Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Jumat, 10 Oktober 2008

Peranan Orang Tua

Peranan Orang Tua

1. Pengertian Orang Tua

Secara garis besar yang dimaksud Orang Tua adalah orang – orang dewasa sebagai pendidik utama dan pertama dalam lingkungan keluarga, utama karena pengaruh mereka amat mendasar dalam perkembangan kepribadian anaknya, pertama karena orang tua adalah orang pertama dan paling banyak melakukan kontak dengan anaknya.

Sehubungan dengan orang tua sangat erat kaitannya dengan keluarga. Keluarga berasal dari kata kula dan warga, kula artinya abdi/hamba, sedangkan warga artinya orang yang berhak berbicara atau bertindak, keluarga itu terdiri dari pribadi ayah, Ibu, anak dan diikut sertakan nenek dan kakek.

Jadi keluarga ialah merupakan kesatuan-kesatuan kemasyarakatan yang paling kecil. Sebagai suatu kesatuan, maka ikatan didasarkan atas perkawinan dimana tiap-tiap anggota mengabdikan dirinya kepada kepentingan dan tujuan keluarga dengan rasa kasih sayang dan penuh tanggung jawab. Dengan demikian anggota keluarga meliputi ; Ayah, ibu, dan anak-anaknya.

Reymond. W. Murray mengemukakan fungsi keluarga sebagai berikut :

a. Kesatuan keturunan (biologis)

b. Kebahagiaan bermasyarakat

c. Berkewajiban untuk meletakkan dasar pendidikan

d. Rasa keagamaan dan kemauan

e. Rasa kesukaan kepada keindahan

f. Kecakapan berekonomi

g. Pengetahuan penjagaan diri pada si anak

Pada umumnya pendidikan dalam keluarga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adannya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.

Dalam pengertian di atas, salah satunya area yang dianggap sangat penting oleh orang tua dalam bidang akademis. Karena sebagian orang tua yang memiliki putra-putri berprestasi adalah memahami anak ketika belajar, masalah belajar, selalu mendampingi anak dan menjadi teman diskusi. Dalam hal ini orang tua selalu berusaha untuk mendampingi anak, memberi arahan atau bantuan jika dia mengalami kesulitan.

Perlu disampaikan bahwa aktivitas mendampingi atau menemani anak hanya terjadi pada orang tua yang anaknya bersekolah disekolah dasar. Aktivitas ini tampaknya memberikan pengaruh yang besar, terutama dikarenakan anak masih suka dengan aktivitas-aktivitas bermain. Pendampingan memberi suasana yang mendukung anak untuk benar-benar belajar.

Sebenarnya yang bertanggung jawab bagi pendidikan anak yaitu orang tua, sekolah, masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama. Untuk mempersiapkan anak dan generasi muda bagi perwujudan dirinya dimasa yang akan datang. Namun mengapa sering terjadi masing-masing berjalan sendiri bahkan disatu sisi sering terasa bertentangan atau saling menghambat. Akibatnya terjadi saling menuduh dan menyalahkan satu sama lainnya. hal itu tidak perlu terjadi seandainya setiap pihak menyadari akan posisi dan peranan masing-masing secara proporsional. Komunikasi antara ketiga pihak merupakan salah satu mata rantai yang hilang dan harus dicari lalu diterapkan secara tepat.

Mengenai kewajiban dan tanggung jawab orang tua untuk mendidik dan membimbing perkembangan anak-anaknya, Nabi bersabda :

ﻢﻮﻴ ﻪﻧﻋﻖﻌﻴ ﻡﻼﻐﻠﺍ ﻢﻠﺴﻮ ﻪﻴﻠﺎﻋ ﷲﺍﻰﻠﺼ ﷲﺍ ﻞﻮﺴﺭ ﻞﺎﻗ : ﻞﺎﻗ ﻪﻧﻋ ﷲﺍﻲﻀﺭﺲﻧﺍﻦﻋ

ﻪﺷﺍﺭﻓﻞﺯﻋﻦﻳﻧﺴﻊﺴﺘﻎﻠﺑﺍﺫﺎﻓ.ﺏ ﺪﺍ ﻦﻳﻧﺳ ﺖﺳ ﻎﻟﺑﺍﺫﺎﻓ ﻯﺫﻻﺍﻪﻧﻋ ﻂﺎﻤﻴﻭﻰﻣﺴﻴﻭ ﻊﺒﺎﺴﻠﺍ

ﺫﺧﺍﻢﺜ ﻩﻮﺑﺍﻪﺟﻭﺯ ﺔﻧﺳ ﺓﺭﺸﻋ ﺖﺴ ﻎﻟﺒﺍﺫﺎﻓ ﺓﻼﺼﻟﺍﻰﺎﻋﺐﺮﻀ ﺔﻧﺴ ﺓﺭﺷﻋ ﺚﻼﺛ ﻎﻠﺑﺍﺬﺎﻓ

ﻰﻔ ﻚﺑ ﺍﺬﻋﻮ ﺎﻴﻧﺩﻠﺍﻰﻓ ﻚﺗﻧﺗﻓ ﻦﻣ ﷲﺍ ﺎﺑ ﺬﻭﻋﺃ ﻚﺘﺣﻜﻧﺍﻮ ﻚﺘﻣﻟﻋﻭ ﻚﺗﺑﺪﺍﺪﻗ : ﻞﺎﻗﻮ ﻩﺪﻴﺒ

﴾ﻦﺎﺑﺣﻦﺑﺍﺍﻩﺍﻭﺮ﴿ .ﺓﺮﺧﻻﺍ

Artinya :

“Anas mengatakan bahwa Rasulullah bersabda : Anak itu pada hari ke tujuh dari kelahirannya disembelihkan akiqohnya, serta diberi namanya dan disingkirkan dari segala kotoran-kotoran. Jika ia telah berumur 6 tahun ia dididik beradab susila, jika ia telah berumur 9 tahun dipisahkan tempat tidurnya dan jika telah berumur 9 tahun dipisahkan tempatnya tidurnya dan jika telah berumur 13 tahun dipukul agar mau sembahyang (diharuskan). Bila ia telah berumur 16 tahun boleh dikawinkan, setelah itu ayah berjabatan tangan dengannya dan mengatakan : “saya telah mendidik, mengajar dan mengawinkan kamu, saya mohon perlindungan kepada Allah dari fitnahan-fitnahan di dunia dan siksaan di akhirat .”

2. Peranan Bapak

Suatu kenyataan yang kita hadapi sekarang ini ialah bahwa jutaan kaum bapak tidak mau tahu soal intern rumah tangga, demikian juga pendidikan anak-anaknya. Ribuan kaum bapak ternyata tidak bisa bergaul akrab dengan anak-anaknya terutama sekali dengan anak laki-laki. Banyak kaum bapak yang beranggapan bahwa urusan dalam rumah tangga itu hanyalah tugas yang enteng, dapat dikerjakan setiap orang, entah siapa saja bisa mengerjakannya. Hal ini yang kadang-kadang kaum ibu menjadi patah hati, tidak bersemangat, dan sangat jengkel.

Ikut sertanya seorang ayah dalam merawat dan mendidik anak-anaknya, bukan hanya persoalan dari segi keadilan yang harus dipikul bersama dengan seorang ibu, khususnya bila sang isteri itu juga adalah seorang pekerja pencari nafkah, jadi, seorang ibu mengharapkan suaminya harus menganggap bahwa semua pekerjaan itu penting bermanfaat, dan merupakan tantangan baginya, serta sama nilai dengan pekerjaan dikantor bisnis apapun bentuknya.

Seorang ayah sungguh diharapkan agar mempunyai kesadaran bahwa ia juga perlu turut bertanggung jawab dalam perawatan, penjagaan, pendidikan dan bimbingan anak-anaknya bersama-sama dengan sang isteri.

Adapun ditinjau dari fungsi dan tugasnya dapat dikemukakan bahwa peranan ayah dalam pendidikan anak - anaknya antara lain :

a. Sumber kekuasaan dalam keluarga

b. Penghubung intern dalam keluarga dengan masyarakat atau dunia luar

c. Pemberi perasaan aman bagi seluruh anggota keluarga

d. Pelindung terhadap ancaman dari luar

e. Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan

f. Pendidik dalam segi –segi rasional

Peranan ayah terhadap anaknya besar pula. Dimata anaknya ia seorang yang tertinggi gengsinya dan terpandai diantara orang-orang, ia seorang yang dikenalnya. Cara ayah itu melakukan pekerjaannya sehari-hari berpengaruh pada cara pekerjaan anaknya. Ayah merupakan penolong utama, lebih-lebih bagi anak yang agak besar, baik laki-laki maupun perempuan, bila ia mau mendekati dan dapat memahami hati anaknya.

3. Peranan Ibu

Mendidik anak adalah tugas yang sangat mulia .apabila seorang ibu memegang peranan penting dalam mendidik anak di lingkungan rumah tangga. Sebab ibulah yang hampir setiap hari berada di rumah. Seorang ibu adalah guru pertama dan paling penting bagi anak. Ibu harus menjadi tokoh utama dalam pekerjaan mendidik anak–anaknya. Dalam pergaulan bersama yang teristimewa ketika mereka masih kecil. Maka seorang ibu senantiasa menjadi pendidik dan teman mereka yang baik

Sejak seorang anak lahir, Ibunyalah yang selalu ada disampingnya. Oleh karena itu ia meniru perangai ibunya dan biasanya, seorang anak lebih cinta kepada ibunya, apabila ibu itu menjalankan tugasnya dengan baik. Ibu merupakan orang yang mula-mula dikenal anak, yang mula-mula menjadi temannya dan yang mula-mula dipercayainya. Apapun yang dilakukan ibu dapat dimaafkannya, kecuali apabila ia ditinggalkan. Dengan memahami segala sesuatu yang terkandung di dalam hati anak-nya, juga anak telah mulai agak besar, disertai kasih sayang, dapatlah ibu mengambil hati anaknya untuk selama-lamanya.

Mengenai peranan seorang ibu dalam pendidikan keluarga bahkan tuhan telah memerintahkan supaya keluarga menjadi tempat pendidik yang paling ampuh dan penting dari semuanya, inilah sekolah yang pertama disini, ibu atau bapak sebagai guru-gurunya, maka anak itu harus belajar segala pelajaran yang akan diajari sepanjang hidupnya pelajaran-pelajaran yang diperoleh dari orang tua dari orang tua antara lain :

a. Penghormatan

Rasa hormat dan menghormati dengan tulus ikhlas, sejak masih kecil anak-anak harus dididik dan diajar untuk menghormati orang tua, demikian juga kekuasaan orang tua itu patut dihargai anak-anaknya dengan selayaknya.

b. Ketaatan

Salah satu pelajaran penting untuk dipelajari anak ialah penurutan. Nabi Sulaiman yang bijaksana pernah berkata demikian, “Didiklah seorang anak menurut jalan yang patut baginya, sehingga pada masa tua ia tidak akan menyimpang dari jalan itu, ”seorang ibu memulai pengajarannya ketika anak itu masih bayi, harus mengendalikan kemauan dan tingkah laku anak itu sedemikian rupa sehingga menjadi anak taat dan penurut.

c. Pengendalian diri

Pengendalian diri ialah salah satu pelajaran penting yang perlu diajarkan seorang ibu kepada di dalam rumah tangga, karena seorang anak yang dapat mengendalikan diri berarti pintu kebahagian akan terbuka baginya.

d. Kejujuran

Sejak dari buaian anak-anak perlu dididik untuk mempraktekkan kejujuran, karena kejujuran adalah salah satu prinsip utama dalam membentuk tabiat, pada waktu anak-anak diajarkan jujur, maka saat itulah juga seorang ibu mengajar hukum-hukum kepada mereka.

Sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai :

a. Sumber dan pemberi rasa kasih sayang

b. Pengasuh dan pemelihara

c. Tempat mencurahkan isi hati

d. Pengatur kehidupan dalam rumah tangga

e. Pembimbing hubungan pribadi

f. Pendidik dalam segi emosional

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa peranan orang tua dalam kaitannya dengan pendidikan anak adalah sebagai pendidik pertama dan utama.

Menurut Abdul Hamid dan Hamid Halik wasiat Lukman Hakim kepada anaknya :

ﻚﻟﺬ ﻦ ﺍ ﻚﺒ ﺎﺼﺍﺎﻣ ﻰﺎﻋﺭﺑﺻﺍﻮ ﺮﻜﻧﻤﻠﺍﻦﻋ ﻪﻧﺍﻭ ﻒﻮﺭﻌﻣﻟﺎﺒﺮﻤ ﺃﻭ ﺓﻮﻠﺻﻠﺍﻢﻘ ﺍ ﻲﻧﺑﻴ

﴾١٧:ﻦﻣﻘﻠ ﺍ ﴿ ﺭﻮﻤﻻﺍ ﻢﺯﻋﻦﻣ

“Hai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah.”

Sehubungan wasiat Luqman Hakim di atas, Agama pada dasarnya berfondasikan cinta dan kasih sayang serta hormat menghormati antar sesama manusia. Peran ibu harus mengetahui bahwa agama bukan saja mengucapkan kalimah syahadah, beribadah dan menegakkan siar-siarnya, tetapi agama yang sebenarnya adalah kasih sayang bersumber dari jiwa kemanusian yang sangat dalam, yang terpancar dalam bentuk memuliakan orang lain dan bergaul dengan baik ditengah masyarakat. Kasih sayang beragama tidak bangkit dan tumbuh dengan mengisolasi diri dari kehidupan masyarakat, tetapi berkembang dalam kehidupan sesuai dengan perkembangan pribadi, merupakan suatu kepastian bahwa pengertian-pengertian agama berjalan seiring dengan tabiat jiwa anak dan berkembang sesuai dengan perkembangan pribadi, merupakan suatu kepastian bahwa pengertian-pengertian agama berjalan seiring dengan tabiat jiwa anak dan berkembang sesuai dengan perkembangan pikiran dan cakrawala pandang.

4. Keadaan Orang Tua Yang Berpengaruh Kepada Pendidikan Anak

Karena pembahasan ini adalah berhubungan dengan peranan orang tua terhadap minat belajar anak, maka keadaan orang tua yang berpengaruh terhadap pendidikan anak secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu :

a. Keadaan Obyektif Orang Tua

Dalam hal ini yang dimaksud keadaan obyektif orang tua antara lain, kondisi ekonomi orang tua, pendidikan orang tua dan status orang tua.

1) Keutuhan Orang Tua

Yang dimaksudkan dengan keutuhan keluarga ialah keutuhan dalam struktur keluarga, yaitu bahwa dalam keluarga adanya ayah disamping adanya ibu dan anak-anaknya. Keutuhan orang tua dapat dilihat dari lengkapnya anggota keluarga khususnya ibu dan ayah. Apabila tidak ada ayah atau ibu atau bahkan keduan-duanya, maka struktur keluarga seperti ini sudah tidak utuh lagi.

Selain keutuhan dalam struktur keluarga, dimaksudkan pula keutuhan dalam interaksi keluarga, jadi bahwa di dalam keluarga berlangsung interaksi sosial yang wajar (harmonis). Antara anggota keluarga tidak pernah atau jarang terjadi perselisihan, keluarga dapat saling berkomunikasi dan berkumpul dengan mudah secara harmonis.

Oleh kerana itu, keutuhan orang tua ini juga dapat berpengaruh terhadap ketenangan belajar anak, hal ini sesuai dengan pendapat M. Ngalim Purwanto MP.

Bahwa segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta peraturan-peraturan dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keutuhan keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar anak di sekolah.

2) Keadaan Ekonomi Orang Tua

Keadaan ekonomi orang tua tentulah mempunyai peranan yang cukup penting terhadap perkembangan anak-anak, karena dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak di dalam keluarganya itu lebih luas, maka ia mendapat kesempatan yang lebih luas untuk memperkembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat ia perkembangkan apabila tidak ada alat-alatnya.

Orang tua dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendalam kepada pendidikan anaknya apabila ia tidak disulitkan dengan perkara kebutuhan-kebutuhan primer kehidupan manusia. Oleh karena itu keadaan ekonomi orang tua sudah barang tentu akan dijadikan pertimbangan dalam menentukan jenis pendidikan maupun lembaga yang mengelolahnya bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya sesuai dengan yang ia kehendaki, sebab setiap sekolah mempunyai aturan yang berbeda dengan sekolah yang lain dalam menentukan besar kecilnya dana pendidikan yang dikelolahnya.

Tetapi status ekonomi bukanlah faktor mutlak dalam perkembangan sosial. Sebab hal ini juga bergantung kepada sikap orang tuanya dan bagaimana corak interaksi di dalam keluarga itu. Walaupun status ekonomi orang tua memuaskan, tetapi apabila mereka itu tidak memperhatikan didikan anak-anaknya atau senantiasa terjadi percekcokan, maka hal itu juga tidak menguntungkan bagi perkembangan sosial anak-anaknya.

3) Tingkat Pendidikan Orang Tua

Dalam kaitannya dengan pendidikan anak, orang tua yang tergolong berpendidikan akan sangat berarti bagi pendidikan anak, dimana sering kali tingkat pendidikan orang tua dapat mempengaruhi pandangan dan sikap terhadap pendidikan anak-anaknya. orang tua yang tergolong berpendidikan akan dapat membimbing, membantu serta mengarahkan pendidikan anaknya hingga ketingkat yang lebih tinggi sebesar kemampuan yang dimilikinya. Sedangkan orang tua yang tergolong kurang berpendidikan akan sangat memungkinkan berpandangan bahwa pendidikan itu tidak begitu penting bagi kehidupan, bahkan cukup menyekolahkan anaknya sebatas sekolah dasar saja.

4) Status Sosial Orang Tua

Status sosial yang dimaksud di sini adalah kedudukan orang tua dalam jajaran interaksi (pergaulan) sosial dalam masyarakat dimana orang tua itu hidup status sosial orang tua ini dapat mempengaruhi pendidikan anak antara lain dapat mempengaruhi bagaimana orang tua memperhatikan, memikirkan, serta memberikan wawasan kependidikan kepada anak-anaknya.

Pengalaman-pengalamannya dalam interaksi sosial dalam keluarganya turut menentukan pula cara-cara tingkah lakunya terhadap orang lain dalam pergaulan sosial diluar keluarganya, di dalam masyarakat pada umumnya. Apabila interaksi sosialnya dalam kelompok-kelompok karena beberapa sebab tidak lancar atau tidak wajar, kemungkinan besar, bahwa interaksi sosialnya dengan masyarakat pada umumnya juga berlangsung dengan tidak wajar. Hal ini dapat kita lihat dalam perbincangan mengenai pengaruh keluarga terhadap perkembangan tingkah laku yang menyeleweng.

Jadi, selain dari peranan umum kelompok keluarga sebagai kerangka sosial yang pertama, tempat manusia berkembang sebagai manusia sosial, terdapat pula peranan-peranan tertentu di dalam keadaan-keadaan keluarga yang dapat mempengaruhi perkembangan individu sebagai makhluk sosial.

b. Keadaan Subyektif Orang Tua

Yang dimaksud keadaan subyektif orang tua adalah keadaan yang berkaitan dengan kepribadian orang tua, yang antara lain meliputi sikap kepemimpinan orang tua, cara orang tua mendidik anak, cara memberi pelayanan dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin keluarga, maka sikap kepemimpinannya seringkali dominan dalam mempengaruhi pendidikan anak-anaknya.

Adapun secara jelas kondisi subyektif orang tua antara lain sebagai berikut :

1) Sikap Kepemimpinan Orang Tua

Yang dimaksud dengan sikap kepemimpinan orang tua disini adalah sikap dan cara-cara serta kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditempuh orang tua untuk membimbing dan mendidik anaknya. hal-hal tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan anak dalam belajar. Dalam hal ini kita mengenal adanya tiga macam sikap kepemimpinan orang yang dapat mempengaruhi pendidikan anak yaitu : sikap otoriter, sikap demokratis dan sikap laiser faire.

Sikap demokratis lebih menguntungkan dan memberikan hasil yang lebih baik dibanding dengan sikap otoriter dan laiser faire. Dengan sikap demokratis ini anak diberikan kebebasan (dalam batas-batas tertentu) untuk menentukan pilihan dan mengeluarkan pendapat serta inisiatifnya, juga senantiasa memperoleh bimbingan, pengarahan, serta perhatian yang cukup terhadap proses belajar anak.

2) Sikap dan Kebiasaan Orang Tua

Peranan keadaan keluarga terhadap perkembangan sosial anak-anak tidak hanya terbatas pada situasi sosial ekonominya atau pada keutuhan struktur dan interaksinya saja. Juga cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulan dan interaksinya saja. Juga cara-cara dan sikap-sikap dalam pergaulannya memegang peranan yang cukup penting di dalamnya. Hal ini mudah diterima apabila kita ingat bahwa keluarga itu sudah merupakan sebuah kelompok sosial dengan tujuan-tujuan, struktur, norma-norma, dinamika kelompok, termasuk cara-cara kepemimpinannya yang sangat mempengaruhi kehidupan individu yang menjadi anggota kelompok tersebut.

Sikap dan cara bertingkah laku orang tua yang dalam hal ini menjadi pimpinan kelompoknya sangat mempengaruhi suasana interaksi keluarga, dan dapat merangsang perkembangan ciri-ciri tertentu bagi pribadi anaknya.

3) Cara Orang Tua Membimbing Anak

Cara orang tua mendidik anaknya besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Dan kita semua tentu telah maklum bahwa pengaruh keluarga terhadap pendidikan anak-anak berbeda-beda. Sebagai orang tua mendidik anak-anaknya menurut pendirian dan perkembangan modernisasi, sedangkan sebagian lagi masih menganut pendirian-pendirian yang kuno atau kolot.

Keadaan tiap-tiap keluarga berlainan satu sama lain. Keadaan dalam keluarga yang bermacam-macam coraknya itu akan membawa pengaruh yang berbeda pula terhadap pendidikan anak-anak. Segala sesuatu yang ada dalam keluarga, baik yang berupa benda-benda dan orang-orang serta peraturan-peraturan dan adat istiadat yang berlaku dalam keluarga itu sangat berpengaruh dan menentukan corak perkembangan anak-anak. Bagaimana cara mendidik yang berlaku dalam keluarga itu, demikian pula cara anak itu mereaksi terhadap lingkungannya.

Misalnya : anak itu sering ditertawakan dan diejek jika tidak berhasil melakukan sesuatu, maka dengan tidak sadar ia akan selalu berhati-hati tidak akan mencoba melakukan hal yang baru atau yang sukar. Ia akan menjadi orang yang selalu diliputi oleh keragu-raguan. Jika di dalam lingkungan keluarganya ia selalu dianggap dan dikatakan masih kecil, kemungkinan besar anak itu akan menjadi orang yang selalu merasa kecil, tidak berdaya, tidak sanggup mengerjakan sesuatu. Ia akan berkembang menjadi orang yang bersifat masa bodoh, kurang mempunyai perasaan percaya diri.

Sebaliknya, jika anak itu dibesarkan dan dididik oleh orang tua atau lingkungan keluarga yang mengetahui akan kehendaknya dan berdasarkan kasih sayang kepadanya, maka ia akan tumbuh menjadi anak yang tenang dan mudah menyesuaikan diri terhadap orang tua dan anggota-anggota keluarga lainnya, serta dengan teman-temannya. Wataknya akan berkembang dengan tidak mengalami kesulitan-kesulitan yang besar.

Mengingat buruknya akibat tersebut, dan tidak sesuai lagi dengan alam kemerdekaan kita sekarang ini, maka perlu kiranya disini diberikan beberapa petunjuk untuk mengurangi perasaan kurang percaya diri :

a) Janganlah sering melemahkan semangat anak dalam usahanya hendak berdiri sendiri.

b) Janganlah memalukan atau mengejek anak-anak di muka orang lain.

c) Jangan terlalu membeda-bedakan dan berlaku “pilih kasih”

d) Jangan memanjakan anak, tetapi tetap memperhatikannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU