Mungkin Ini Yang Bisa Saya Bagi Kepada Anda
Jika Kurang Berkenan Dengan Artikel Yang Saya Posting, Saya Menghaturkan Maaf, Bila Anda Puas Dan Senang Dengan Artikel Saya Sudah Selayaknya Anda Bisa Berbagi Kepada Anak Yatim Piatu Atau Tetangga Anda Yang Kurang Mampu. Saya yakin dengan berbagi, masalah atau hal yang kita kerjakan akan cepat selesai.

Senin, 30 Juni 2008

Masa Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dimana masa ini mengandung banyak perubahan alamiah secara langsung maupun tidak langsung yang berdampak juga pada permasalahan remaja. Proses perkembangan remaja yang menyebabkan terjadinya perubahan fisik kadang-kadang menimbulkan rasa cemas, takut, malu merasa lain dan remaja menjadi bingung karena mereka tidak mempunyai pengetahuan yang cukup dan informasi yang jelas. Sementara itu, terjadi pula perubahan minat dan tingkah laku remaja seperti : mulai memperhatikan penampilan dirinya, mulai tertarik lawan jenisnya dan berusaha menarik perhatian yang lain, bertingkah genit dan lebih bebas.
Gaya hidup dalam masa remaja biasanya melibatkan perilaku beresiko yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lain pada masyarakat. Keadaan ini menyebabkan berbagai kasus morbiditas, banyak dijumpai pada remaja terutama kehamilan yang tidak diharapkan, penyakit menular seksual (PMS), penyalahgunaan zat adiktif, merokok, putus sekolah, depresi, lari dari rumah, kekerasan fisik dan kenakalan remaja untuk mencari perhatian yang tidak didapatkan di rumah.
Di sisi lain, untuk menghindari ketakutan dan pemikiran-pemikiran yang berlebihan mengenai seksual dari penyakit menular sexual, maka diperlukan adanya perilaku yang bertanggung jawab dari remaja dalam menghadapi pertumbuhan dan kemajuan zaman. Perilaku yang bertanggung jawab tentu tidak sekedar meniru-niru perilaku lain, terlebih yang dianggap modern karena merasa malu atau rendah diri sebab disebut ketinggalan zaman, kolot dan kampungan dalam pergaulan.
Remaja di manapun aktif secara seksual pada phase kedua dalam kehidupannya dan peran orang tua dalam menghadapi tantangan untuk mempersiapkan generasi berikutnya akan sama, baik di negara maju maupun negara berkembang.
Namun remaja sering kali mengabaikan informasi dan pelayanan-pelayanan kesehatan yang mereka butuhkan terutama tentang kesehatan reproduksi dan seksual remaja. Jika menghitung kuantitas penduduk remaja, jumlahnya tidak dapat diremehkan. Berdasarkan data profil kesehatan Indonesia tahun 2000, jumlah dan persentase penduduk Indonesia golongan usia 10-24 tahun (definisi WHO untuk young people) adalah 64 juta atau sekitar 31 persen dari total seluruh populasi, sedangkan khusus untuk remaja usia 10-19 tahun (definisi WHO utuk adolescence), berjumlah 44 juta atau 21 persen.
Sedangkan untuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja, Indonesia Sehat tahun 2010 memiliki target menurunkan prevalensi permasalahan remaja secara umum karena anemi pada remaja dan target agar remaja mendapat akses pelayanan reproduksi remaja melalui jalur sekolah.
Dari hasil penelitian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melakukan penelitian tentang persepsi seks bebas dan kesehatan reproduksi remaja SMA se DKI Jakarta pada bulan Maret-Mei 2002, diketahui 37 % responden wanita tidak mengetahui fungsi organ reproduksi pria, 36 % reponden pria tidak mengetahui fungsi organ reproduksi wanita dan sebesar 34 % tidak mengetahui apa itu penyakit menular seksual (PMS).
Sedangkan berdasarkan hasil studi PKBI Jambi tentang perilaku seksual remaja di empat kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan) tahun 2005 mencatat 35 % remaja memperoleh informasi seksualitas pertama kali dari teman, 22 % dari film biru, 11 % dari buku dan 10 % dari pacar, selebihnya dari guru dan orang tua. (Rasyid, 2007)
Menurut poling yang dilakukan harian Jawa Pos menghasilkan data bahwa dari 297 remaja di Surabaya, ternyata 11 % dari siswa dan 6 % dari siswi bersikap permisif (boleh-boleh saja) dalam pacaran dan 3 % siswa serta 18 % siswi sudah tidak peduli lagi terhadap keperawanan. Dari poling yang sama juga didapatkan bahwa hanya 19,2 % remaja menyadari peningkatan tertular PMS bila memiliki pasangan sex lebih dari satu, 51 % mengira bahwa mereka akan beresiko tertular HIV/AIDS hanya bila berhubungan seks dengan pekerja seks komersial (PSK).
Dari data laporan guru BP SMA Negeri I Krembung Sidoarjo yang mengalami Drop Out (DO) selama 3 tahun terakhir sebanyak 4 orang diantaranya : pada tahun pelajaran 2005/2006 1 orang dikeluarkan karena hamil, tahun pelajaran 2006/2007 1 orang dikeluarkan karena sering bolos dan pada tahun 2007/2008 2 orang dikeluarkan atas permintaan orang tua.

Pada tahun ajaran 2005/2006, siswa-siswi yang mengalami mutasi keluar dengan alasan tanpa keterangan sebanyak 6 orang, pindah ke sekolah lain 18 orang dan mutasi dari SMA lain (masuk) sebanyak 8 orang.
Pada tahun ajaran 2006/2007, siswa-siswi yang mengalami mutasi keluar dengan alasan tanpa keterangan sebanyak 2 orang, pindah ke sekolah lain 5 orang dan mutasi dari SMA lain (masuk) sebanyak 15 orang.
Pada tahun ajaran 2007/2008, siswa-siswi yang keluar dengan alasan tanpa keterangan tidak ada, pindah sekolah sebanyak 11 orang dan mutasi dari sekolah lain 8 orang.
Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan di SMA Negeri I Krembung Sidoarjo pada bulan Juni 2008 dari 10 remaja kelas I dan II mengenai pengetahuan remaja tentang pendidikan seks didapatkan yang berpengetahuan baik sebanyak 4 orang (40 %) dimana 2 orang memperoleh informasi tentang seks dari guru dan 2 orang memperoleh informasi dari orang lain, yang berpengetahuan cukup sebanyak 4 orang (40 %) semuanya memperoleh informasi dari guru dan 2 orang (20 %) berpengetahuan kurang, 1 orang memperoleh informasi dari orang lain dan 1 orang memperoleh informasi seks dari media cetak.
Dari data-data di atas menunjukkan bahwa kurangnya pengetahuan remaja tentang pendidikan seks, kurangnya pengetahuan remaja tentang pendidikan seks dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya : pengaruh dari orang lain (orang tua, teman sebaya, teman dekat, guru), media massa, pengaruh kebudayaan, lembaga pendidikan, umur, jenis kelamin, pendidikan dan sikap remaja.
Aspek seksual sudah menjadi naluri manusia, tetapi jika disalurkan secara benar di dalam pernikahan akan menghasilkan kestabilan tanggung jawab. Kegiatan seks yang dilakukan sembarangan di laur pernikahan membawa akibat buruk yang dapat menghancurkan hidup suatu individu atau masyarakat. Seks bebas menimbulkan terjadinya aborsi, kelahiran anak di luar nikah, penyakit kelamin dan bahkan virus AIDS. Sehingga solusi idealnya adalah pemahaman terhadap kesehatan reproduksi dan pendidikan seks baik melalui orang tua, sekolah, media massa, media elektronik, dan memberikan pemahamanan kepada masyarakat yang selama ini beranggapan seks adalah tabu, norak dan menjijikkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

POSTING TERBARU