norma-norma etika, seperti berdusta, menipu, dan mencaci. Jadi, hukuman normative sangat erat hubungannya dengan pembentukan watak anak-anak. Dengan hukuman ini, pendidik berusaha mempengaruhi kata hati anak, menginsyafkan anak itu terhadap perbuatannya yang salah, dan memperkuat kemauannya untuk selalu berbuat dan mungkin dari kejahatan.

Hukuman tidak dapat dan tidak boleh dilakukan sewenang-wenang menurut kehendak seseorang tetapi menghukum itu adalah suatu perbuatan yang tidak bebas, yang selalu mendapat pengawasan dari masyarakat dan Negara. Apalagi hukuman yang bersifat pendidikan (Pedagogis) harus memenuhi syarat-syarat tertentu.

Adapun syarat-syarat hukuman yang pedagodis itu antara lain :

1) tiap-tiap hukuman hendaknya dapat di pertanggung jawabkan

2) Hukuman itu sedapat-dapatnya bersifat memperbaiki

3) Hukuman tidak boleh bersifat ancaman atau pemabalasan dendam yang bersifat perorangan.

4) Jangan menghukum pada waktu kita marah.

5) Tiap-tiap hukuman harus diberikan dengan sadar dan sudah diperhitungkan atau di pertimbangkan terlebih dahulu.

6) Bagi si terhukum (anak), hukuman itu hendaklah dapat dirasakannya sendiri sebagai kedukaan atau penderitaan yang sebenarnya.

7) Jangan melakukan hukuman badan

8) Hukuman tidak boleh merusakkan hubungan baik antara si pendidik dan anak didiknya.

9) Sehubungan dengan butir di atas, maka perlulah adanya kesanggupan memberi maaf dari si pendidik sesudah menjatuhkan hukuman dan setelah anak menginsyafi kesalahannya.

Mengingat begitu rumitnya masalah hukuman dan begitu besar resiko dan konsekwensinya, maka orang tua harus berusaha sekeras-kerasnya untuk menjauhkan diri dari tindakan main hukum.

f. Pujian

Pujian adalah satu bentuk ganjaran yang paling mudah dilaksanakan. Pujian dapat berupa kata-kata seperti, baik, bagus, bagus sekali, dan sebagainya. Tetapi dapat berupa kata-kata yang bersifat sugestif. Di samping yang berupa kata-kata pujian dapat pula berupa isyarat-isyarat atau pertanda-pertanda, misalnya dengan menunjukkan ibu jari (jempol), dengan menepuk bahu anak, dengan tepuk tangan dan sebagainy. Memuji anaka berarti menunjukkan harga atau nilai dari sifat-sifat mereka, kesanggupan dan prestasi mereka. Pujian termasuk tanda kepada anak, bahwa orang tua menilai dan mengahargai perbuatan atau usaha-usaha mereka. Pendidik John Dewey mengatakan, bahwa “Dorongan yang paling kuat dalam diri manusia keinginan untuk dianggap penting”.

Pujian memberikan anak-anak perasaan berharga yang diperlukan perasaan mampu dan percaya terhadap diri sendiri. “Feed back” atau pengaruh arus belik yang positif, istimewa penting bagi anak-anak yang mudah dihinggapi rasa rendah diri atau bagi yang pemalu. Jika orang merubah “Feed back” mereka yang dari kebanyakan negatif kepada yang kebanyakan yang positif, maka suatu suasana baru berkembanglah dalam keluarga.

Haim Ginott, ahli psikologi yang ternama mengatakan, ”pujian yang langsung kepada pribadi, seperti halnya sinar matahari yang langsung mengenai mata, menyilaukan dan tidak menyenangkan.” Jadi, harusnya tidak memuji pribadi seorang anak secara total. Gnott juga menambahkan untuk memuji tingkah laku dengan pernyataan yang deskriptif dari pada komentar yang bersifat evaluatif atau penilaian. Pernyataan penilaian secara langsung, condong membuat orang menjadi gelisah, karena mengartikannya bahwa seorang sedang duduk menghakiminya dan boleh jadi akan mempunyai kesempatan mengkritiknya besuk lusa. Orang tua yang menggunakan kata keterangan yang bersifat penilaian mempunyai kecenderungan untuk melebih-lebihkan dan membuat generalisasi yang bersifat global. Anak-anak merasa gusar atau palsu, karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak betul sebaik itu. Anak-anak sanggup menarik kesimpulan yang positif tentang diri mereka sendiri dari komentar-komentar yang deskriptif tentang tingkah laku mereka, yaitu mereka belajar untuk memuji diri sendiri.

g. Hadiah

Yang dimaksud dengan hadiah ialah ganjaran yang berbentuk pemberian yang berupa barang. Ganjaran yang berupa pemberian barang ini disebut juga ganjaran materiil. Pemberian ganjaran yang berupa barang ini sering mendatangkan pengaruh yang negatif pada belajar anak, yaitu bahwa hadiah itu menjadi tujuan dari belajar anak. Anak belajar bukan karena ingin menambah pengetahuan, tetapi belajar dengan tujuan ingin mendapatkan hadiah. Apalagi tujuan untuk mendapatkan hadiah ini tidak bisa tercapai, maka anak akan kendur belajarnya. Oleh karena itu, pemberian hadiah berupa barang ini lebih baik jangan sering dilakukan. Berilah hadiah berupa barang ini jika dianggap memang perlu dan pilihlah pada saat yang tepat.

Ahli filsafat Jeremy Benthan mengatakan bahwa:

“Dalam diri manusia ada dua tenaga pendorong, yaitu kesenangan dan kesakitan. Kita cenderung untuk mengulangi tingkah laku yang membawa kesenangan dan hadiah, dan menghindari tingkah laku atau perbuatan yang menimbulkan ketidaksenangan”.

Jika orang tua meninginkan tingkah laku yang positif dalam diri anak, maka berilah anak itu sesuatu yang menyenangkan sesudah perbuatan yang dikehendaki itu dilaksanakannya. Dorongan atau pengemabangan positif ialah hadiah-hadiah yang diterima atau timbul sesudah tingkah laku itu. Hadiah dapat digolongkan sebagai bersifat interisik (tindakan dan perbuatan anak yang dengan sendirinya memuaskan dan memenuhi tujuan dan kehendak anak). Atau yang bersifat ekstrinsik (kepuasan atau kesenangan yang bersifat dari sumber-sumber luar, tegasnya dari luar diri anak. Tujuan jangka panjang dari memberi hadiah atau ganjaran ialah untuk makin mengembangkan agar hadiah atau kesenangan itilebih bersifat intrinsik dari pada ekstrinsik. Atau supaya sumber kesenangan dalam melakukan suatu tindakan timbul dari perbuatan anak itu sendiri, tidak hanya dipuji atau di hadiahi orang lain.

Beberapa hal yang dapat orang tua jadikan pedoman dalam memeberikan hadiah diantaranya:

1) Pemberian hadiah yang bersifat konkrit, haruslah dikaitkan dengan dorongan-dorongan yang bersifat social seperti pujian, kasih saying, penghargaan dan perhatian yang bersifat perseorangan.

2) Ada tiga syarat umum untuk menghadiahi anak-anak:

Dalam kasus pertama anda lebih dulu memberi tahu anak, bahwa dia akan menerima suatu hadiah jika dia melaksanakan suatu perbuatan atau pekerjaan tertentu yang dikehendaki. Dalam kasus kedua, anda tidak mengatakan apapun mengenai itu sebelumnya, tetapi memberi hadiah setelah anak itu melakukan atau melaksanakan tingkah laku yang dikehendaki. Situasi ketiga adalah memberi suatu hadiah bukan untk sesuatu tingkah laku yang tertentu, tapi hanya karena anda menyukai anak itu atau menyukai caranya bertingkah laku secara umum. Untuk kondisi pertama, lebih bijaksana dilakukan kalau anak jarang melakukan atau melaksanakan tingkah laku yang anda kehendaki, karena rendahnya motivasi, karena rasa takut, cemas atau kesukaran khusus lainnya. Kondisi kedua bisa dilakukan, kalau anda ingin memperbesar frekwensi dari suatu tingkah laku yang dikehendaki, yang sudah terjadi dengan teratur. Kondisi ketiga lebih baik dilakukan kalau anda ingin menunjukkan penghargaan yang umum terhadap tingkah laku anak.

3) Gunakanlah segala sesuatu apa saja yang di senangi dan di gemari oleh anak sebagai suatu hadiah. Makin banyak yang anda ketahui tentang anak, akan lebih pandai dan bijaksanalah anda untuk menemukan jenis-jenis ganjaran yang efektif.

4) Sistematis dalam memberi hadiah: spesifik, buat catatan yang bersifat menetap.

5) Suatu kesalahan umum yang bayak diperbuat ialah menuntut terlalu banyak dengan hadiah atau ganjaranyang terlalu kecil, di kala kita mulai mengajarkan sesuatu yang banyak kepada anak.

Suatu perangkap yang harus dihindari dalam pemberian hadiah-hadiah ialah kalau gagal mengurangi hadiah itu secara mantap, sebagai yang bersumber dari luar. Stelah bertahap , sumber hadiah atau kepuasaan itu mestilah makin terpusat dari dalam diri si anak, yaitu kepuasan diri sendiri. Tidak perlu dikatakan lagi kalau orang tua terus menerus mengahadiahi segala sesuatu yang diperbuat si anak, maka anda akan menghadapi resiko yang berbahaya, yaitu membesarkan seorang anak yang manja dan culas hanya bekerja untuk suatu hadiah. Hadiah-hadiah haus digunakandengan moderat, secukupnya. Tidak berlebih-lebihan dengan tujuan jangka panjang.

1 komentar:

  1. Mas ini sumbernya ngambil dari buku apa?

    BalasHapus

POSTING TERBARU