Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Kamis, 05 Juni 2008

Model Pendidikan Yang toleran

Model Pendidikan Yang Toleran

Pendidikan yang toleran bisa dikembangkan melalui dua model, yaitu :

1. Model aksi-refleksi-aksi dalam pelajaran yang lebih mementingkan pada siswanya. Model ini diterapkan oleh Paulo Freire yang lebih mementingkan pembelajaran terhadap masalah (problem possing) dengan paradigma kritis menggunakan dialog antara fasilitator dan pembelajar yang membawa percakapan yang bernilai pengalaman yang divergen, harapan, perspektif, dan nilai (value). Dialog yang digunakan bukan bermakna sebatas teknik dan taktik, tetapi komunikasi kritis yang berarti merefleksikan bersama (guru dan siswa) apa yang diketahui dan tidak diketahui kemudian bertindak kritis untuk menstransformasi realitas (Freire dan Shor, 2001 : 51-52) yang utama dari paradigma ini adalah pengakuan manusia sebagai hal yang sentral bagi sebuah perubahan yang memandang sistem dan struktur sosial secara kritis (Mansour Fakih, 1996 : 63). Pembelajaran ini bersifat membebaskan yang memiliki prasyarat (diilhami dari sebuah buku Riset Partisiparis Riset Pembebasan, karya Walter Fernandes dan Rajesh Tandon), diantaranya :

· Tidak ada pembagian kekuasaan, kedudukan guru dan siswa adalah seimbang dalam mencari kebenaran ilmu pengetahuan (setara dalam srawung ilmiah). Keduanya merupakan mitra belajar sehingga harus saling menghormati.

· Penggunaan sumber daya setempat (khususnya murid, sumber belajar, bahan ajar, dan lainnya terkait dengan pembelajaran). Sumber dari luar siswa hanya memainkan peran pendukung dan tidak lagi merupakan sumber dominan dan kontrol.

· Pembelajaran mengakar pada konteks setempat, model rancangan dan pelaksanaan model secara sederhana dan relevan ebrasal dari masukan siswa.

· Menekankan pada pembelajaran kualitatif dan berorientasi pada proses.

2. Model Ignasioan. Model ini hampir mirip dengan yang pertama, langkah yang ditempuh meliputi : konteks, pengalaman (langsung maupun tidak langsung), refleksi (daya ingat, pemahaman, daya imajinasi dan perasaan) untuk menangkap arti dan nilai hakiki dari apa yang dipelajari, aksi (tindakan ini mengacu kepada pertumbuhan batin manusia berdasarkan pengalaman yang telah direfleksikan dan mengacu juga kepada yang ditampilkan), dan evaluasi (Drost, 1999 : 45-58).

Dua model diatas memang belum biasa dikembangkan di sekolah-sekolah Islam tetapi bisa diterapkan. Hal ini tentunya tergantung dari kesiapan para pengajar dari segi pengetauan dan pengalaman masing-masing.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU