Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Jumat, 19 September 2008

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Agama Islam termasuk salah satu bidang studi yang diajarkan di sekolah. Dengan demikian keberadaan pendidikan agama Islam telah turut pula berfungsi dalam menyempurnakan tercapainya tujuan umum pendidikan nasional. Hal ini sesuai dengan kebijaksanaan pemerintahan untuk memasukkan pendidikan agama Islam ke dalam kurikulum di sekolah-sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi.

Oleh karena itu, dalam pembahasan ini penulis akan memfokuskan pada masalah mengajar dan belajar agama, yaitu yang dilaksanakan di sekolah. Belajar agama Islam, sehingga interaksi antara guru dan siswa dalam proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan baik dan lancar dan sebagai konsekwensinya maka akan dapat menunjang tercapainya tujuan pendidikan agama Islam secara optimal serta akan menunjang pula tercapainya tujuan pendidikan nasional.

1. Kegiatan Mengajar

Pada setiap proses pendidikan aktivitas mengajar merupakan tugas professional guru, yaitu untuk menyampaikan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sebagainya kepada siswa. Selain itu tugas professional guru adalah sebagai seorang pendidik. Pendidik pada hakekatnya merupakan komponen yang betanggung jawab dalam proses pendidikan agar proses pendidikan tersebut mengarah pada tujuan yang diharapkan.

Sedangkan menurut Hoogueld : “Mendidik adalah membantu anak supaya cuckup cakap menyelenggrakan tugas hidupnya atas tanggung jawabnya sendiri”.

Uraian ini menunjukkan bahwa secara teoritis pengertian antara mendidik dan mengajar adalah sama-sama termasuk dalam proses pendidikan yang dilaksanakan. Guru dalam melaksanakan tugasnya tersebut tidak selamanya dapat melakukan dengan lancar dan baik, sebab banyak persoalan yang akan dihadapinya, baik yang menyangkut latar belakang pendidikan siswa sebelumnya, sifat maupun sikapnya serta tingkat kecerdasan masing-masing. Bila guru telah mampu menghadapi serta mengatasi persoalan-persoalan tersebu,t maka akan memperlancar tugasnya dalam mengajar maupun dalam mendidik siswa. Begitu pula dengan profesi seseorang sebagai guru agama Islam, maka persoalan tersebut juga akan dihadapinya bahkan semakin berat, sebab dalam bertugas guru agama dituntut untuk menanamkan niali-nilai ajaran agama ke dalam diri siswa dalam rangka membentuk kepribadiannya agar sesuai dengan hukum-hukum ajaran agama.

Untuk mewujudkan terlaksananya pendidikan agama Islam yang efektif dan efisien, maka langkah yang mula-mula perlu diperhatikan adalah menyusun rencana pengajaran dalam bentuk tertulis sebelum melaksanakan tugas mengajar, dan rencana pengajaran ini biasanya disebut juga dengan persiapan mengajar.

Berdasarkan penjelasan di atas maka jelaslah bahwa menyusun rencana pengajaran atau membuat persiapan mengajar sangat penting dilakukan oleh guru, sebab dapat memperlancar arah tugas yang akan dilaksanakan.

Persiapan mengajar yang dilakukan guru terhadap situasi umum dan terhadap murid yang akan dihadapi merupakan persiapan dapat dilakukan secara tidak tertulis atau hanya merupakan persiapan fisik atau mental. Sedangkan menyusun tujuan yang akan dicapai, bahan yang akan diajarkan, metode mengajar yang akan dipakai, alat-alat bantu yang dipergunakan dalam mengajar serta tehnik evaluasi yang digunakan, semuanya merupakan bentuk persiapan mengajar yang disusun secara tertulis.

Yang harus diperhatikan oleh guru agama bahwa pelaksanaan mengajar agama Islam pada hakekatnya merupakan aktivitas yang diarahkan untuk membentuk kepribadian siswa yang sesuai dengan ajaran Islam. Dalam hal ini berarti perubahan dan perkembangan siswalah yang dijadikan sebagai pedoman untuk merumuskan tujuan pengajaran.

Sedangkan bentuk perubahan yang harus dicapai setelah pengajaran agama berlangsung, yaitu harus mencakup tiga aspek secara seimbang, baik aspek kognitif (pengetahuan agama), aspek afektif (sikap mental), maupun aspek psikomotor (tindakan/ perbuatan relegius). Langkah untuk mencapai ketiga aspek ini, maka pendidikan agama harus dilaksanakan secara teori dan praktek.

2. Kegiatan Belajar

Belajar merupakan salah satu proses dalam aktivitas pendidikan serta keberadaannya menjadi aktivitas dalam pendidikan dan menjadi interaksi dengan proses mengajar. Belajar itu sendiri adalah kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi, serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh guru yang berakhir pada kemampuan anak menguasai bahan pelajaran yang disajikan.

Untuk mencapai tujuan belajar yang optimal, maka peran aktif siswa dalam proses belajar-mengajar sangat diperlukan. Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan serta peran siswa dalam proses belajar mengajar adalah sangat penting. Sehubungan dengan hal ini, maka perlu sekali siswa melakukan suatu persiapan belajar yang matang sebelum mengikuti pelajaran. Selain itu untuk mencapai hasil belajar dengan baik, maka penting sekali prinsip-prinsip yang berlaku dalam belajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Dalam belajar siswa memerlukan bantuan dan bimbingan orang lain, sehingga dapat menumbuhkan minat yang besar untuk belajar serta dapat membangkitkan motivasi yang kuat pada diri siswa dalam belajar.

b. Dalam belajar siswa harus mengetahui arah tujuan kegiatan belajar.

c. Dalam belajar, siswa harus mampu menangkap, memahami serta menganalisa bahan pelajaran yang diterimanya, sehingga siswa harus memiliki kecerdasan yang kuat.

d. Siswa harus mampu mengatasi kesulitan yang berkaitan dengan belajarnya.

e. Siswa harus memiliki kedisiplinan yang besar dalam melakukan belajarnya.

Kesimpulan diatas merupakan bentuk penjabaran secara optimal dari pengertian belajar sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Tercapainya tujuan proses belajar mengajar hanya dapat diketahui jika siswa secara nyata telah menguasai ilmu pengetahuan yang diajar guru kepadanya serta dapat mewujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU