Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Selasa, 02 September 2008

Masalah Pengelolaan Kelas

Masalah Pengelolaan Kelas

Ada 2 permasalahan pengelolaan kelas yaitu masalah individual dan masalah kelompok. Kategori individu dalam pengelolaan kelas menurut Rudolf Drelkurs dan Pearl Cassel yang mempunyai maksud dan tujuan. Setiap individu mempunyai tujuan menjadi dan merasa berguna. Jika individu ini merasa putus asa dalam mengembangkan rasa memiliki harga diri melalui nilai yang dapat diterima secara sosial, ia akan berkelakuan buruk.

Ada empat tipe perilaku yang kurang baik, yaitu :

a. Perilaku untuk menrik perhatian

b. Perilaku untuk mencari kekuasaan

c. Perilaku untuk melampiaskan dendam

d. Perilaku yang memperlihatkan ketidakmampuan

Untuk membedakan keempat tipe diatas, dapat dilakukan melalui pengamalan terhadap gejala yang muncul. Drelkurs dan Cassel mengajukan satu teknik yang cukup sederhana untuk mendeteksi gejala tersebut, dengan parameter sebagai berikut :

a. Jika guru merasa terganggu oleh tindakan murid, mungkin tujuan murid adalah untuk mencari perhatian.

b. Jika guru mersa dikalahkan atau terancam, tujuan muri tersebut mungkin untuk mencari kekuasaan.

c. Jika guru merasa tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan dendam.

d. Jika guru merasa tidak berdaya, tujuan anak mungkin untuk menunjukkan ketidakmampuannya.

Masalah kelompok adalah merupakanmasalah yang sumber penyebabnya adalah kelompok. Lois U Johnson dan Marry A. Bany mengemukakan enam kategori masalah kelompok dalam pengelolaan kelas. Masalah-masalah yang dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Kelas kurang kohesif, misalnya perbedaan jenis kelamin, suku dan tingkatan sosio ekonomi dan sebaginya.

b. Kelas mereaksi negatif terhadap salah satu anggotanya, misalnya, mengejek anggota kelas yang dalam pengajaran seni suara, menyanyi dengan suara sumbang.

c. Membesarkan hati anggota kelas yang justru melanggar norma kelompok, misalnya pemberian semangat kepada badut kelas.

d. Kelompok cenderung mudah dialihkan perhatiannya dari tugas yang tengah digarap.

e. Semangat kerja rendah, misalnya semacam aksi protes kepada guru karena mengangap tugas yang diberikan kurang adil.

f. Kelas kurang mampu menyesuaikan diri dengan keadaan baru, misalnya gangguan jadwal atau guru kelas terpaksa diganti smentara oleh guru lain, dan sebagainya. (Rohani : 2004, 126)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU